Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
I'm Sorry


__ADS_3

Sebuah supercar Bugatti mewah berhenti didepan area perusahaan besar. Mobil sport berwarna Matte Blanc(Putih matte) di atas Silk Rose( Pink sutera) dengan interior Garis Rafale (Abu-abu) dengan sentuhan huruf Byan di jahit di sandaran kepala kursi dan di bagian dalam pintu.


Pintu mobil itu terbuka dengan apiknya. Seorang wanita cantik dengan rambut di Cepol di atas kepala keluar dengan anggunnya. Setelan kemeja putih transparan yang di lindungi oleh tank top senada dengan rok baby pink di atas lutut mempercantik penampilannya saat itu.


Outer senada dengan rok yang dia kenakan menggantung dengan indah di bahunya. Sepasang kaki jenjang itu melangkah memasuki loby perusahaan. Ujung hells yang beradu dengan lantai menimbulkan suara cukup nyaring. Puluhan pasang mata menyoroti wanita itu dengan tatapan kagum. Bahkan ada beberapa orang yang hampir saling menabrak karena tidak fokus.


"Maaf Nona, Anda ingin menemui siapa?" tanya seorang resepsionis kepada sang wanita cantik.


"Aku ingin ....


"Byan!"


Suara khas itu membuat Byan menoleh. Dia langsung berlari dengan senyum lebar di bibirnya.


"Ayah!" panggil Byan memeluk pria yang umurnya sudah lebih dari setengah abad.


"Ayah!" gumam resepsionis dan para karyawan yang tidak sengaja mendengar pekikan Byan.


"Bukankah Tuan tidak memiliki anak perempuan ya, apa wanita itu pacarnya Tuan Muda? Yah, sayang banget. Padahal aku sangat berharap untuk menjadi wanitanya Tuan Muda meskipun hanya untuk sehari."


Teman yang ada di sebelahnya mendelik. "Gila Lo, ngehalu itu jangan ketinggian, tar jatuh gak masuk rumah sakit dulu. Tapi langsung mati."


Byan tidak menghiraukan desas desus tidak penting itu. Wajar jika Brian banyak yang suka, suaminya itu memang selalu mencuri perhatian dimana pun dia berada.


"Ayah, Byan ingin menemui Om Brian. Byan akan pulang nanti. Jangan bilang sama orang rumah kalau Byan sudah pulang ya."


Nugroho mengangguk sembari mengusap pucuk kepala Byan lembut. "Pergilah! Temui pawang mu. Dia sedang dalam mood gak baik. Hati-hati!"


Nugroho membisikan kata-kata terakhirnya. Byan hanya terkekeh. Gadis itu langsung berlari menuju lift.


"Aku pikir dia sudah berubah, ternyata masih sama seperti dulu." Nugroho menggelengkan kepalanya sembari tersenyum menatap punggung Byan yang semakin menjauh.


Di dalam ruangan Brian, laki-laki itu tengah sibuk dengan berbagai tumpukan dokumen juga laptop di depannya. Biasanya pertengahan bulan seperti sekarang pekerjaannya agak sedikit berkurang, namun entah kenapa seminggu ini dia malah di berikan pekerjaan yang bejibun.


Krieetttt!


Pintu ruangan itu di buka dari luar. Brian mendengus menghembuskan napasnya kasar.

__ADS_1


"Ada apa lagi Dito, aku sudah bilang, aku sedang tidak bisa di ganggu." Brian berbicara tanpa menoleh ke arah pintu.


"Ah, jadi tidak ingin di ganggu ya, baiklah aku pergi saja."


Deg!


Brian refleks mendongak saat mendengar suara gadis pujaan hatinya yang sudah 4 tahun lebih tidak dia dengar.


"Byan!" Brian bergumam dengan mata membulat. Menatap gadis itu lekat. Debaran jantungnya tak terkendali. Benarkah yang dia lihat, apakah itu benar-benar Byan istrinya.


Klik.


Byan memutar kunci lalu berjalan mendekati Brian yang masih terbengong seperti orang bodoh. Ini sudah lebih dari 2 menit, namun Byan bisa melihat jika suaminya tidak berkedip sama sekali.


"Merindukan ku Tua Bangka!" Byan berbisik dengan seringai di bibirnya.


Brian terkesiap. Dia langsung berdiri, menarik pinggang Byan, hingga outer yang gadis itu kenakan jatuh ke lantai, Byan terpojok pada pinggiran meja.


"Aku tidak sedang berhalusinasi kan?" tanya Brian berusaha untuk memastikan.


