Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Posesif


__ADS_3

Byan menghembuskan napas kasar tat kala dia sudah sampai di ruangannya. Wanita cantik itu duduk dan bersandar pada sandaran kursi sambil memejamkan mata. Semakin hari Brian benar-benar sangat menyebalkan. Bagaimana mungkin jarak tempuh yang biasanya hanya memakan waktu 40 menit kini menjadi 65 menit? Alasan Brian melakukan itu karena dia tidak mau mengguncang para bayi yang ada di perut Byan, jadi Brian hanya memperbolehkan Dito membawa mobil mereka dengan kecepatan sedang.


"Galau Bu?" tanya Agnes ketika dia masuk ke dalam ruangan Byan. Hubungan mereka memang sudah sangat baik, Agnes semakin dekat dengan Byan, itupun memang karena Byan yang tidak memberi jarak antara mereka.


"Huhhhh!" Helaan napas kembali terdengar. "Apakah semua pria memang seperti ini Agnes? Kau tahu, suamiku itu sangat posesif. Pertama, aku sudah tidak di ijinkan untuk membawa mobil sendiri, ke dua, aku tidak boleh menggunakan high heels, ke tiga, aku tidak boleh naik lift yang membawa banyak orang, ke empat, aku tidak boleh keluar dari ruangan ini jika tidak dia temani!"


Byan menarik dirinya dari senderan kursi, kali ini, dia memilih untuk membenamkan wajahnya pada kedua tangan yang dia tumpu kan di atas meja.


Agnes tersenyum, menarik kursi di depan Byan lalu duduk dan mengetuk meja itu dua kali dengan jari telunjuknya.


"Ini semua dia lakukan karena dia sangat mencintaimu juga bayi-bayi yang ada di dalam perut mu. Kau tahu, dulu, saat dia tahu jika kau pergi tanpa kabar, dia berubah menjadi orang gila, marah tidak jelas, bahkan Dito saja sampai kena hajar, apalagi sekarang, kau sedang berbadan dua begini, mana bisa dia tenang."


Byan menatap Agnes dengan wajah sendunya. Memang benar yang Agnes ucapkan, dia tidak harus kesal kepada Brian, pria itu melakukan semua ini karena dia sangat menyayanginya. Justru jika Brian cuek, malah dia yang akan rugi.


"Akh sudahlah, aku tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Kita lanjut bahas pekerjaan saja." ucap Byan. "Bagaimana dengan penyelesaian produk kita?"


Agnes tersenyum. Dia menyerahkan beberapa dokumen kepada Byan dan mulai menunjukkan apa saja yang sudah selesai.


"Aku rasa, Minggu depan produk ini sudah bisa launching Bu, tinggal menunggu sertifikat BPOM. Kalau hak paten untuk nama kita sudah mendapatkan nya."


Byan mengangguk mengerti. Semingu lagi produk hasil kerja kerasnya bersama dengan tim akan mulai beredar, Byan sangat berharap jika prodak nya ini akan memberikan kebermanfaatan untuk orang-orang yang mulai memperhatikan penampilan. Target utama Byan adalah para pria, di mana dia sangat ingin melihat pria di luaran sama merawat kulit wajah mereka, jangan selalu wanita yang di tuntut untuk cantik, namun pria juga harus bisa merawat dirinya agar terlihat menarik di depan pasangan.


"Siang ini sepertinya pekerjaan ku akan selesai Nes, kau urus semua sisanya ya!"


"Baik Bu!"


...----------------...


Siang hari, ketika sudah waktunya jam makan siang, Brian bergegas turun ke lantai bawah. Kantornya ada di lantai ping atas, sedangkan kantor Byan ada di lantai 25.


"Hari ini suster memasak apa Dit?" tanya Brian ketika mereka sedang ada di dalam lift.

__ADS_1


"Yang pasti ada protein hewani, protein nabati, zink, dan yang lainnya, Tuan tidak usah khawatir, suster dan dokter ahli gizi yang Tuan pekerjaan sudah sangat hapal apa yang harus mereka lakukan."


Brian mengangguk mengerti. "Ya sudah, kau boleh pergi sebentar ke rumah mu, kasihan Tiani, dia sedang hamil muda kan?"


"Tania Tuan!"


"Iya, sama aja!"


Brian menyambar kotak bekal yang di bawa oleh Dito, mengangkat kotak itu sebentar lalu tersenyum dan berjalan ke arah kantor istrinya.


