Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Produk Owner


__ADS_3

Brian memasuki ruang meeting dengan wajah yang di tekuk masam. Apakah harus menghadiri pertemuan seperti ini sedangkan dia baru pulang dari bulan madunya.


"Dito!"


"Iya Tuan."


"Apa ayah masih lama, kenapa dia belum datang. Dia tidak sedang mengerjai ku kan?"


Dito menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Nugroho mengerjai Brian. Bahkan ruang rapat ini sudah penuh dengan pimpinan dari berbagai divisi di perusahaan itu.


"Selamat pagi semuanya. Maaf agak terlambat!"


Nugroho masuk ke ruang rapat dengan langkah pasti. Brian hanya mengangkat alisnya enggan untuk melihat ke arah Nugroho. Suara ketukan ujung hells yang beradu dengan lantai semakin membuat mood Brian hancur. Produk owner nya perempuan. Oke masa bodoh dengan itu.


"Baiklah, saya akan mulai memperkenalkan produk owner sementara kita. Dia adalah memantu saya. Byan."


Brian langsung mendongak. Menatap Byan lekat dengan mata yang tidak berkedip. Pria itu sedikit membuka mulutnya hingga membuat beberapa orang terheran.


"Apa anda baik-baik saja Tuan?"


Dito bertanya karena dia begitu takut Brian tidak bernapas.


"What? Byan? Produk owner sementara? Really?"


"Ada apa Brian? Apa kau tidak setuju?" tanya Nugroho ketika melihat keterkejutan Brian yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh.


Brian menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan seperti itu. Tapi kenapa tiba-tiba?"


Nugroho mengangkat bahunya acuh. Dia kembali fokus pada Byan dan karyawan yang lain.


"Hallo semuanya. Saya Byan. Saya memang baru di industri ini. Namun, saya sudah melakukan berbagai riset juga mempelajari banyak hal agar Ayah Nugroho bisa mempercayakan posisi ini kepada saya."


Semua orang mengangguk mengerti. Namun ketika Nugroho ingin kembali berbicara, ternyata ada beberapa orang yang mengangkat tangan keberatan.


"Apakah dia sekolah dengan baik? Atau memang baru lulus SMA?"


"Apakah dia ke sini dengan kemampuan atau justru karena koneksi dan sebenarnya dia tidak memiliki kemampuan apapun?"


Nugroho dan Brian tersenyum sinis. Sedangkan Byan, dia malah tersenyum sumringah. Di satu sisi dia memang di remehkan, namun di sisi lain, dia masih di anggap anak ingusan kan. Apa dia terlihat semuda itu. Byan rasa dia sudah merubah penampilan agar tidak terlihat kekanakan. Namun jika masih terlihat, sudahlah, Byan tidak perduli.


"Maaf, tapi saya sudah lulus sekolah Magister MBA parfum & cosmetics management."


Beberapa orang di ruangan itu terlihat kagum. Di usia yang masih sangat muda seperti ini sudah menyelesaikan gelar S2. Namun kembali lagi, ada beberapa orang yang masih tidak percaya jika Byan mampu mengemban posisi itu.


"Pak maaf, jika boleh, apa tidak sebaiknya kita mendengar persentasi Produk Owner lebih dulu? Kita mungkin akan setuju jika kita puas dengan hasil persentasi Produk Owner baru kita."


Nugroho ingin menyela. Begitupun dengan Brian. Namun Byan melarang mereka. Dia sudah tahu ini akan terjadi. Byan merogoh saku outer yang dia kenakan. Mengeluarkan sebuah flashdisk lalu berjalan ke atas tempat persentase. Dito tidak tinggal diam. Dia membantu Byan meredupkan lampu di ruangan itu juga menghidupkan monitor yang sudah terhubung pada laptop yang Byan gunakan.


Dengan penuh percaya diri. Byan mengenalkan sistem kerja juga produk yang ingin dia kembangkan. Sebenarnya, Byan tidak terlalu tertarik untuk menduduki posisi itu. Namun karena ingin meluncurkan produknya sendiri dan ingin melihat semua prosesnya lancar. Byan harus turun tangan dan membatu divisi lain untuk mengarahkan kinerja mereka.

__ADS_1


30 menit kemudian. Semua orang di ruangan itu bertepuk tangan. Tak terkecuali Brian. Pria itu menatap Byan lekat, tanpa mengedipkan mata. Cinta yang dia miliki sepertinya semakin besar. Kemampuan gadis kecilnya benar-benar sudah berkembang sangat pesat.


Byan melirik suaminya. Tatapan itu, kenapa Byan sangat malu di tatap seperti itu oleh suaminya sendiri. Tatapan Brian ini terlalu memuja. Dia menjadi sangat gugup dan kesulitan untuk menahan diri.


"Jadi bagaimana? Apa kalian masih meragukan kemampuan istriku?"


Brian bertanya dengan bangganya. Kini, dia bisa melihat wajah orang-orang itu tertunduk malu.


"Baiklah, rapat kita sudahi sampai di sini. Untuk manager produk, besok kita akan merekrut beberapa karyawan baru untuk staff vendor. Aku harap kalian bisa mempersiapkan semuanya." Ujar Nugroho mengakhiri pertemuan.


Selang beberapa menit. Semua orang telah keluar dari ruangan itu kecuali Brian, Byan dan Dito.


