
Hai Reader ku yang baik hati. Tolong klik like dan komentar ya. Komentar dari kalian adalah support sistem untuk Author. Terima kasih sudah membaca novel ini. Good luck untuk kita semua. 🤗😊 Salam sayang dari jauh. 😘
Sore hari, Brian dan teman-temannya sedang asyik berkumpul di sebuah kafe, hari ini Bian cukup membuat Brian pusing dengan segala ocehannya. Brian masih belum berani memberikan setir kepada Bian karena dia takut bocah tengil itu akan menghancurkan mobilnya, kalau mobil saja yang hancur mungkin tidak masalah, namun jika dia yang terluka apa kata dunia.
Brian sedang asyik mengobrol dengan Alex. Mereka sedang bergosip tentang wanita-wanita yang pernah Alex kencani. Namun seberapa asyik pun Brian mengobrol dengan Alex, matanya tetap tidak bisa beralih dari Bian, Reno dan Rendi. Kedua sahabatnya itu terus saja mengganggu Bian, bahkan mereka tidak segan-segan untuk merayu gadis itu di depan Brian. Sungguh sahabat yang luar biasa.
"Kau sekolah di mana Bian? Pasti banyak yang suka ya sama kamu, kamu cantik banget soalnya," ucap Reno memuji.
Bian mengibaskan tangannya segera. Dia tersenyum sembari menyendok es krim dan memasukannya ke dalam mulut. "Bian gak semenarik itu Om, banyak yang gak suka sama Bian. Di sekolah Bian kan banyak yang yang cantik. Bian mah cuma remahan peyek Om."
Rendi menahan tawa mendengar panggilan Bian pada Reno. Apa mereka terlihat setua itu di depan Bian? Tapi kalau mengingat umur, Bian memang lebih muda 12 tahun dari mereka, agak sedikit wajar jika gadis itu memanggil mereka om."
"Bian, kenapa sih kamu manggil kita Om? Apa kita setua itu?" Rendi bertanya hanya sekedar ingin memastikan.
Bian tersenyum. "Om Rendi sama Om Reno kan temannya Om Brian. Jadi Bian harus manggil kalian Om juga."
Brian tersenyum mendengar jawaban dari Bian. Dalam hati dia ingin menertawakan kedua sahabatnya yang sok muda itu. Udah tahu umur mereka udah mateng, tapi masih saja ingin menganggu anak kecil.
Reno mengangkat tangannya hendak menyeka noda es krim di bibir Bian. Brian yang melihat itu bergerak dengan sigap dan langsung menepis tangan Reno. Dia melemparkan selembar tisu kepada Bian. "Lap mulut mu, kau itu bukan anak kecil. Kenapa makan ice cream saja harus belepotan seperti itu!"
Bian mendelik. Dia mengambil tisu itu lalu mengusap bibirnya kasar. "Dasar Om biawak gak berperasaan. Awas aja, nanti Bian adukan perselingkuhan Om kepada Ibu."
"Aku pulang dulu. Aku sudah harus mengantarkan bocah ini pulang, kalau tidak ayah pasti akan mengamuk."
Brian menarik tangan Bian memaksa gadis itu untuk berdiri. Bian hanya menurut meskipun sebenarnya dia masih enggan. Bian membungkuk ke arah Reno, Rendi juga Alex. Dia tersenyum dan di balas senyuman oleh ketiga orang itu.
__ADS_1
"Si Brian pelit amat, kita kan masih pengen ngobrol sama Bian," ucap Reno kesal kepada sahabatnya itu.
"Astaga, aku lupa meminta nomor teleponnya." Rendi menepuk jidatnya meruntuki kebodohannya sendiri.
"Tinggal minta aja sama Brian. Gak mungkin kan kalau dia gak punya." Alex menyeru membuat Reno dan Rendi yang tadi sudah kecewa kembali tersenyum.
****
"Kau itu bisa tidak kalau di ajak ngobrol sama Rendi dan Reno gak usah terlalu di tanggapi. Mereka berdua itu predator. Aku gak mungkin harus jagain kamu juga kan? Jangan berharap Bian, sebaiknya kamu membatasi diri dari laki-laki. Kamu masih kecil."
Bian melongo mendengar ceramah suaminya. Baru kali ini Bian mendengar Brian berbicara panjang lebar. Namun sekalinya bicara mulutnya sangat pedas membuat Bian yang sedang tidak mood malah di bikin semakin bad mood.
