Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Tanduk Byan


__ADS_3

Byan sedang asyik memakan cake coklat dengan milkshake strawberry. Bima dan Aldi tentu saja menjadi pengawal yang bertanggung jawab, mereka berdua terus memperhatikan Byan entah itu membantu dan mengambil tisu membantu untuk membersihkan noda di dekat bibirnya atau yang lain sebagainya.


Teman-teman Aldi maupun teman-teman Bima menatap kedua orang itu heran, terkecuali Mike, dia memang sudah tahu bahwa Byan adalah seseorang yang berharga untuk keluarga Nugroho.


"Dia siapa Bima?" Tanya teman Bima menunjuk Byan menggunakan dagunya. Dia memang pernah melihat Bima membawa Byan ke kampus ketika mereka mengikuti e-sport di sana, teman Bima itu tidak pernah tahu jika gadis itu adalah gadis yang spesial, dia pikir memang Byan hanya datang untuk sekedar membantunya, namun ternyata pria itu memiliki perhatian lebih untuk Byan.


"Kau tidak perlu tahu dia siapa, yang pasti jangan pernah berpikir untuk mengganggunya, dia bukan orang yang bisa kau sentuh," ucap Bima melihat ke arah temannya sekilas. Teman-teman Bima maupun teman-teman Aldi semakin bingung, gadis itu membuat mereka penasaran apa yang spesial darinya hingga kakak beradik itu memperlakukan dia seperti seorang putri raja.


"Ekhem, teman Bima berdehem, Byan mendongak, dia tersenyum dengan senyum semanis yang dia miliki. Ya, gadis itu memang murah senyum. wajahnya selalu ceria dan berseri-seri membuat orang yang ada di sampingnya selalu nyaman berada di dekatnya.


"0m, kenapa? Om mau minum?" tanya Byan dengan wajah polosnya. Orang yang ditanya itu langsung tersedak air liurnya sendiri. Apakah wajah dia sudah setua itu, pikirnya.


"Hei bocah, memangnya aku terlihat sangat tua di matamu? Lihat aku baik-baik! Aku ini tampan, penampilanku juga oke, masa udah dipanggil om om sih," protes teman Bima merasa tidak suka mendapat panggilan Om dari Byan.


Byan mengangguk-anggukan kepalanya. "iya sih, kalau Om nggak pantes kayaknya, Byan panggil Paman saja ya?" ucap Byan lagi-lagi membuat orang itu malah semakin melotot.


"Dasar gadis ingusan, udah dibilangin gue masih muda seenak jidatnya aja manggil gue paman." Orang itu terlihat dongkol kepada Byan, mungkin jika Byan adalah laki-laki, dia akan menendang tulang kering Byan karena merasa kesal. Dia merasa Byan sedang mengejek dirinya. Sementara teman-temannya yang lain hanya bisa tertawa melihat temannya itu kesal setengah mati.


"Hei bocah, jangan makan terus. Karena kau sudah membuatku kesal, sebaiknya kita bertanding sekarang!" ucap teman Bima mengeluarkan ponselnya dan mengajak Byan untuk bermain game online.


"Boleh, siapa takut, emang Om bisa ngalahin Byan? Byan yakin Om akan menangis setelah menerima kekalahan. Lebih baik Om mundur sekarang, Byan nggak mau Om nangis, Byan itu anak baik Om. "


"Umam om om om emangnya gue kerabat lo apa? Udah berhenti makan, kita main sekarang, kita buktikan kau atau aku yang lebih jago!"


Byan tersenyum meremehkan. Aldi menyodorkan ponsel Byan, sementara Bima mulai mengambil alih cake cokelat di tangan Byan. Aldi dan Bima benar-benar menjadi asisten yang handal dan cekatan.


"Cih, gadis ingusan kok percaya diri banget," ucap teman Bima.

__ADS_1


"Jangan sampai kalah Bro!" ujar yang lain menyemangati.


Byan melirik teman Bima sekilas lalu tersenyum meremehkan. Entah teman Bima ini bodoh atau bagaimana, padahal dia sudah pernah melihat ke mampuan Byan, namun sepertinya itu tidak menjadikannya percaya begitu saja.


"Kamu bisa ngalahin dia kan By?"


"Eum, tenang aja. Byan gak bakal bikin Kak Bima sama Aldi malu."


