
Brian menatap Kirani dengan alis mata yang tertaut. Otaknya langsung bleng. Dia masih berusaha untuk mencerna setiap kata yang Kirani ucapkan padanya.
"Maksud Ibu apa, bukankah Ibu adalah Ibu kandung Byan?"
Kirani menggelengkan kepalanya. Dia kembali memutar tubuh, lalu menatap Byan sembari tersenyum. "Byan bukan anak kandung Ibu, dia adalah anak petinggi di pemerintahan, dahulu, Ayah kandung Byan ingin membuangnya ke panti asuhan. Dia meminta Ayah mertuamu melakukan itu. Namun karena tidak tega, Ayah membawa Byan ke rumah, saat itu dia masih bayi. Ibu juga terkejut, kenapa ada orang tua yang tega membuang darah daging mereka, padahal Byan sangat cantik, kulitnya juga sangat putih. Mungkin Nak Brian tidak sadar, namun jika di amati, perbedaan warna kulit kami sangat ketara."
Brian bergeming. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. "Kenapa orang itu membuang Byan?"
"Ibu kandung Byan adalah seorang model terkenal di Tiongkok. Dia tidak ingin karirnya terganggu karena kehadiran Byan. Oleh karena itu, dia memberikan Byan pada ayahnya. Namun saat itu, ayah kandung Byan juga akan mengikuti pemilu. Mereka benar-benar egois, demi mencapai kesuksesan, mereka tega membuang darah daging mereka sendiri."
Kirani tersenyum miris. Brian kembali melihat Byan, tatapannya melesat jauh entah kemana. "Kenapa Ibu baru menceritakan nya sekarang? Apa Byan tahu kalau dia bukan anak kandung Ibu?"
Kirani menggeleng dengan cepat. "Byan tidak tahu, dan ibu harap, sampai kapan pun Ibu tidak akan tahu. Namun, akhir-akhir ini, Ayah Adrian memberitahu ibu, kalau atasannya itu mulai mencari-cari Byan. Dia sempat kecelakaan, dan hebatnya, karena kecelakaan itu, dia tidak bisa memiliki anak lagi. Buah jakar nya di angkat. Ibu ingin tertawa, namun Ibu takut dosa. Menghakimi itu tidak baik bukan?"
Brian kembali mengangguk. "Kalau boleh Brian tahu, siapa ayah kandung Byan Bu?"
"Dia adalah orang penting yang menduduki posisi ketiga dari kedudukan tertinggi di pemerintahan. Ibu tidak harus memberitahu siapa dia, karena kau juga pasti tahu, satu hal yang harus kau ingat. Apapun yang terjadi, jangan pernah biarkan Byan pergi dari mu. Tolong jangan biarkan orang-orang itu mengusik kehidupan Byan."
Brian mengerti. Matanya kembali berpusat pada sang istri. Gadis itu tersenyum, dia melambaikan tangan meminta Brian untuk ikut bergabung. Brian tersenyum meski agak di paksakan. Dia tidak tahu, jika istrinya memiliki latar belakang yang sangat rumit, pantas saja dia selalu takut orang-orang akan berpaling darinya. Ternyata, dia memiliki perasaan takut di buang karena masa lalunya. Meskipun dulu Byan masih bayi, namun firasat pasti ada sampai sekarang.
"Pergilah Nak! Jangan buat dia sedih!"
Brian berdiri lalu berlari menemui sang istri. Sementara Kirani, dia merasa sedikit lebih lega. Baban di pundaknya terasa berkurang, selama ini dia selalu ketakutan jika orang itu akan kembali mengambil Byan kapan saja. Namun dengan adanya Brian, Kirani percaya jika laki-laki itu bisa melindungi putrinya.
****
Brian menatap wajah Byan denan cahaya lampu temaram. Mereka berdua memiliki kebiasaan yang berbeda, Byan suka tidur dengan keadaan terang, namun Brian sebaliknya. Tetapi, mereka tidak mengambil pusing perbedaan itu, jalan tengah mereka ambil. Sejak hubungan mereka membaik, kamar yang mereka tempati selalu memiliki lampu temaram yang agak lebih terang dari lampu tidur.
Helaian rambut Byan dia selipkan ke belakang telinga istrinya. Wajah ini, pantas saja Brian selalu merasa jika Byan sangat berbeda dengan anggota keluarganya yang lain. Brian pikir itu hal alami, karena terkadang, satu gen bisa menghasilkan berbagai macam produk yang berbeda.
"Kenapa kehidupan mu sangat rumit By? Aku janji, apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil mu dariku."
Brian mengecup bibir istrinya sekilas. Byan menggeliat, dia membuka matanya perlahan, senyum di bibir mungil itu muncul.