"Yakkkkkk!"


Gadis itu berteriak di depan wajah Brian.


"Dasar baj Ingan. Kenapa kau membuang ku hah? Enak jadi duda? Kenapa tidak sekalian buang aku ke kutub Utara. Kau itu bodoh dan tidak berperasaan Tua Bangka. Aku memben .... kalimat itu tidak selesai. Karena pada saat yang sama Brian menundukkan wajahnya dan menciumnya. Ciuman lembut yang lebih dari 4 tahun ini tidak dia dapatkan. Byan memukul dada Brian kuat. Berusaha mendorong pria itu hingga dua kancing bagian atas kemeja Brian berjatuhan karena Byan benar-benar ingin menyingkirkan pria itu dari depan wajahnya.


"Don't be mad Baby Girl. I'm here. I miss you. Aku akan gila jika kau benar-benar marah padaku sekarang."


Bisikan suara bas suaminya membuat Byan bergeming. Gadis itu berhenti memukul suaminya, kini, tatapan mereka bertemu. Baru ingin membuka bibirnya, Brian sudah kembali menunduk menciumnya. Ciuman lembut yang detik berikutnya dia balas. Gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Brian, dan detik berikutnya, tubuhnya sudah melayang dan didudukan di atas meja. Tangan besar Brian menekan kepala Byan dalam. Sementara tangan yang satunya terus bergerak mengusap punggung gadis itu dengan gerakan yang mampu membuat bulu kuduk Byan merinding.


Manis dan memabukkan, itulah rasa bibir keduanya yang sudah lama ini tidak bertemu.


"Eungh!"


Suara erangan kecil Byan membuat libido Brian semakin tinggi. Brian sedikit membuka paha Byan dan mulai berselancar ria di sana.


Byan memekik tertahan. Jemarinya mengusap kasar rambut di kepala sang suami ketika bibir hangat yang sudah basah itu menghi sap juga menjila ti denyut-denyut di lehernya. Tangan nakal suaminya membuat Byan terhanyut solah terbang ke awang-awang.

__ADS_1


Semakin lama, pangutan mereka semakin ganas dan liar. Brian mengerang tertahan. Dia melepas semua kancing kemeja Byan hingga hanya tertinggal tang top putih dengan bola air yang sedikit menyumbul.


"Apa mereka sudah lebih besar?" gumam Brian tanpa mengalihkan tatapannya dari bola air milik sang istri. Wajah Byan memerah padam karena malu.


"Jangan menggodaku Daddy~~~.


Brian tersenyum. Dia mengangkat bongkahan padat di bawah pinggang Byan. Refleks gadis itu mengalungkan tangannya berpegangan pada leher sang suami. Kembali kedua bibir itu saling bertemu. Brian melangkahkan kakinya perlahan, kakinya menendang sebuah pintu di ruangan itu hingga mereka benar-benar masuk pada sebuah kamar minimalis. Byan tidak pernah tahu jika di ruangan suaminya sudah ada kamar seperti ini. Apakah Brian sengaja membuatnya khusus untuk mereka? Jantungnya semakin berdebar membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka lakukan. Mereka pernah melakukan nya satu kali di kantor, namun itu di sofa bukan di atas ranjang seperti saat ini.


"Kau benar-benar sangat cantik By."


Kegiatan mereka terus berlanjut, hingga buliran-buliran keringat membanjiri tubuh mereka. Lengguhan juga suara-suara erangan mendominasi di ruangan yang tidak terlalu besar.


Byan mencengkram kuat bahu suaminya ketika rasa itu kembali muncul, anggaplah Brian gila. Ini sudah ketiga kalinya dia membuat Byan mengalami pelepasan. Dan ketika itu terjadi, Brian juga telah sampai pada puncak kenikmatan.


Tubuh itu ambruk di atas tubuh Byan yang sudah lemas bak ubur-ubur yang tak bertulang.


"Aku mencintaimu By."


Brian mengangkat tubuhnya, mencium kening Byan sekilas, lalu berbaring di samping gadis itu sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Om hampir membunuh ku."


Brian hanya terkekeh. Dia kembali mendaratkan kecupan di pipi istrinya.


"Maaf Baby. But I'm so happy. Terima kasih Sayang."


"Hemmm."


To Be Continued.


Hai Guys. Gimana? jangan harapkan yang hot-hot dariku. Karena aku bukan ahli pernganuan. Gak bisa kalau di bikin terlalu rinci. Selamat berhalu ria Guys. Cenat cenut gak itu pala. 🤣




__ADS_1


__ADS_2