
Anandita tersenyum setelah semua orang pergi. Wajahnya berseri meskipun dia kesulitan untuk menoleh karena cervical collar yang ada di lehernya. Perlahan, Dita menurunkan tubuhnya. Dia hendak berbaring karena dia sudah merasa sangat leleh.
Krieetttt!
Tepat ketika kepalanya sudah menyentuh bantal. Pintu ruang rawatnya terbuka dari luar. Dita tersenyum, namun sebisa mungkin dia menyembunyikan senyumnya dari orang yang baru saja datang.
"Assalamualaikum!" ucap Haris masuk ke dalam kamar inap Anandita.
"Wa'alaikumssalam!" jawab Anandita lemah.
"Bagaimana keadaan mu? Aku dengar dari Byan kalau kau terluka gara-gara menyelamatkannya. Aku harap kau baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu jadi seperti ini."
Dita tersenyum dan bersorak dalam hati. Pria yang irit bicara ini mendadak bawel karena dia terluka. Bolehkah Dita mengharapkan sesuatu yang lebih, salahkan jika dia jatuh cinta terlalu cepat seperti ini?.
"Gak papa Kak. Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat. Ini gak akan lama kok."
Haris mengangguk mengerti. Dia membuka tas, juga jaketnya. Dita melirik Haris menggunakan sudut matanya kala itu. Pria yang dia impikan ada satu ruangan dengan ya. Hanya berdua, oh Tuhan, rasanya Anandita ingin sekali syukuran bikin nasi tumpeng untuk merayakan kebahagiaan nya.
"Sudah makan malam belum?" tanya Haris. Dita mengangguk.
"Apa kau mau duduk? Kau sudah lama berbaring?"
Lagi-lagi Dita hanya mengangguk. Gadis super bawel dan super berisik itu mendadak jadi gadis kalem, irit bicara, juga gadis yang manis.
"Bolehkah aku membantumu?" Haris tersenyum saat Dita mengangguk. Perlahan, dia mulai menaikan ranjang Dita agar gadis itu bisa duduk dengan nyaman. Haris juga menyelipkan sebuah batal di belakang punggung Dita. Wajah Dita bersemu merah jambu. Jantungnya berdegup tak karuan. Apalagi ketika Haris menunduk membetulkan selimut Dita. Wangi maskulin dari tubuh Haris membuat Dita oleng hingga tanpa sadar, hidungnya kembali berdarah.
"Astaghfirullah. Kamu memang sering mimisan kayak gini ya?"
Dengan sigap Haris mengambil tisu. Dia membersihkan darah yang keluar dari hidung Anandita. Tangannya yang lembut malah semakin membuat darah itu mengalir deras. Karena takut kenapa-napa. Harus menyentuh wajah Dita. Dia menyandarkan kepala gadis itu ke belakang supaya Anandita bisa mendongak. Tangan terampilnya membuat gulungan kecil dari tisu dan memasukan gulungan kecil itu pada kedua lubang hidung Anandita.
Bukannya malu, Anandita malah tersenyum lebar seperti orang bodoh. Mata berbinar-binar yang dia tunjukan membuat Haris sedikit heran namun dia tidak terlalu menghiraukan sikap aneh Anandita.
"Byan memintaku untuk menjaga mu. Jadi kalau kau butuh sesuatu, kau panggil aku saja!"
__ADS_1
Anandita mengangguk paham. Leher kakunya tak membuat Dita putus asa untuk melirik Haris di sofa. Pria itu sepertinya sedang sibuk, sampai-sampai dia membawa pekerjaan nya ke rumah sakit.
"Akh, aku sangat terharu Kak Haris. Selain tampan. Kau juga sangat bertanggung jawab. I love u calon imam ku."
****
"Jadi itu alasan kalian langsung pulang setelah mendengar permintaan dari Anandita?"
Byan mengangguk. Dia kembali memeluk lengan suaminya. Saat ini mereka sudah ada di kamar. Semuanya telah aman terkendali. Brian dan yang lainya tidak memberitahu Anjani dan Nugroho tentang kecelakaan hari ini. Jika Anjani tahu, seisi rumah ini pasti akan gempar dan heboh dibuatnya.
"By!"
Byan mendongak, menatap wajah tampan suaminya. Senyum di bibir kecil itu membuat Brian gemas. Brian menundukkan wajahnya. Mengusap wajah Byan lembut dan memberikan kecupan juga hisa pan singkat.
