
"Kalian itu bagaimana sih, saya sudah bilang untuk menjaga gadis itu baik-baik. Dia itu bukan gadis sembarangan, jika dia kenapa-napa dan orangnya menuntut sekolah ini, kalian mau apa. Belum lagi keluarga gadis itu adalah keluarga yang selalu memberikan pasilitas bantuan untuk sekolah ini. Kalian, aduh, bikin saya malu aja tahu gak."
Beberapa guru, penjaga, juga dokter yang wajahnya babak belur hanya bisa menunduk di hadapan kepala sekolah. Mereka tidak berani melawan karena takut kehilangan pekerjaan mereka. Pak Diki memang hanya seorang kepala sekolah, namun, entah bagaimana ceritanya, ketika dia tidak menyukai kinerja para guru dan pegawai di sekolah itu, Pak Diki akan langsung membuat guru-guru itu di mutasi ke tempat terpencil bahkan ada yang sampai di pecat karena di anggap tidak becus mengajar.
"Jika Tuan Nugroho marah dan menghentikan semua gelontoran dana yang selama ini selalu dia berikan, maka saya akan membuat kalian semua merugi." Pak Diki melenggang pergi setelah puas memaki semua bawahnya.
****
Malam hari. Byan terus bergerak gelisah dalam tidurnya. Brian kembali mengecek suhu tubuh gadis itu, sudah lebih baik, namun angkanya memang masih tinggi. Masih 38,7°c.
"Apa yang harus aku lakukan, aku bahkan sudah memberikan Byan obat, kenapa demam nya masih belum sembuh juga."
Brian berusaha berpikir, sampai sekarang dia masih mengompres kening Byan, namun tidak dengan leher dan ketiaknya karena dia takut gadis itu akan kedinginan.
"Mahen, aku harus menanyakan ini padanya."
Brian mengetikan sesuatu di ponselnya. Setelah mengirim pesan kepada Mahen, dia kembali menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Drtzzzzz!
"Bi, kalau semua cara sudah kamu coba, sekarang gunakan cara terakhir. Kamu juga harus istirahat Bi, gunakan bye-bye fever untuk mengompres kening istrimu. Lakukan cara kangguru. Kamu lepas semua pakaian kamu dan juga pakaian istrimu, dan peluk dia selama kalian tidur. Biasanya cara ini manjur, coba lakuin. Yang paling penting, istrimu harus banyak-banyak minum air putih. Cepet sembuh untuk Byan."
Brian melamun untuk sesaat. Brian memang sudah pernah melihat bagian tubuh Byan, namun jika dalam keadaan toples dia harus memeluk Byan semalaman, apakah gadis itu baik-baik saja.
"Akh masa bodoh lah, toh aku gak ada niat apapun."
Brian mengambil bye-bye fever dari laci obat-obatan. Setelah kompres itu terpasang. Dia melucuti semua pakaiannya kecuali boxer. Dengan gerakan perlahan, Brian mulai melepaskan semua pakaian yang Byan kenakan. Brian benar-benar bertanggungjawab. Dia tidak menatap langsung tubuh Byan karena dia tidak menyibak selimut yang Byan kenakan.
__ADS_1
"Maaf By," ucap Brian seraya melepas pengait bra yang Byan kenakan.
Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Brian tidak bisa tidur karena hal yang sedang dia lakukan sekarang. Brian rasanya ingin memaki dirinya sendiri karena dalam kondisi seperti inipun, Brian merasakan getaran aneh seolah-olah harimau dalam tubuhnya terbangun namun masih dalam proses pengumpulan nyawa.
"Cepet sembuh Sayang!"
Brian berbisik di telinga istrinya. Dia merengkuh tubuh polos itu di balik selimut yang mereka kenakan. Keadaan ini sungguh menyiksa dirinya. Jika Byan sakit karena demam tingginya, maka Brian sakit karena harimau dalam dirinya sudah mulai meronta.
****
Byan mengerejapkan mata beberapa kali. Dia mengucek matanya lalu membuka mata itu perlahan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Byan mencari suaminya namun suaminya itu tidak ada. Gadis itu mencoba untuk bangun, namun ketika dia bergerak, selimut yang dia kenakan tiba-tiba melorot. Matanya membulat. Refleks tangannya langsung menarik selimut itu dan menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Cklekkkk!
Byan menoleh ke arah pintu. Suaminya datang membawa nampan dan gelas berisi air juga susu hangat. Byan langsung tahu karena itu sudah menjadi rutinitas suaminya setiap hari.
Brian tersenyum. Istri kecilnya sudah bisa mengoceh dan berbicara ngawur. Itu artinya istrinya sudah jauh lebih baik.
"Sudah bangun? Ini minum dulu air putih, terus minum susunya mumpung masih hangat."
Brian menaruh nampan di atas nakas lalu memberikan air putih terlebih dahulu. Ketika Byan sedang minum, Brian mengambil sebuah termometer dan mengarahkannya ke kening Byan.
Tittttt!
37°C. Itu artinya istrinya sudah tidak demam lagi.
"Om belum jawab pertanyaan Byan ikh, Om gak ngapa-ngapain Byan kan? Om gak berusaha bikin Byan hamil kan? Om jawab Byan, Byan masih belum siap punya bayi. Byan masih ingin sekolah Om."
__ADS_1
"Kalau aku bilang aku memang sudah menanam benih di perutmu bagaimana?"
Byan langsung membulatkan matanya. Gadis itu menatap Brian dengan mata yang berkaca-kaca. "Huaaaaaa, Hikssss. Om Brian jahat sama Byan, kenapa Om tega hamilin Byan, Om, gak sayang ya sama Byan. Om jahat!"
Brian tersenyum. Bukannya terganggu dengan tuduhan istrinya, Brian maslah merasa kalau Byan ini sangat lucu. Padahal semalaman Brian sudah berusaha untuk menahan diri, namun saat gadis ini bangun, dia malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Jangan menangis, aku pasti akan bertanggungjawab."
Bukannya berhenti menangis, Byan malah berteriak semakin kencang. Gadis itu memukul dada suaminya yang kini sedang mendekap tubuhnya erat.
"Byan benci Om Brian. Om Brian gak sayang sama Byan."
Gadis itu masih terus memukuli suaminya dengan satu tangan karena tangan yang lainnya sibuk memegangi selimut.
"Aku hanya bercanda By, aku tidak mungkin mencuri kesempatan dalam kesempitan. Memangnya Byan tahu darimana kalau Byan bangun tidur gak pake baju, Byan bisa hamil?"
"Anandita Om, Hikssss, Anandita pernah ngajak Byan nonton drama. Hikssss, Byan nonton dan Byan lihat kalau perempuan dan laki-laki tidur satu ranjang tanpa mengenakan pakaian itu artinya mereka sudah menanam bayi. Hikssss, kita gak nanem bayi kan Om, Om gak boong kan sama Byan?"
Brian mengangguk sembari mengusap punggung istrinya lembut. Lagi-lagi Anandita. Gadis itu selalu meracuni otak polos istrinya dengan hal-hal seperti itu.
"Om, sekarang jam berapa? Byan mau sekolah."
"Jam 11 siang."
To Be Continued.
Aduh Guys, maaf lho kalau masih banyak typo. Jangan lupa like dan komentarnya ya. 🤗🤗🤗🏇
__ADS_1