Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Gelagat Sisil


__ADS_3

Agnes tersenyum meremehkan. Belum lagi kedua sahabatnya yang mengikuti dia dari belakang. Mereka ini sudah seperti gangster kelas kakap. Namun jika di lawan, tahu lah sendiri, orang-orang seperti Agnes ini hanya bisa memanfaatkan orang tua mereka.


"Cih, jangan belagu kamu Dita, sok-sokan belain anak baru itu. Kamu pikir dengan berteman dengan orang seperti Bian kamu akan ketiban durian monthong? Kamu salah Dita, Bian ini adalah aib bagi sekolah ini, dia bisa memakai barang-barang branded karena dia di dekeng oleh Daddy."


Agnes memperhatikan Bian dari atas sampai bawah. Bian yang di tatap seperti itu malah memutar bola matanya malas. Tepat ketika Agnes ingin mendekat ke arahnya, ponsel Bian yang ada di atas meja tiba-tiba saja bergetar.


Bian tersenyum lalu mengangkat teleponnya. "Halo Daddy, eumm iya, Bian sudah sampai kok di sekolah. Iya, boleh Daddy, tapi nanti Bian jadi di belikan laptop keluaran terbaru itu kan? Yang harganya 250 juta? Akh, terima kasih Daddy, Muachhhh."


Brian menjauhkan ponsel dari telinganya. Sebenarnya tadi Brian ingin menelpon Bian untuk mengatakan kalau dia bisa menjemput Bian sepulang sekolah, namun keningnya langsung berkerut saat telinganya yang suci mendengar kalimat-kalimat aneh dari mulut gadis itu. Brian menatap layar ponselnya sembari bergidik ngeri.


"Ada apa dengan bocah ini?" Bian bergumam. Dia yang tadi hendak berbicara kepada Bian mengurungkan niatnya dan malah memasukkan ponselnya ke dalam saku jas yang dia kenakan.

__ADS_1


Sementara Bian, dalam hati dia bersorak gembira namun juga ada sedikit rasa takut kepada suaminya. Bian tersenyum meremehkan kepada Agnes dan dua temannya. "Enak tahu jadi simpenan Sugar Daddy, udah ganteng, kaya, royal, emang kalian bisa dapetin Sugar Daddy kayak aku?"


Bian melirik Dita sekilas. Dita tersenyum sembari mengacungkan jempolnya di balik meja yang saat itu ada di hadapan Bian.


"Dasar perempuan murahan. Lon teh Lo. Pengen barang-barang kayak gitu aja sampai harus jual diri. Miris gue liatnya."


Bian hanya mengangkat bahunya acuh. Dia tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Agnes, bagi Bian, selama Bian tidak merugikan orang lain, Bian tidak perlu merasa khawatir. Mau dia berusaha seperti apapun untuk membuat orang percaya kalau dia ini perempuan baik-baik, kalau orang itu memang tidak menyukai Bian ya untuk apa di paksa. Bikin sakit kepala aja. Mending ya biarin mereka kayak gitu, toh Bian juga gak rugi.


Agnes pergi dengan wajah yang dia tekuk. Rencananya untuk membuat Bian terpojok dan malu nyatanya tidak berhasil, Agnes harus mencari cara lain agar Bian bisa dia singkirkan dari sekolah ini. Meskipun tidak tersingkir, paling tidak Bian harus dipermalukan dan di buat jadi bahan bulan-bulan seluruh murid di SMA itu.


"Ekh Beb, emang tadi Elo nelpon siapa?" Anandita bertanya karena penasaran.

__ADS_1


Bian menampakkan deretan giginya. "Heheh, itu kakak gue Dit."


Anandita terlihat sedikit kecewa, namun tidak dengan Navisa, dia malah bersyukur karena Bian masih tertolong, dia tidak terbawa arus pergaulan anak-anak jaman sekarang.


Di sisi lain, Brian yang pada awalnya tidak mood untuk bekerja memaksakan dirinya berangkat ke kantor. Brian merasa tidak nyaman kalau harus diam di rumah tanpa ada kegiatan. Saat itu dia sedang duduk di kursi kebesarannya. Brian sedang memainkan bolpoin sembari menatap Tumbler yang sengaja dia bawa.


Brian menoleh ke arah pintu ketika seseorang membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Brian kembali bersandar pada sandaran kursi saat netranya melihat Sisil masuk ke ruang kerjanya dengan penampilan yang luar biasa seksih.


"Sayang! Kau baik-baik saja kan?" Sisil bertanya sembari menggerakkan kedua tangannya menyentuh dada Brian, sedangkan dia, dia berdiri di belakang Brian sembari menunduk dan memberikan kecupan-kecupan manis di leher pacar sekaligus atasannya itu.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2