
Hari sudah mulai sore saat itu, seisi sekolah Taruna Bangsa sudah mulai berhamburan keluar dari gedung sekolah. Cuaca terlihat sedang tidak baik-baik saja, awan ketika itu sangat hitam, persis seperti hati Byan yang saat ini sedang mendung. Byan gundah gulana lantaran otaknya terus mengatakan kalau dia membenci suaminya namun hatinya tidak bisa berhenti untuk berdegup ketika mengingat wajah tampan suaminya itu.
Byan seperti sedang menghukum Brian namun pada kenyataannya Byan hanya mencari alasan supaya dia bisa dekat dengan suaminya, dia yang bertekad untuk membuat suaminya menempel padanya setelah apa yang telah laki-laki itu lakukan. Jujur saja dia masih merasa sakit hati karena Brian seperti tidak menghiraukan dirinya, laki-laki itu bertingkah seolah-olah tidak ada hal apapun terjadi diantara mereka berdua, harga diri serasa terkoyak oleh suaminya sendiri. Jiwa nakalnya tidak bisa membiarkan itu terus terjadi. Benar kata Anandita, Byan harus membuat suaminya bertekuk lutut agar dia tidak bisa semena-mena padanya.
Flashback on
Saat itu kantin sekolah terlihat sangat ramai, Byan, Anandita juga Navisa duduk di meja yang paling pojok di kantin. Mereka sedang menikmati makan siang yang telah mereka pesan. Anandita terheran melihat Byan yang biasanya makan dengan lahap hanya mengaduk-ngaduk isi dalam mangkuknya dengan wajah yang tertunduk lesu.
"Beb Lo kenapa? Tumben Lo nggak selera makan, biasanya Lo rakus banget kayak anak babi."
"Kamu itu kalau ngomong disaring dikit napa? Jangan ngatain anak babi, bego!" Navisa menyenggol bahu Anandita sedikit kesal.
"Ya kan gue cuma bilang biasanya dia mirip kayak anak babi, gue nggak bilang Byan itu babi, kenapa sih Lo sensi banget? Lagi dapet ya?"
Byan menghembuskan napas kasar melihat kedua sahabatnya malah meributkan hal yang tidak penting. "Sudahlah, kalian itu jangan bertengkar terus aku ini anak manusia oke, bukan anak babi. Jadi udah diem!"
Anandita juga Navisa langsung bungkam, Navisa juga bisa melihat wajah kekecewaan Byan saat ini, entah apa yang terjadi pada gadis itu padahal biasanya Byan selalu menunjukkan wajah yang ceria.
"Bi kamu kenapa? Apa ada yang sedang kamu pikirin? Kenapa kamu terlihat sangat sedih?" Navisa ikut bertanya.
Byan berpikir untuk sejenak, tidak mungkin Byan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada dua sahabatnya, dia masih ingin bersekolah dia tidak ingin hubungan pernikahannya diketahui oleh banyak orang. Namun apa yang sedang dia alami saat ini benar-benar membuat kepalanya pusing, dia bingung harus melakukan apa dan dia benar-benar butuh teman untuk curhat saat ini.
Byan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tiba-tiba sebuah ide muncul di dalam pikirannya, Byan menyimpan sendok yang tadi dia mainkan lalu melipat kedua lengannya dan menatap Anandita dan Navisa sembari tersenyum tipis.
"Sebenarnya aku itu lagi baca novel cuman karena novel itu terlalu seru aku jadi terbawa suasana. Novel itu adalah novel online dan juga masih ongoing. Authornya menggantung cerita di saat yang penting. Sekarang aku mau tanya nih sama kalian kalau misalkan kalian jadi pemeran utama cewek di dalam novel itu apa yang akan kalian lakukan?"
"Eh gila, Lo itu nganggep kita cenayang apa gimana? Emang genre novel yang lo baca itu kayak gimana? Terus si pemeran wanita itu jadi apa? Ceritanya kayak gimana?"
__ADS_1
Byan terkekeh, menyadari kebodohannya sendiri. Dia mulai menceritakan kehidupan nya yang dimulai ketika dia dijodohkan oleh ayahnya, kemudian memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang ayahnya jodohkan sampai Byan berakhir di rumah mertuanya. Byan menceritakan kehidupannya seolah-olah dia sedang menceritakan kisah si tokoh di dalam novel yang dia baca. Anandita juga Navisa mengangguk mengerti dengan alur novel tersebut, mereka berdua tidak tahu kalau sebenarnya cerita novel yang Byan bicarakan kepada mereka adalah kisah dia sendiri.