"You have looks to die for Baby!"
Wajah Byan memerah mendengar pujian sang suami. Dia mencubit perut suaminya sedikit, Brian mengaduh, namun sesaat setelah itu, dia kembali merengkuh pinggang Byan mengusap juga mengecup pucuk kepala gadis itu tulus.
"By, kau tahu, setelah kejadian tadi, aku semakin yakin kalau aku sangat mencintaimu. Mendengar kau terluka. Aku hampir gila. Aku seperti mengalami henti jantung mendadak. Otaku bleng. Dan aku tidak bisa berpikir positif. Bayangan wajah mu terus terlintas. Senyuman mu, tangisan mu, rengekan mu, bahkan sikap manja mu dan suara tawamu ketika kau bercanda dengan Aldi dan Bima benar-benar membuatku hampir gila. Jangan pernah terluka By, aku harap kau akan selalu sehat."
"Om Bri, you know? I know fairy tales come true because I have you."
(Aku tahu dongeng jadi kenyataan karena aku memiliki mu)
Brian menahan senyum mendengar penuturan sang istri. "Eum, since the time I've meet you, i cry a little less, laugh a little harder and smile all the more, just because i have you. My life is a better place. I love you By! So much."
(Sejak aku bertemu dengan mu. Aku menangis sedikit, tertawa lebih keras, dan lebih banyak tersenyum. Hanya karena aku memilikimu. Hidupku adalah tempat yang lebih baik. Aku mencintaimu By. Sangat. )
"I love u more Daddy~~♥️"
****
Keesokan paginya. Keributan sudah terjadi di keluarga Nugroho. Byan turun dari lantai atas dengan mata sembab seperti orang yang habis menangis semalaman. Gadis itu berlari lalu duduk di kursi meja makan di samping Anjani.
__ADS_1
"Ibu!!!!!!" Byan kembali meraung. Anjani terkejut, wanita paruh baya itu berdiri, dia memeluk Byan. "Ada apa sayang, kenapa? Apa Brian menyakitimu?"
Aldi, Bima dan Nugroho hanya melihat sembari menunggu apa yang akan Byan katakan.
"Om Brian jahat Ibu, dia jahat sama Byan. Om Brian udah janji sama Byan kalau dia gak akan bikin Byan hamil. Hiksssss. Tapi, tapi semalam Om Bryan bilang kalau dia lupa pakai pengaman."
Prrrtttttttt!
Bukannya iba, semua orang yang ada di ruang tamu di buat kalang kabut. Gadis ini membuat perut mereka tergelitik hingga mereka ingin menyemburkan tawa dari tenggorokan mereka.
Aldi dan Bima hampir menyemburkan makanan di dalam mulutnya. Sedangkan Brian dia malah berekspresi biasa saja. Anjani menatap putra sulungnya tajam saat Brian turun dari lantai atas lalu duduk di depan Byan.
"Kamu ini kenapa ingkar janji sama anak ibu Bi?" Anjani berusaha untuk tidak tertawa ketika mengatakan itu.
"Hikssss. Om Brian jahat, bagaimana kalau Byan hamil Ibu. Huaaaaa. Byan masih ingin sekolah. Hiksssss. Byan gak mau lagi tidur sama Om Brian. Byan ikut tidur sama Ibu aja mulai sekarang."
Anjani kembali duduk, namun kali ini dia menarik kursinya agar lebih dekat dengan Byan.
"Dengarkan Ibu sayang, kalau kamu tidur sama ibu, ayah Nugroho bagaimana?"
"Biarkan saja Ayah tidur sama Om Brian. Pokonya Byan gak mau tidur sama Om Brian lagi. Jangan buang Byan Bu, janji ya, Byan boleh tidur sama Ibu."
Nugroho tersenyum sampai kulit pipinya sakit. "Tanggung jawab kamu Bi. Hamilin anak orang sembarangan. Lain kali pakai pengaman biar para kecebong mu tidak berkembang biak."
Brian mengangkat bahunya acuh. Dia sebenarnya juga ingin tertawa. Melihat tingkah Byan yang seperti ini malah membuat Brian semakin gemas dan ingin terus mengikat gadis itu agar selalu ada di dekatnya.
"Brian suntik hormon Bu!"
"What?"
"Yeah. Seperti itu lah."
To Be Continued.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya Guys. Komen sama like gak lama. Cus gaskeun.