"Terserah Om saja deh. Bian gak perduli. Lagipula mereka itu teman-temannya Om, kenapa gak Om aja yang larang mereka untuk deket-deket sama Bian."
Bian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia memanyunkan bibirnya saking kesalnya Bian kepada Brian. Namun laki-laki yang ada di sebelahnya itu tidak perduli. Dia malah melajukan mobilnya tanpa mau menghiraukan ucapan Bian.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah keluarga Nugroho. Bian langsung melepas sit belt dan keluar dari dalam mobil. Bian membanting pintu mobilnya kasar membuat Brian sedikit terperanjat.
"Ekh buset, kenapa lagi itu anak. Udah dia yang salah malah dia yang marah-marah."
Brian ikut turun dari mobil setelah seorang pekerja di rumahnya mengambil kunci mobil Brian dan memarkirkan mobil itu di tempatnya.
"Assalamualaikum," seru Brian kepada seluruh penghuni rumah. Brian menghentikan langkahnya ketika netranya melihat sesuatu yang tidak biasa. Aldi, Nugroho, juga Anjani menatapnya dengan tatapan yang sangat horor. Brian melangkahkan kakinya semakin dalam dia mengerutkan alisnya bingung melihat Bian yang sedang memeluk Anjani sembari sesenggukan.
"Waalaikumsalam. Kau apakan menantu Ibu Brian? Kamu sudah gak sayang sama Ibu hah?"
__ADS_1
Brian semakin bingung mendengar Anjani yang marah padanya. Baru saja Brian ingin menyela. Nugroho sudah mengeluarkan ocehannya.
"Brian, kamu itu seorang laki-laki. Sudah seharusnya kamu menjaga Bian dengan baik. Kenapa kamu malah menindas nya seperti itu? Kamu pikir dengan kamu yang memiliki jabatan tinggi dan uang yang banyak kamu akan menjadi pria terhormat? Tidak Brian, kamu harus berbuat baik kepada orang yang paling dekat dengan mu, baru kamu bisa di sebut sebagai pria terhormat yang baik."
****
Bian sedang menyisir rambutnya sembari bersenandung. Jujur saja Bian merasa sangat senang karena dia sudah berhasil membuat Brian di marahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya.
Brakkkkk!
Bian langsung menoleh ketika mendengar pintu walk in closed di banting dengan kasar oleh seseorang. Bian membulatkan matanya saat Brian masuk ke dalam walk in closed dengan mata yang memerah. Habislah Bian kali ini, sepertinya Brian benar-benar sangat marah padanya.
"Om, Om kenapa? Om marah sama Bian?" Bian mundur beberapa langkah karena takut melihat Brian yang berjalan semakin dekat kearahnya. Jantungnya berdegup sangat kencang karena saat ini dia sudah tidak bisa mundur lagi. Punggung Bian sudah terbentur ke pintu lemari.
Brakkkkk!
"Akh!"
Bian memekik sembari berjongkok dan menutup kedua telinganya.
Brian menarik ujung bibirnya. Selama satu jam Bian di berikan ceramah oleh kedua orang tuannya. Namun ketika Brian masuk ke dalam kamar Brian mendengar Bian sedang bersenandung. Brian langsung tersulut emosi dan ingin memakan bocah tengil itu saat ini juga.
"Kau pikir aku main-main dengan perkataan ku hah? Kamu benar-benar ingin aku hukum? Bian dengar, jangan pernah berpikir kalau aku akan berbuat baik padamu. Aku sudah katakan kalau aku tidak pernah main-main." Brian terus berbisik di samping telinga Bian. Bian yang kala itu sedang menunduk menyembunyikan wajahnya menjadi semakin merinding. Detik berikutnya Bian merasa tubuhnya sudah melayang di udara. Brian memangku nya dan membawanya keluar dari walk in closed.
"Om, maafkan Bian, Bian janji Bian gak akan bilang apa-apa lagi sama Ibu, jangan hukum Bian Om, tolong ampuni Bian." Bian teru saja memohon. Namun sepertinya permohonannya sia-sia. Bian tahu kini dia sudah ada di dalam kamar mandi. Brian menurunkan Brian di bawah shower dan membiarkan tubuh mereka berdua basah di guyur air shower yang mengalir dengan deras.
__ADS_1
Brian mengangkat dagu Bian dengan satu kali hentakan. Laki-laki itu menunduk mengikis jarak di antara mereka berdua.
To Be Continued.