Beberapa karyawan membungkuk ketika melihat Brian berjalan melewati mereka. Brian sudah memulai terbiasa dengan mual muntah yang dia derita, meskipun gejalanya sudah jarang muncul, namun anjuran untuk tidak boleh mengenakan parfum jenis apapun di perusahaan itu masih tetap berlaku.


"Bu Byan sangat beruntung ya bisa dapet cowok keren kayak Tuan Brian, akh jadi ngiri gue."


Sebenarnya masih banyak karyawan wanita di perusahaan itu yang tidak rela jika Brian menikah, apalagi istrinya adalah seorang gadis yang masih sangat muda, cantik, juga cerdas, dia juga sangat kompeten. Sangat cocok memang di sandingkan dengan Brian yang hampir mendekati sempurna.


Krieetttt!


"Kau pasti sangat lelah," ucap Brian menyelipkan anak rambut pada telinga sang istri. Namun Brian langsung menarik jemarinya saat Byan bergerak gelisah. Bibir ranum yang sangat seksi itu terbuka dan tertutup beberapa kali hingga membuat Brian sangat gemas ingin melahap nya.


Sejak Brian tahu jika Byan hamil, dia sudah sangat jarang mengajak istrinya untuk berhubungan. Brian hanya akan menunggu kode dari sang istri, jika Byan tidak memberikannya kode, maka Brian tidak akan berani menyentuh Byan walau sedikit pun.


Maksudnya menyentuh anu. Taulah kalian juga itu apa kan. 🤣


Brian mengecup bibir istrinya sekilas, setelah menyelimuti Byan, Brian berjalan menuju meja kerja istrinya, laptop masih menyala, dan masih belum di keluar kan dari halaman terakhir. Pekerjaan sang istri masih belum beres dan Brian berinisiatif untuk menyelesaikan pekerjaannya.


40 menit kemudian, Byan kembali bergerak gelisah, usia kandungannya kini sudah menginjak 7bulan, perutnya sudah semakin membesar, apalagi ini adalah kehamilan kembar, hamil 7 bulan ukuran perut sudah seperti orang yang hamil 9 bulan.


"Masih mengantuk By?" tanya Brian lembut. Byan refleks membuka matanya, suara deep suaminya membuat Byan tidak bisa menutup matanya lagi.


"Om kenapa di sini?" tanya Byan dengan suara parau khas bangun tidur.

__ADS_1


"Aku sudah di sini sejak tadi Baby girl, kau saja yang tidur, jadi kau tidak tahu."


Byan mengangguk. "Maafkan Byan Om."


"No, don't be sad, aku senang melihat mu mau beristirahat di sela-sela pekerjaan yang melelahkan. Kalau proyek ini selesai, kau harus janji kalau kau tidak boleh bekerja dulu!"


Byan mengangguk mengerti. "Byan ingin duduk Om!"


"Baiklah," ucap Brian membantu Byan duduk dengan nyaman. "Makan siang sudah ada sejak tadi, tapi mungkin sekarang sudah dingin, aku ke dapur perusahaan dulu sebentar, aku hangatkan dulu makan siangnya ya!"


Byan hanya mengangguk menuruti semua yang Brian ucapkan.


"Byan ikut!" rengek Byan dengan suara manjanya.


"Boleh lah, yuk, mau di gendong gak?"


Byan langsung menggeleng, oh ayolah, dia sudah mulai berisi sekarang, apalagi perut besarnya, Brian akan kesulitan jika harus menggendong nya sampai dapur.


"Byan bisa jalan sendiri Om!" ucap Byan meyakinkan.


Mereka pun pergi keluar dari kantor Byan menuju dapur perusahaan. Satu tangan Brian menggenggam tangan istrinya, sedangkan tangan yang lain memegang kotak bekal untuk mereka.


"Hati-hati!" ucap Brian saat Byan hendak naik ke dapur, memang lantainya tidak se jajar, Byan harus naik satu undakan tangga untuk bisa masuk ke sana.


"Siapa sih yang bikin konsep kayak gini, bikin repot aja. Seharusnya lantai ini di bikin sama rata, ini sangat berbahaya untuk mu Baby! Percuma bayar mahal-mahal kalau hasilnya seperti ini."


Byan hanya menggelengkan kepalanya melihat Brian yang terus menggerutu hanya karena masalah lantai yang tidak sejajar, padahal, dari dulu lantai itu memang tidak sama rata, tapi kenapa Brian baru komen sekarang."


"Dasar Daddy posesif!"


To Be Continued.

__ADS_1


Oke Guys masih on going kok. Yuk jangan lupa like dan Komentarya.🤗


__ADS_2