
"Boncel!"
Brian berdiri di pinggiran sawah sembari berdecak pinggang menatap istrinya. Dito, hanya bisa menghembuskan napasnya berat. Dia melambai-lambai kan tangannya menyuruh Byan untuk segera naik.
Keempat gadis itu menoleh ke arah Brian. Satu di antara mereka malah mematung, dia menatap Brian dari atas sampai bawah, apakah mereka sedang ada di surga, kenapa ada malaikat tampan di sawah hijau seperti ini.
"Masyaallah, Meni kasep pisan euy, coba kalo jodoh aku kayak gini bentukannya, di suruh nguli aja aku mau, biar dia aja yang di rumah supaya gak ada yang kesengsem."
Dita dan Navisa menggoyangkan bahu Tania. Gadis itu terperanjat. "Kunaon? Aya Naon?" ucap Tania terkejut.
(Maksud Tania, kenapa? Ada apa?)
"Jaga mata kamu Nia, nanti anak kelinci kita bisa berubah jadi singa!"
Tania mengerutkan keningnya bingung. Namun saat Byan naik ke ke pinggiran sawah menghampiri pria tampan itu, barulah dia sadar dengan apa yang Navisa katakan.
"Om Brian!" Byan berlari menghampiri suaminya. Dia merentangkan tangan untuk memeluk sang suami, namun Brian dengan cepat mengulurkan tangannya menahan kepala Byan menggunakan jari telunjuk.
"Mau ngapain? Mau meluk? Ikh, gak boleh, kamu ini bagaimana By, izin mau ke mall malah main lumpur di sini!"
Byan menatap suaminya sembari tersenyum, namun ketika dia melihat wajah serius sang suami, dia langsung menunduk.
"Ini panas By, kalau kamu sakit bagaimana? Kamu juga main air di luar kayak gini, baju kamu itu nerawang!"
Brian melepas coat yang dia kenakan lalu dia menutupi tubuh Byan dengan coat itu.
Byan tersenyum. Dia melirik teman-temannya sembari menautkan jari telunjuk dan jempol tangannya. Seakan mengerti dengan apa yang Byan maksud, mereka mengangguk. Semuanya baik-baik saja.
"Kita pulang sekarang!" Ucap Brian menarik tangan Byan segera.
Byan diam tidak bergerak. "Om, Byan kan mau belanja sama temen-temen Byan."
"Dalam keadaan seperti ini?" Tanya Brian menatap istrinya heran.
"Aku dan yang lain bisa pinjem baju Tania, sehari ini aja, biarin Byan main ya!"
Brian menutup matanya. Hembusan napas kasar Byan rasakan. "Ya sudah, aku akan mengantarmu ke rumah Tiani!"
"Tania Om!" ucap Byan membenarkan.
__ADS_1
Navisa dan Anandita tersenyum mendengar nama Tania yang tiba-tiba berubah. Namun, ketika mereka mendapat tatapan tajam dari Tania, mereka langsung mengubah ekspresi wajah mereka sedatar mungkin.
"Iya, mau siapapun itu, aku tidak perduli!"
****
Sesampainya di rumah Tania, Brian duduk di kursi yang ada di ruang tamu milik keluarga Tania. Rumah ini sangat sederhana. Bahkan, kursinya saja masih terbuat dari bambu.
"Silahkan di minum Sep!"
Brian menetap Ambu heran. "Nama saya Brian Bu, bukan Asep."
Ambu tersenyum. "Ambu tahu, tapi orang Sunda memang seperti itu, ibarat kata, untuk menghormati orang yang baru mereka jumpai, mereka akan memanggil orang itu Asep, Ujang, atau Akang!"
Brian hanya mengangguk. Dia tidak mau memperpanjang pembahasan karena dia memang tidak mengerti.
"Asep itu bisa di artikan kasep atau tampan Nak, sedangkan Ujang, biasanya di pakai untuk memanggil anak-anak yang kita sayang, kalau Akang mungkin Aden juga tahu."
Brian semakin bingung. Jika terus seperti ini, mungkin sampai malam pun mereka akan terus membahas masalah panggilan yang menurut Brian masih agak asing itu.
"Panggil saya Abah saja, ini istri Abah, Aden bisa panggil dia Ambu."