"Ya kalau gitu sih, kalau gue ya, kalau gue yang jadi si pemeran utama cewek, mungkin gue akan menerima perjodohan itu dengan senang hati. Kenapa? Pertama cowok itu kaya raya dong, kehidupan gue bisa terjamin dan gue bisa beli apa aja yang gue mau. Yang kedua meskipun ya cowok itu udah agak tua sih tapi kalau dia ganteng, fine-fine aja. Asal nggak malu-maluin ketika jalan bareng sepertinya masih bisa lah dijadikan suami. Dan untuk sikapnya yang dingin itu sih masalah gampang buat gue, gue akan berusaha untuk membuat dia jatuh cinta sama gue, gue akan berusaha membuat dia bertekuk lutut jadi dia gak akan semena-mena lagi sama gue. Gue nggak mau jadi cewek yang bisa nangis doang. Gue itu wanita tangguh, gue pantang untuk bermelo-meloria."
Navisa menggeleng, sebenarnya dia juga setuju dengan pendapat Anandita, namun Navisa berpikir kalau menjadi wanita yang sedikit lemah juga nggak salah. "Dengerin aku ya Bi, menurut aku seharusnya si pemeran utama perempuan itu memiliki banyak sisi. Ya terkadang dia harus jadi wanita yang tangguh, tapi dia juga harus bisa menjadi wanita yang manja di depan suaminya itu. Biasanya seorang laki-laki itu akan sangat suka ketika dia merasa kalau dirinya sangat dibutuhkan. Kepercayaan dirinya akan meningkat dan lama-kelamaan laki-laki itu akan mulai terbiasa dengan wanita yang bergantung kepadanya."
"Byan mengangguk mendengar cerita keduanya. Kedua orang ini sepertinya memang lebih berpengalaman dari dia. "Jadi menurut kalian aku harus jadi perempuan yang tangguh tapi juga harus jadi perempuan yang manja di depan suamiku?"
Anandita dan Navisa saling pandang. "Lah ini cerita Elu apa cerita novel sih?" Anandita bertanya.
Byan mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya.
"Maksud aku wanita yang ada di dalam novel itu. Masa sih aku udah punya suami. Aku kan masih sekolah."
"Tapi buktinya cewek yang ada di novel itu juga masih sekolah kan, bahkan sepertinya usianya sama kok kayak kita."
Anandita mengangguk. "Ya sudah, permasalahannya sudah beres, Lo jangan sedih lagi, anggap aja apa yang gue sama Navisa omongin adalah alur cerita yang akan berlanjut di novel itu, lagian Lo sih baca novel sampai segitunya, sampai nggak selera makan. Kalau Lo sakit kan rugi banget."
Byan tersenyum, dia mulai memakan mie yang sejak tadi hanya dia mainkan. Dengan penjelasan dari Navisa juga Anandita, sepertinya dia sudah tahu harus melakukan apa. Byan harus membuat suaminya jatuh cinta padanya. Setelah laki-laki itu bertekuk lutut padanya, Byan akan menghempaskan suaminya ke dasar jurang kehampaan. Byan ingin Brian merasakan apa yang selama ini Byan rasakan.
Flashback off.
Tiba-tiba saja tetesan air hujan mulai jatuh membasahi rambut juga seragam yang Byan kenakan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat itu mungkin Byan sedang beruntung karena ternyata di depan sekolahnya ada sebuah halte bus yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Byan berlari menuju halte bus tersebut. Dia menepuk seragam juga rambutnya untuk menepis air hujan yang masih menempel.
Matanya melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Ini sudah jam 03.15, namun suaminya masih belum datang. Sampai kapan Byan harus menunggu, bahkan hujan sudah semakin lebat. Tadi Byan sempat menolak ajakan Aldi karena dia sudah bertekad kalau Brian harus bertanggung jawab atas dirinya. Aldi juga saat itu langsung pergi karena dia mengatakan kalau dia ada jadwal bermain futsal dengan teman-temannya. Sekarang Byan sendirian, sekolah sudah sepi dan hari sudah semakin gelap. Ya gelap karena saat itu hujan sangat deras. Dia mulai kedinginan, Byan memeluk tubuhnya sendiri sembari celingukan menunggu mobil suaminya datang.
Satu jam kemudian suaminya benar-benar tidak muncul, Byan duduk di kursi yang ada di halte itu. Keadaan benar-benar sangat sepi, Biar agak merinding karena kilat mulai terlihat, suara petir mulai terdengar di telinganya. Byan mengambil earphone lalu memutar musik supaya dia tidak mendengar suara petir itu.