"Kemari!"


Brian menggerakkan jarinya meminta Byan untuk mendekat. Gadis itu tentu saja mengangguk. Dengan sedikit berlari, dia berhenti di depan Brian.


Settt!


Brukkkkk!


"Akh, aku harus segera pergi!"


Dito keluar dari ruang rapat saat melihat Brian menarik pinggang Byan dan mendudukkan gadis itu di atas meja.


Blam!


Dito mengelus dada pelan. Sangat pelan. Dia juga menghembuskan napas lega. "Akhirnya aku selamat," gumam Dito.


Dito menoleh. Pria itu tersenyum. Dia mengambil sebuah kertas juga spidol dari tangan karyawan itu. Setelah menuliskan sesuatu di atas kertas, Dito menyelipkan kertas itu di pintu ruang rapat.


"Terima kasih," ucap Dito mengembalikan spidol dan langsung melenggang pergi.


Karyawan itu terlihat bingung melihat gelagat aneh yang Dito tunjukkan. Dia menolehkan kepalanya melihat kembali ke arah pintu.


"Maaf, rapat sedang berlangsung."


Karyawan tadi semakin mengerutkan keningnya. "Bukankah meeting sudah selesai ya?"


Di dalam ruang rapat. Sepasang sejoli itu masih dengan posisinya. Brian menumpu kan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri Byan hingga membuat gadis itu harus sedikit mundur karena jarak mereka yang terlalu dekat.


"Kenapa?" tanya Byan menatap suaminya yang kini sedang menatapnya penuh selidik.


Brian tersenyum menyeringai. "Istriku sudah pandai berbohong. Tadi pagi dia bilang tidak akan ke mana-mana. Namun, sekarang dia sudah ada di depan ku."


Byan meneguk saliva susah payah melihat wajah kelam suaminya. Bukan kelam karena amarah, namun kelam untuk sesuatu yang lain.


"O ... om. Byan ... Byan bisa jelaskan semuanya. Byan gak mak ... sud untuk berbohong."


Byan semakin gelisah tat kala suaminya semakin menunduk mengendus lehernya dan kembali menatap nya dengan bibir yang hampir bersentuhan.

__ADS_1


"Kau harus di hukum Baby!"


"Tapi Om ... mmmmm."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Brian sudah lebih dulu memangut bibirnya hingga dia kesulitan untuk bernapas. Ini gila, ini benar-benar gila. Byan yakin di tempat ini ada CCTV.


"Om hentikan! Byan takut ada yang melihat."


Byan memekik tertahan saat Brian mulai mengh isap lehernya. Sebenarnya ada apa ini. Brian tidak pernah melakukan ini sebelumnya bukan tidak pernah, namun dia selalu berusaha untuk tidak meninggalkan jejak di area yang mungkin akan terlihat oleh banyak orang. Namun saat ini, hi sa pan itu begitu kuat hingga Byan yakin kalau hi sa pan Brian kali ini akan meninggalkan jejak cukup ketara.


"Om. Byan salah. Maafkan Byan."


Brian mendongak. Dia tersenyum saat melihat tanda merah ke unguan di leher sang istri.


"Apa kau tahu apa kesalahan mu Baby?" Pria itu kembali berbisik.


"Aku berbohong," jawab Byan enteng.


"No, kau salah. Kesalahan mu hari ini adalah, kau berdandan terlalu cantik. Aku harus meninggalkan tanda kepemilikan ini," ucap Brian kembali mengecup tanda yang sudah dia buat. "Agar semua orang tahu jika kau sudah memiliki suami. Dan ya, aku benci tatapan para pria yang begitu memujamu."


Byan melongo mendengar jawaban dari suaminya. Jadi karena itu dia marah. Karena Byan terlalu cantik? Oh God, pria ini benar-benar sangat licik.


"Dasar posesif."


Byan hendak turun dari atas meja, namun tangan Brian masih menahan pinggangnya.


"Lepasin Om. Byan mau turun!" Byan berbicara tanpa menatap wajah Brian. Dia merasa sangat kesal karena Brian baru saja mempermainkan nya.


"Maafkan aku Baby. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan mu."


Brian memeluk tubuh Byan yang masih meronta meminta untuk di lepaskan.


"Aku mencintaimu By. Sangat."


"Byan benci sama Om!"


"Really?" Brian menarik kepalanya menatap wajah Byan sendu.


"Iya. Byan benci sama Om karena Byan juga cinta sama Om Brian. Byan gak bisa marah meskipun Om agak sedikit keterlaluan."


"Keterlaluan? Kau tidak suka aku cium?"


Byan bersemu merah mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Aku tahu kau menyukainya Baby."


Brian kembali menyatukan bibir mereka untuk membuktikan jika Byan benar-benar menyukai ciumannya. Dan benar saja. Selang beberapa detik, gadis itu langsung membalas setiap serangan yang dia berikan. Byan sudah semakin mahir dan Brian sangat menyukai itu.


"Kau kalah Baby!"

__ADS_1


To Be Continued.


Terjawab ya. Selamat siang dan selamat bobo cantik Guys. Ketemu lagi besok di bab selanjutnya ya. Author ingatkan. Jangan lupa like dan komentarnya. Thank you. 🤗🤗🤗


__ADS_2