__ADS_1
"Daddy~~~ kenapa belum tidur hmm?" ujar Byan dengan suara serak setengah berbisik. Dia memeluk Brian semakin erat.
"Aku tidak bisa tidur By," ucap Brian masih mengusap wajah itu lembut.
Byan tersenyum. Dia membuka kancing piyama yang dia kenakan lalu mengubah posisi tidurnya agak lebih tinggi dari Brian.
"Tidurlah!" ucap Byan menarik kepala Byan dan membenamkan mulut suaminya pada balon air yang dia miliki. "Om besok ada pekerjaan pagi-pagi sekali, Byan juga harus menemui teman Byan, cepatlah tidur!" Gadis itu berucap masih dengan mata terpejam dan tangan yang tidak berhenti mengusap kepala suaminya.
Brian tersenyum. Istrinya ini sudah semakin tahu kebiasaannya. Padahal, selama ini Brian selalu melakukan ini diam-diam. Namun ternyata, Byan mengetahui itu dan dia juga tidak marah.
Malam itu mereka tidur dalam posisi saling memeluk, namun bibir Brian tidak berhenti bergerak, kegiatan rutin yang selalu dia lakukan ketika dia kesulitan tertidur adalah olahraga rahang dan otot pipi.
*Ngerti gak kalian Guys* 🤣 Otw kabur ini mah.
****
Keesokan paginya, Brian sudah siap dengan pakaian santai namun masih sangat sopan jika di pakai untuk pertemuan. Hari ini dia berencana untuk pergi ke pabrik salah satu kliennya di kota itu.
"Om!" panggil Byan memeluk suaminya dari belakang.
"Kenapa? Membutuhkan sesuatu?"
Byan mengangguk. Dia menatap mata Brian namun jemarinya terus bergerak mengabsen setiap bagian dari wajah sang suami.
"Aku tahu," ucap Brian. Dia mengeluarkan dompet dari saku coat yang dia kenakan.
"Pakai ini!" Brian menyodorkan black card miliknya. "Kartu ini tidak memiliki batas, apapun yang kau inginkan belilah, semalam aku sudah mentransfer uang ke akun yang ada di ponselmu, kau bisa jajan sepuasnya dengan itu. Dan jangan lupa, aku memasang mata pengintai di dekat mu, jangan pernah berpikir untuk berselingkuh dariku," Brian berbisik di samping telinga Byan. Gadis itu mengangguk antusias.
Cup!
Byan mengecup bibir Brian sekilas. "Byan tidak akan pernah selingkuh Om, k
Om adalah suami terbaik di dunia ini."
__ADS_1
Brian terkekeh, dia menarik pinggang Byan, lalu mengecup bibir istrinya dalam. Semakin lama, kecupan itu semakin tidak terkendali. Brian menekan kepala Byan agar gadis itu bisa lebih leluasa mengimbangi permainan nya.
"Byan! Turun Nak! Sarapan sudah siap!"
Brian dan Byan terkekeh mendengar lengkingan Kirani. Mereka langsung melepas tautan mereka. Saling menempelkan kening dan bertukar napas masing-masing.
"I love you By!"
"I love u more Daddy~~~"
Sekali lagi Brian mengecup bibir itu. Kali ini benar-benar hanya sebuah kecupan, karena setelah itu mereka langsung turun ke lantai bawah untuk sarapan.
"Selamat pagi Ibu, Ayah, Kak Haris, Bagas si bontot, dan calon Kakak ipar!" Byan menyapa semua orang dengan wajah mentarinya.
"Cieeee ... Abis ternak kecebong lagi ya!" ucap Anandita membuat semua orang tersenyum menatap Byan.
"Enggak kok, Byan hari ini mau ketemu temen Byan, kamu ikut gak Dit? Aku juga punya ini!" Byan mengacungkan dua kartu kredit milik suaminya.
Mata Dita berbinar, dia yang kala itu sedang menata makanan di atas meja langsung menghampiri Byan dan memeluk lengannya.
"Aku ikut ya! Aku janji, aku gak akan jajan banyak-banyak. Boleh ya!" Anandita memohon dengan wajah memelas. Dia menggoyangkan lengan Byan membuat gadis itu tertawa geli.
"Tergantung, jika kau bisa menyenangkan hatiku, maka aku akan mempertimbangkan nya."
Anandita tersenyum lebar. "Oke Tuan putri, silahkan duduk, hari ini, aku akan melayani mu sampai kau puas!"
Semua orang di buat tertawa dengan tingkah kedua gadis di rumah itu. Belum sempat mereka makan, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
Tok! Tok! Tok!
"Biar aku aja yang buka. Kalian lanjutkan makannya. Tuan putri juga makan yang banyak biar nanti semangat belanjanya."
To Be Continued.
__ADS_1
Like, komen, kembang sama kemenyan nya jangan lupa. 🤗🤗🤗