Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Orang Bodoh


__ADS_3

"Brian, sarapan dulu Nak! Kamu ini makin ke sini makin gak beraturan makan mu itu. Nanti kalau kamu lebih kurus istri kamu marah sama Ibu."


Brian tersenyum tipis menanggapi ocehan sang Ibu. Sebenarnya yang Anjani katakan itu benar. Brian seharusnya bisa menjaga diri dengan baik. Namun kerinduan nya kepada sang istri, membuat Brian agak sedikit kurang bersemangat. Setahun setelah Byan pergi, Brian seperti kehilangan jiwanya. Dia masih melakukan kegiatan nya seperti biasa. Hanya saja, hidupnya terasa kosong dan sangat hampa.


"Brian sarapan di kantor saja Bu. Lagi buru-buru. Hari ini ada meeting di kantor. Jadi gak akan sempat kalau sarapan dulu."


Anjani mendengus kesal mendengar alasan putra tertuanya. Pekerjaan selalu mejadi prioritas nya setelah Byan pergi. Anjani menyesal. Kenapa waktu itu dia tidak mencegah Byan pergi. Kalau Anjani melakukan itu. Brian pasti tidak akan kesulitan seperti ini.


"Kak, kenapa Kakak tidak menghubungi Byan saja? Kakak sih nyari penyakit sendiri. Udah tahu gak bisa jauh, malah di jauh in. Di tambah lagi Kakak malah putus kontak sama Byan. Kasihan Byan Kak."


Helaan napas berat terdengar oleh semua orang. Wajah putus asa Brian sangat ketara. Laki-laki ini belum pernah seperti ini sebelumnya. Mereka menjadi sangat yakin, jika Brian benar-benar mencintai Byan.


"Aku tidak melakukannya karena aku ingin Bima. Kalau aku terus berhubungan dengan Byan. Aku malah akan semakin merindukan nya. Jika sampai Byan merengek meminta untuk pulang, aku pasti akan langsung menjemputnya. Lebih baik seperti ini. Biarkan Byan melupakan ku untuk sementara waktu."


"Cih, sok keren. Ntar di lupain beneran baru tahu rasa. Tapi gak papa deng. Kalau Byan cerai sama Kakak. Biar dia turun ranjang aja. Aldi siap jadi suami yang bertanggungjawab untuk Mbak Byan."


Bughhhhh!


Kotak tisu di atas meja makan melayang hinggap di atas kepala Aldi. Pria itu meringis dengan senyum di wajahnya.


"Jangan asal ngomong kamu Aldi, jika sampai kau menyukai Byan. Maka, Ibu dan Ayah akan mencoret mu dari kartu keluarga. Biarkan saja kau jadi gelandangan. Biar tahu rasa."


Brian menggelengkan kepalanya. Andai Anjani tahu jika Aldi memang pernah menyukai Byan, dia yakin, Anjani hanya akan mengusir Aldi untuk sementara dan tidak akan sampai mencoretnya dari kartu keluarga.


"Brian berangkat dulu, Ibu, Ayah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati Nak!"


"Heum!"


Aldi memastikan jika Brian benar-benar sudah pergi. Dia kembali duduk lalu mengeluarkan ponselnya.


"Kau dengar itu Mbak. Kak Brian itu tolol banget sumpah. Dia nyiksa dirinya sendiri supaya Mbak Byan gak makin kangen. Beg o kan!"

__ADS_1


Terdengar suara kekehan dari telpon yang Aldi loud speaker. Gadis itu rela bangun pagi-pagi buta demi mendapat secuil informasi dari keluarga suaminya. Sebenarnya Brian sudah melarang semua orang untuk menghubungi Byan, agar mereka bisa merasakan apa yang Brian rasakan. Namun, orang bodoh mana yang akan melakukan itu. Mereka tentu saja akan menghubungi Byan meski harus main kucing-kucingan dengan Brian.


"Dia itu memang bodoh Al. Byan tahu kok. Om Brian pasti gila karena tidak bisa mendengar suara Byan. Pokonya, kalian harus janji sama Byan. Kalian harus terus kompori Om Brian sampai kepalanya benar-benar akan pecah."


"Siap Bos!" Semua orang berbicara dengan serentak. Termasuk Anjani dan Nugroho. Mereka tersenyum melihat tingkah konyol anak dan menantunya yang berlawanan arah.