Mike memperhatikan Byan sesekali. Sayang, cintanya layu sebelum berkembang. Padahal, Byan sudah mendekati tipe ideal wanita yang dia suka. Andai dia sudah dewasa dan memiliki kekuasaan seperti Brian, dia pasti akan merebut Byan dari Brian dengan cara apapun.


'Lo suka sama dia kan Bro?" tanya salah satu kawan Mike pada pria itu.


"Enggak lah, dia masih kecil, polos kayak gitu, mana seru kalau di jadikan pacar. Enak nyari yang Pro kalau nyari pacar Bro."


Mike kembali menyesap rokok di tangannya masih dengan tatapan tak beralih dari Byan. Hati bilang A. Tapi mulut bilang B. Sebegitu pecundang nya orang seperti Mike.


...----------------...


"Jadi itu saja yang bisa saya sampaikan Bu, jika memang ingin membeli saham di perusahaan saya, untuk saat ini tidak bisa. Semua pemegang saham masih menggenggam saham mereka erat, apalagi akhir-akhir ini harga saham kami mengalami kenaikan. Saya mohon maaf untuk itu Bu."


"Jangan panggil saya Ibu, meskipun saya memang direktur di perusahaan tempat saya bekerja, saya merasa agak kurang nyaman mendengar panggilan itu."


Brian mengerutkan keningnya bingung. Wanita yang ada di hadapannya ini berniat untuk membahas peluang kerja sama atau tidak, kenapa dia malah mempermasalahkan hal-hal tidak penting seperti ini.


"Maaf, Bu, saya rasa jika saya memanggil dengan nama lain, saya yang tidak akan nyaman. Pembahasan kita sudah cukup sampai di sini. Saya harus pergi sekarang. Permisi."


Byan hendak berbalik meninggalkan wanita itu, namun dia di tahan dengan kalimat tak senonoh yang wanita itu katakan.

__ADS_1


"Saya dengar Tuan menyukai hal seperti ini!" Wanita itu duduk menyilangkan kakinya roknya sedikit dia angkat juga sengaja membuka kancing teratas kemeja ketat yang dia gunakan.


Brian tersenyum meremehkan melihat kelakuan bejat wanita itu. "Maaf, tubuh Anda tidak cukup bagus untuk di pertontonkan kepada saya Bu!"


Brian melangkahkan pergi tidak mau menghiraukan wanita yang kini sedang menghentakkan kakinya marah. Dia lebih memilih untuk buru-buru keluar dari ruang private di restoran tersebut dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Apa ayah sudah mulai bosan meniti karir di perusahaan Dit, kenapa makin ke sini, klien yang dia berikan padaku benar-benar membuatku jengah. Kau tahu Dit, wanita itu mengeluarkan bola basket miliknya di depan ku. Dia pikir aku akan tertarik, cih, mana bisa, tidak akan ada wanita yang bisa mengalahkan pesona Byan. Sampai kapanpun, hanya Byan yang boleh jadi pawang si Beto."


Dito tersenyum dengan wajah kikuk nya. Jujur saja, jika Byan belum hadir dalam kehidupan Brian, laki-laki ini pasti akan senang. Namun, Dito bersyukur karena Brian sekarang sudah berubah, dia tidak mudah tergoda dan lebih fokus pada pekerjaannya.


"Kita ke kantor Tuan Muda?" tanya Dito memastikan.


"Iya, aku masih ada pekerjaan di sana."


...----------------...


"Buahahaha." Semua orang tertawa terbahak -bahak melihat nasib teman Bima yang sedang mengamen dengan riasan di wajahnya.


"Kau memang pandai membuat orang prustasi By, aku yakin, setelah ini dia akan langsung berhenti main game online. Dia kalah 20 kali darimu. Dan sekarang dia harus berkeliling dengan pakaian wanita seperti itu. Aku benar-benar kasihan padanya," ujar Bima memperhatikan temannya yang sedang bernyanyi sembari membawa krincingan.


"Dia pantas mendapatkan itu Kak Bima, siapa suruh dia meremehkan Byan. Sekarang dia tau rasa kan."


Bima dan Aldi mengangguk. Sementara teman-teman mereka yang lain habis tenaga karena capek tertawa melihat tampilan temannya yang terlihat seperti wanita lengkap dengan wig, lipstik merah juga sepatu high heels.


"Dasar gadis iblis!" Geram teman Bima menatap Byan sengit.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2