Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Kegelisahan Byan


__ADS_3

Brian keluar dari kamar madi sembari menggosokkan handuk di rambutnya yang basah. Dia ini selalu mandi malam karena gerah dan alasan lain sebagainya. Brian menatap meja belajar istrinya sembari menautkan kening. Wajah istrinya terlihat sangat lesu dan Brian tidak menyukai itu. Brian ingin istrinya selalu ceria dan bahagia.



"Boncel kenapa kamu kayak gitu?"


Byan mendongak dengan wajah sedihnya. Dia bersandar pada sandaran kursi lalu menggerakkan kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak di beri uang jajan.


"Om, bantuin Byan, Pak Darwis ngasih Byan tugas banyak banget. Kapan selesainya kalau kayak gini. Hikssss. Byan gak suka deh sama Pak Darwis. Pak Darwis jahat."


Brian tersenyum. Dia berjalan mendekati meja istrinya lalu mengambil buku yang sedang istrinya kerjakan. "Aku akan membantumu, buatkan aku teh hijau hangat. Aku mau berganti pakaian dulu."


Byan langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. "Tidak pakai gula kan?" Byan berteriak untuk memastikan.


"Iya!" Brian berseru sambil tersenyum ke arah istrinya. Melihat tingkah Byan yang seperti ini membuat Brian tidak tahan, dia tidak bisa berhenti tersenyum. Bahkan ketika dia sudah selesai berganti pakaian, senyum itu masih tidak lekang dari wajah tampannya.


Brian kembali ke meja belajar Byan lalu mulai menganalisis semua soal yang ada di buku istrinya. Beruntung nilai matematika Brian adalah nilai yang paling bagus dari semua pelajaran yang dia pelajari ketika sekolah. Bahkan, selain kuliah di bidang management, Brian juga mengambil Matematika karena dia sangat menyukai hitungan.


Byan masuk dengan senyum merekah di bibirnya. Dia berjalan sembari membawa teh yang tadi di minta suaminya. Dia mendekati Brian lalu meletakkan Teh itu di atas meja.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Brian mengambil teh itu dan meminumnya.


"Ekh masih panas."


Byurrrr!


Brian menyemburkan teh yang sudah masuk ke mulutnya. Dia membuka mulut sembari mengibaskan tangannya. Lidah Brian mati rasa. "Kenapa sangat panas?" Tanya Brian pada Byan.


Byan menggeleng. "Tadi Byan gak cek suhu airnya dulu. Maaf!"


Byan berbicara dengan wajah penuh rasa bersalah. Dia menarik dagu Brian lalu meniup mulut Brian yang kala itu sedang terbuka. Brian terpaku melihat wajah Byan dari jarak yang sangat dekat. Ternyata Mahen benar, kini semua yang ada pada istrinya sempurna di mata Brian. Bahkan deru napas Byan yang hangat itu sangat wangi, wangi mint dan entah apa lagi. Mereka menggunakan pasta gigi yang sama namun Brian merasa napasnya tidak seharum ini.


Brukkkkk!


Tidak ingin terlalu lama berciuman dengan sang suami membuat Byan mendorong bahu suaminya sampai suaminya bergeser beberapa meter dan belakang kursi yang Brian gunakan terbentur lemari lain.


"Hehehe, maaf Om, tugas Byan masih banyak!"


Brian mendengus. Dia menarik kursinya lagi mendekat ke arah meja. Setelah berada di posisi yang sesuai. Dia menarik tangan Byan lalu mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya. Byan tersenyum. Dia mulai mendengarkan penjelasan suaminya. Soal demi soal sudah Brian jelaskan. Kini giliran Byan mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


Brian memejamkan mata menghirup aroma wangi semerbak yang keluar dari rambut istrinya. Dia menyibak rambut yang menutupi leher sang istri. Wajahnya menunduk menghirup wangi tubuh Byan. Leher putih istrinya ini sungguh sangat menggoda. Lagi-lagi gadis ingusan ini berhasil membangkitkan syahwatnya yang seharusnya tidak bangun di saat seperti ini. Brian memang bajingan. Tapi dia benar-benar tidak bisa melawan rasa ketertarikan untuk menyentuh istrinya.


Byan menoleh saat merasakan deru napas hangat Brian. Dia merinding. Tubuhnya kembali merasakan sengatan listrik itu. "Om, jangan keluarkan Belut Listrik nya. Byan lagi ke Pepet ini."


Brian tersenyum sembari membuang napas. "Ya sudah, kalau begitu kamu isi semuanya, nanti aku periksa. Aku ke kamar mandi dulu."


Byan mengangguk. Dia berdiri lalu membiarkan suaminya beranjak dari kursi. Setelah Brian lenyap, Byan kembali fokus pada buku pelajarannya.


Jam di atas meja sudah menunjukkan pukul 11 malam. Byan mulai mengantuk. Dia menguap beberapa kali.


Krieetttt!


Brian keluar dari kamar mandi. Dia mendekati meja belajar istrinya, bibirnya kembali menyunggingkan sebuah senyuman tat kala dia melihat Byan tertidur sembari memeluk buku-bukunya.


Brian berjalan mengitari meja. Dia menarik bahu Byan lalu memangku tubuh mungil itu dan memindahkannya ke atas ranjang. Bruan menyelimuti tubuh istrinya lalu mengecup kening istrinya lembut. Tangan kekar itu menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik isterinya. Brian mengambil remote AC dan mengatur suhu ruangan yang pas.


Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman, Brian berjalan kembali ke meja belajar Byan lalu mulai mengerjakan semua soal yang belum istrinya kerjakan. Laki-laki itu fokus mengerjakan semuanya. Jam di atas meja sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun tidak ada tanda-tanda jika Brian akan segera tidur, dia terhanyut dalam rumus-rumus matematika yang memintanya untuk berpikir di tengah malam.


To Be Continued.

__ADS_1


🏇🏇🏇🏇 Kalau anak sekolahan pasti demen punya suami kayak gini. Kyaaaaa.... Akupun seneng guys. Meleleh hati ini. 🤣🤣🤣


__ADS_2