"Udah dulu ya. Byan mau tidur lagi. Nanti Byan ada kelas pagi. Sehat-sehat semuanya, miss you. Muach!"


"Miss you to Baby Girl," ucap Aldi membuat semua orang melotot ke arahnya.


"Apa sih?" tanya Aldi dengan wajah heran. "Aldi cuma manggil Byan kayak panggilan Kak Brian ke Byan. Emang gak boleh?"


"Ya ga boleh lah Be go. Kamu pikir kenapa si bodoh itu manggil Byan kayak gitu? Ya karena dia ingin manggil Byan dengan panggilan sepesial. Jangan gila deh. Ngilangin mood aja."


Bima beranjak berdiri dari kursinya. Meladeni Aldi yang pura-pura bodoh membuat otaknya mendidih.


"Ibu, Ayah. Bima berangkat. Doakan Bima. Semoga sidang skripsi nya lancar."


"Iya Bu."


"Kamu gak ngampus Al?" tanya Nugroho.


"Males Ayah. Kan nanti Aldi tinggal minta uang aja dari Ayah. Presiden udah ada. Mentri banyak. Aldi mau jadi apa."


"Aldiiiiii!"


Anjani berteriak dengan nada 3 oktafnya. Bisa-bisanya Aldi berbicara seperti itu dengan wajah lempeng seperti jalan tol. Memangnya dia pikir hidup se mudah itu. Bahkan untuk bisa sampai seperti ini saja, Nugroho butuh puluhan tahun. Lah Aldi ini malah bertingkah seenak jidatnya kayak gitu.


"Pergi atau Ibu lempar kamu ke jalanan!"


Anjani melotot menatap putra bungsunya kesal. Aldi, pria itu dengan sigap berdiri menyambar tas dan kunci mobilnya.


"Gitu aja marah. Aldi cuma bercanda Ibu. Jangan galak-galak napa. Kek macan Asia aja Ibu ini."

__ADS_1


"Pergi atau ibu lempar kau pakai piring!"


"Iya, iya, Aldi pergi ibu. Dasar ibu gak ada akhlak," gumam Aldi namun masih bisa di dengar oleh Anjani.


"Aldi kamu benar-benar ya. Mulai besok, gak ada uang jajan dari Ibu. Mau makan, masak sendiri. Jangan harap kamu bisa makan enak di sini."


Aldi mendadak pucat pasi mendengar ancaman dari Anjani. Dia kembali mendekati Anjani lalu memeluknya dari belakang.


"Ibu, maafin Aldi. Aldi kan cuma bercanda. Tolong maafkan ya."


Anjani diam enggan untuk merespon Aldi.


"Ayah!" Aldi melirik Nugroho meminta bantuan darinya.


"Usaha sendiri. Mangkanya Jadi anak itu jangan usil." Nugroho berucap dengan santainya.


Aldi menunduk lesu. Dia memang hanya bercanda. Tapi kenapa semuanya jadi berakhir seperti ini. "Cepatlah pulang By. Tanpa kau, rumah ini jadi horor kayak gini. Gak seru."


****


Jam 8 pagi di Paris. Byan sudah bersiap dengan gaun hitam di atas lutut dengan balutan cardigan di bagian atasnya . Dia memoles lip balm. Rambut panjangnya dia ikat sedikit, dengan tatanan rambut agak bergelombang, Byan terlihat sangat cantik dan tampilannya ini membuat dia terlihat agak sedikit dewasa. Tak lupa tas selempang juga hells 5cm dengan warna senada menghiasi kaki nya yang putih nan mulus.


"Udah siap By?" tanya Navisa melihat penampilan Byan dari atas sampai bawah. Semakin hari gadis itu semakin pandai berdandan. Entah karena dia mengambil jurusan ini, jadi Byan semakin fashionable dan lebih memperhatikan penampilan.


"Siap Na. Mari kita mulai tebar pesona. Kali aja ada bule yang kecantol."


Navisa terkekeh. Mulut dan hati gadis ini selalu bertentangan. Byan bisa mengucapkan itu dengan lantang. Namun pada kenyataannya. Dia tidak pernah bisa menerima siapapun pria yang ingin berteman atau hanya sekedar ingin berkenalan dengannya.


"Dasar Dewi Muna kamu By. Lain di bibir, lain di hati."


To Be Continued.


Hari ini aku up 2 bab dulu ya. Tadi sempet ada acara dadakan. Mianhae Yeorobun. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2