"Akh gak papa Ambu, saya cuma sebentar di sini, mau nganter istri saya aja."
"Istri Aden? Wah, Aden keren ya, masih muda udah punya 3 istri. Mana gareulis pisan. Masih muda deuih."
Brian menggelengkan kepalanya. "Tidak Abah, Abah salah paham. Istri saya cuma satu. Yang paling cantik di antara semuanya."
"Owala, itu Abah, si Eneng Byan kayakanya mah. Si Neng Byan kan emang cantik banget dari dulu."
Abah mengangguk mengiyakan. "Sok att di makan dulu singkong bakarnya."
Brian mengangguk. Dia mengambil sebagian kecil singkong itu meski agak ragu, namun, ketika dia memasukkan singkong itu ke mulut dan mulai mengunyahnya, rasanya benar-benar luar biasa. Mata Brian langsung berbinar. Dia kembali mencomot singkongnya, lalu mencelupkan singkong itu ke dalam madu yang Ambu sajikan.
"Masyaallah, ini enak banget Ambu, Abah."
Ambu dan Abah Tania mengangguk tersenyum, mereka senang karena ternyata, hidangan sederhana seperti ini, bisa membuat Brian puas.
"Om makan apa?" Tanya Byan ketika dia sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Bukannya menjawab, Brian malah mematung, menatap istrinya, tanpa berkedip. Gadis itu benar-benar sangat cantik, rambut panjangnya dia kepang dua, dengan baju sederhana, namun bisa memancarkan aura luar biasa.
__ADS_1
"Om gak jawab Byan ikh!" Byan mengarahkan tangan Brian memasukkan singkong yang ada di tangan Brian ke dalam mulutnya.
"Cantik," ucap Brian membuat Byan tersenyum.
"Byan emang cantik Om. Om aja yang telat menyadari kecantikan Byan yang paripurna ini."
Ambu dan Abah tertawa melihat interaksi Byan dan Brian. Mereka jadi teringat masa-masa muda yang mereka habiskan dulu.
"Neng, suaminya kasep begini gak takut di bawa-bawa ke kampung? Nanti kalau banyak yang suka bagaimana?" tanya Ambu kepada Byan.
Byan tersenyum. Dia memeluk lengan Brian lalu menepuk dada pria itu agak keras. "Pria ini sudah Byan segel Ambu, dia tidak akan pernah berani untuk berpaling. Iya kan Om?"
Brian mengangguk. Dia masih menatap Byan dengan tatapan memujanya.
****
Hampir satu setengah jam berkendara. Akhirnya Dito bisa bernafas lega. Dengan tidak tahu malunya, Brian memaksa istrinya untuk duduk di kursi depan di atas pangkuan Brian. Mereka terus memamerkan kemesraan membuat Dito sedikit kesal. Sebenarnya tidak apa-apa sih, karena itu hak mereka. Namun, jika terus di pancing seperti itu, Dito juga bisa kepanasan.
"Om Brian, Byan main dulu ya! Kalau Om capek, Om pulang aja duluan. Byan gak lama kok. Nanti, Byan naik taksi online aja sama yang lain."
Brian mengangguk mengerti. Dia mengecup pipi Byan sekilas, lalu membukakan pintu untuk gadis kesayangannya.
"Hati-hati! Ingat, jangan pulang terlalu malam. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Ayah dan Ibu. Nanti aku jemput kalau sudah selesai. Jangan lupa telepon aku sebelum kau berniat untuk pulang."
Byan mengangguk. Dia menarik tangan Brian lalu mengecup punggung tangan suaminya. "Byan pergi ya, Om juga hati-hati!"
"Hmmm." Brian kembali menarik tangan Byan, mengecup bibir itu sekilas, baru setelah itu, dia membiarkan Byan pergi.
"Punya istri itu enak lho Dit!" ucap Brian masih fokus menatap Byan yang mulai menjauh.
"Enak palak mu peyang. Si Mikky ketar-ketir Bos!"
To Be Continued.
Ayangnya orang. 😘😘😘😘😘♥️♥️♥️
Kalian pada kemana? Jangan bilang bosen sama cerita Byan. Author kangen nih. Jangan lupa tinggalin jejak biar Author semangat terus ngetiknya. 😭
__ADS_1