__ADS_1
Byan masih menunggu suaminya sambil bermain ponsel, saking fokusnya, Byan tidak menyadari jika saat itu ada seorang laki-laki yang memperhatikannya dari jauh, laki-laki itu menolehkan kepalanya ke kanan ke kiri, ke depan dan juga ke belakang. Dengan membawa sebuah payung, dia berjalan ke halte itu lalu duduk di samping Byan.
"Adik cantik sendirian saja?" Pria itu bertanya. Namun karena memang Byan menggunakan earphone saat itu, dia tidak mendengar apa yang pria itu ucapkan. Bahkan Byan memang benar-benar belum sadar jika di sampingnya sudah ada orang lain.
"Adek, Adek lagi apa sendirian di sini?" Pria itu menepuk pundak Byan membuat Byan terperanjat kaget dan langsung berdiri. Dia melepas earphone sembari menatap pria itu heran.
"Maaf Paman, Ada apa ya?" Byan bertanya.
Pria itu tersenyum, dia berdiri lalu mendekati Byan. "Sepertinya Adek nggak bawa payung ya? Adek mau ke mana? Baru pulang sekolah? Nggak ada yang jemput? Paman antar ya! Adek mau kan? Paman bawa payung besar, jadi kita bisa pergi bersama. Adek lihat mobil Paman ada di sebelah sana." Pria itu menunjuk ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Byan tersenyum kecut lalu mundur beberapa langkah. "Maafkan saya Paman, sepertinya saya tidak bisa ikut Paman. Saya sedang menunggu seseorang." Pria paruh baya itu tidak mendengarkan Byan, dia semakin gencar untuk membujuk Byan dan malah semakin mendekat ke arah gadis itu.
"Ayolah Dek, kamu pasti kedinginan. Ini sudah gelap loh, nanti keburu malam. Kalau ada yang mengganggu Ade bagaimana? Paman ini orang baik kok, Paman nggak akan berbuat macam-macam."
Byan menggelengkan kepalanya. Dia hendak berbalik untuk pergi dari halte itu namun tangannya dicekal dengan kuat oleh sosok pria paruh baya yang kala itu mengaku kalau dirinya adalah orang baik.
Seketika itu juga tubuh Byan bergetar hebat. Hatinya mendadak gelisah, pikirannya melayang entah ke mana. Pemikiran-pemikiran jahat itu mulai bermunculan begitu saja, Byan ketakutan, dia hendak melepaskan tangan Pria paruh baya itu, namun cakalan yang laki-laki itu lakukan semakin kuat. Byan meringis kesakitan. "Paman tolong lepaskan tangan saya. Saya harus pergi Paman, saya tidak bisa ikut Paman." Byan memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
Pria itu tersenyum menyeringai, bukannya melepaskan cakalannya, dia malah menjatuhkan payung lalu menyentuh pundak Byan dengan tangan yang satunya. Byan berontak sekuat tenaga, dia ingin melepaskan dirinya dari belenggu pria brengsek itu. Byan menunduk, dia menggigit tangan orang itu dengan sangat kuat. Seketika itu juga orang itu melepaskan dia dari genggaman tangannya. Byan dengan segera berlari. Namun karena kakinya yang mungkin tidak terlalu jenjang, pria paruh baya itu bisa menyusul Byan dan langsung menarik tangan gadis itu kasar. Derasnya air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Matanya, mengeluarkan buliran air bening namun itu semakin tidak terlihat karena hujan saat itu sangatlah deras. Bahkan suara petir yang menggelegar membuat Byan menjerit sembari memejamkan matanya. Lagi-lagi Byan meronta, namun pria paruh baya itu malah menarik pinggangnya lalu memeluk Byan dan menyeret Byan untuk pergi ke arah mobil pria paruh baya itu.
"Tenang cantik, jangan menangis, Paman sudah bilang Paman ini bukan orang jahat. Kita berdua sudah basah, kamu pasti sangat kedinginan. Paman akan membuat kamu merasa nyaman. Paman akan membantu kamu menghangatkan tubuhmu, jangan menangis ya." Orang itu berbicara dengan lembut, namun Byan malah semakin ketakutan, kakinya terus diseret di atas trotoar.
"Tolong! Tolong! Tolong, siapapun tolong Byan, tolong!" Gadis itu berteriak dengan sangat kencang. Namun pria brengsek itu segera membekap mulut Byan dengan sekuat tenaga. Sedikit lagi Byan akan masuk ke dalam mobil itu, dia memegang tepian pintu mobil dengan sangat keras, Byan tidak ingin masuk ke dalam mobil itu dan dilecehkan oleh pria brengsek ini.
"Ya Allah tolong Byan!" Byan menjerit dalam hati.
To Be Continued.
__ADS_1