
Rapat siang ini berjalan cukup lancar. Meskipun agak sedikit memakan waktu namun tidak terlalu menguras emosi. Brian juga sedang dalam situasi hati yang baik. Jadi tidak ada kendala yang bagaimana.
"Jadi begini Tuan Brian, saya ingin mengembangkan sebuah prodak kecantikan khusus untuk remaja. Tuan bisa cek kemanan produk kami di lab. Kebetulan kami sudah memiliki pabrik juga di Bandung. Untuk memastikan jika pabrik saya steril dan aman, saya ingin mengundang Tuan untuk mengunjungi pabrik saya di lain waktu."
Brian mengangguk mengerti. "Baiklah Pak, saya akan pertimbangkan untuk kontrak kerja sama kita. Sekertaris saya akan mengabari Bapak setelah saya meninjau semuanya."
Pak Broto selaku pemilik produk kecantikan mengangguk. Ketika Brian berdiri, dia juga ikut berdiri untuk menyalami Brian dan pamit undur diri. Semua orang yang bersangkutan dengan proyek ini sudah pergi. Kini tinggal Brian dan Dito saja yang ada di ruang rapat.
"Dit, tolong kau simpan dulu dokumen yang Pak Broto berikan. Kita coba tes lab sendiri dulu. Jika memang aman, kita bisa langsung menerima tawaran Pak Broto untuk berkunjung ke pabriknya."
"Baik Tuan Muda."
"Sekarang jam berapa Dit?"
"Jam 4:20 Tuan," ucap Dito setelah melihat arlojinya.
"Kita ke mushola dulu setelah itu kita pulang. Biarkan karyawan yang lain pulang juga. Jangan biarkan ada yang lembur hari ini."
Dito termenung untuk sesaat. Bukan sesaat. Karena sekarang pun dia masih diam seperti patung Pancoran. Namun ketika Brian menepuk bahunya, dia langsung terperanjat dan ikut berjalan di belakang Brian.
"Aku gak salah kan, kenapa aku merasa sangat merinding!"
Dito mengusap tengkuknya saat bulu roma nya berdiri. Apa benar yang ada di depannya ini bos dia, Brian sedang tidak kerasukan kan? Tapi masa ada orang kerasukan ngajak pergi ke mushola. Aneh sekali.
__ADS_1
****
Brian tersenyum sembari membawa cup ice cream ukuran jumbo untuk istrinya. Hari ini adalah malam Minggu, jadi Brian berencana ingin mengajak Byan menonton tv berdua di temani ice cream ini. Mungkin akan lebih menyenangkan jika mereka pergi ke luar. Namun mengingat kondisi Byan yang sekarang, Brian hanya akan menemani Byan di kamar saja.
"Dit, kamu kapan mau nikah?"
Uhukkkk!
Dito tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri. Brian hanya tersenyum tanpa dosa. Beruntung Dito tidak ngerem mendadak. Kalau dia ngerem mendadak. Dito yakin ice cream yang ada di samping Brian akan melompat dari tangannya.
"Maaf Tuan, kenapa Anda menanyakan itu pada saya?"
"Tidak apa-apa. Jika kau menyukai perempuan, cerita sama saya. Nanti saya bantu kamu lamar dia. Jangan khawatir untuk masalah mahar. Saya akan memberikan mu apapun yang nanti calon istrimu inginkan."
Brian mengangguk mengiyakan. Masalah menikah memang tidak bisa di paksakan. Meskipun pada awalnya Brian juga terpaksa menikah dengan Byan, namun takdir seseorang tidak ada yang tahu. Mungkin Allah memberikan Byan untuknya memang sebuah keajaiban Allah sangat menyayangi Brian, jadi Allan kirimkan Byan sebagai alarm untuk nya.
"Intinya kalau kamu sudah memiliki gadis yang kami sukai. Bilang sama saya!"
"Baik Tuan."
****
Setelah sampai di rumah. Brian tidak langsung ke kamar. Dia meminta tolong Mbok Jum untuk menaruh ice cream ke dalam kulkas. Sehari berjalan, Brian melepaskan setiap hal yang mencekik dirinya. Seperti dasi, kancing di tangan dan kancing di kerah lehernya.
__ADS_1
"Assalamualaikum!"
Brian masuk ke dalam kamar. Dia melempar dadi juga jas yang tadi dia menekankan. Matanya memincing melihat ke arah ranjang. Istrinya tidak ada. Brian kembali celingukan, menyusuri setiap sudut kamarnya untuk mencari keberadaan Byan sang pujaan hati.
"By!"
"Sayang!"
Tidak ada yang menyahut. Brian berjalan ke arah kamar mandi, namun di sana juga tidak ada suara apapun. Brian membuka pintu kamar mandi, dan memang tidak ada siapa-siapa di sana. Tempat terakhir yang belum di periksa adalah walk in closed. Brian berjalan dengan tergesa. Namun di sana juga tidak ada. Byan ke mana.
"By! Jangan bermain dengan ku. Kau di mana Sayang!"
Brian berlari keluar dari kamar. Tidak ada siapapun. Kenapa rumahnya sangat hening. Ini rumah atau kuburan. Kenapa semua orang mendadak menghilang di saat Brian ingin menanyakan keberadaan istrinya.
"Astaghfirullah By, kamu di mana?" Brian mulai panik. Dia berpikir kemungkinan di mana istri dan semua orang berada. "Ponsel!" Brian mengambil ponsel dari saku celananya. Dia mencoba untuk menghubungi Byan, namun ponsel gadis itu malah berdering di dalam kamar.
"Ibu, kalian di mana?"
To Be Continued.
Bab hari ini done ya. Besok kita lanjut lagi. Tapi mulai besok author paling up 2-3 bab. Namun kalian jangan khawatir. Jumlah katanya masih sama kok. Aturan baru menganjurkan setiap author untuk up minimal 1k/bab.
Makasih ya. Btw, pada suka cover barunya gak? Lucu ya. 🤣🤣🤣
__ADS_1
Oke. Udah dulu cuap-cuap nya. Bye. Insyaallah ketemu lagi besok. Jangan lupa like dan komentarnya ya. ♥️