Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Tamu Kirani


__ADS_3

Selamat pagi Guys. Selamat hari raya idul Adha untuk semuanya. Semoga yang bisa berkurban di tahun ini, di berikan keberkahan, rizkinya di ganti dengan yang lebih baik dan lebih dari apa yang telah kalian kurban kan. Untuk yang belum bisa berkurban, semoga tahun depan kita bisa kurban hewan juga ya. Tetep semangat, Insyaallah, jika sudah ada niat baik, insyaallah Allah mudahkan.


Ooiyaaa. Untuk Kalian yang baca novel ini. Harap bijak dalam membaca ya, aku yakin, jika kalian sudah berani baca novel dengan rate 18+ kalian sudah tahu mana yang boleh, mana yang tidak, mana yang harus kalian tiru, mana yang tidak. Jika aku menambahkan sebuah hubungan yang belum halal di awal-awal bab, jujur aja, namanya orang pasti memiliki masa lalu, namun, bukan itu intinya. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa keluar dari lubang hitam yang membelenggunya. Jika Brian saja bisa berubah lebih baik, masa kita enggak sih.


Maaf udah ngebul pagi-pagi. Selamat membaca dan selamat beraktifitas. Salam dari Kim2. Jangan lupa bahagia.


Jika mau sedekah poin dari iklan Monggo. Kim2 menerima kok. Hehe. Udah akh. Cuap-cuap Mulu. Kapan mulainya. 🙈


.


.


.


Byan tersenyum dengan senyum terbaik yang dia miliki. Hari ini, Byan akan pergi ke Bandung dengan suaminya. Namun, mereka tidak menggunakan mobil dan malah menggunakan motor sport yang Brian miliki. Pada awalnya, Byan sangat tercengang, lantaran dia yang tidak pernah tahu jika suaminya juga sangat suka mengendarai motor.


"Om, kita beneran gak naik mobil nih? Om gak akan capek gitu?"


Brian tersenyum sembari memakaikan pakaian khusus untuk melindungi tubuh sang istri, sementara dia sudah mengenakan nya lebih dulu.


"Aku serius Baby, sebaiknya kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Sebentar lagi kau akan kuliah, setelah kau sibuk, aku juga sibuk, kita akan kesulitan menghabiskan waktu bersama seperti ini."


Zipper sudah terpasang sampai atas. Kini tinggal helem full face yang masih belum Brian pakai kan.


"Sudah siap?" tanya Brian. Byan mengangguk. Brian tersenyum lalu memakaikan helm untuk sang istri.


"Jangan lupa baca do'a dulu!" ingat Brian. Lagi-lagi Byan hanya mengangguk.


"Ibu, Byan pergi ya, Assalamualaikum!" gadis itu berteriak lalu menutup kaca helm nya kembali.


"Hati-hati Nak! Waalaikumsalam," ucap Anjani melambaikan tangan pada Byan dan Brian.

__ADS_1


"Siap?"


"Heum!"


Byan naik ke atas motor sang suami dengan perasan luar biasa bahagia, dengan sigap, Brian menarik sepasang tangan Byan, lalu melingkarkan tangan itu di pinggangnya.


"Byan siap Om!"


Motor besar itupun keluar dari area rumah keluarga Nugroho. Mereka sengaja berangkat lebih pagi supaya tidak terjebak macet dan udara pagi hari juga masih sangat baik, belum terlalu panas juga.


Dalam perjalanannya, mereka hanya berhenti satu kali di tengah-tengah perjalanan. Hari ini adalah hari yang bersejarah untuk Brian juga untuk Byan. Bagi Brian, ini sangat bersejarah karena, ini baru pertama kali baginya membonceng seorang wanita menggunakan motor kesayangannya, apalagi wanita itu adalah istrinya sendiri. Brian merasa jika semuanya sudah berjalan lebih baik, semenjak Byan hadir dalam hatinya, apa yang dia miliki, selalu ingin di miliki Byan juga. Sedangkan bagi Byan, ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa karena dia bisa melakukan apa yang belum pernah dia lakukan. Ya, selama ini Byan tidak pernah dekat dengan laki-laki. Sekalinya dekat, dia langsung jadi istri seseorang. Byan juga ingin merasakan bagaimana indahnya masa-masa berpacaran. Dia sangat bersyukur karena Brian membantunya mewujudkan khayalan semasa dia masih menjomblo.


"Di tempat lain, Kirani dan Adrian sedang menyiapkan berbagai macam makanan untuk menyambut Byan. Setelah selesai shalat subuh, Kirani langsung menceburkan diri ke dapur untuk memasak. Pada awalnya Adrian bertugas untuk membersihkan rumah, namun karena pekerjaan rumahnya sudah selsai, kini tinggal pekerjaan di dapur saja yang tersisa.


"Ayah, Ayah sudah menata meja makannya kan? Ini hari pertama anak kita kembali setelah beberapa bulan pergi. Kita harus menyiapkan yang terbaik untuknya. Jangan sampai Byan kapok dan tidak mau berkunjung ke sini lagi."


Adrian terkekeh. Istrinya ini sangat lucu. Mana mungkin Byan kapok datang ke rumah orang tuanya sendiri. Kirani ini terlalu overthinking jika sudah menyangkut tentang Byan.


Kirani mengangguk sembari memotong-motong sayur mayur. "Tapi Ibu sangat penasaran Yah, bagaimana hubungan Byan dan Brian sekarang ya, dulu, anak itu menolak untuk di jodohkan, bahkan kita semua tahu, bagaimana ketus dan cuek nya Byan ketika pertama kali bertemu dengan calon suaminya. Meskipun menantu kita sangat tampan, namun Byan masih anak kita yang polos dan tidak tahu apa-apa."


"Ayah yakin hubungan mereka sudah semakin membaik. Ibu tahu, sebenarnya Pak Nugroho ada mengirimkan foto sesuatu sama Ayah."


Kirani menghentikan aktivitasnya, matanya memincing menatap Adrian penuh selidik. "Foto apa Yah, kenapa Ayah tidak pernah bercerita sama Ibu?"


"Ini!"


Adrian mengambil ponselnya, lalu memperlakukan sebuah gambar kepada sang istri. Bukannya mengerti, Kirani malah di buat bingung, dia benar-benar tidak tahu apa maksud dari foto yang Adrian tunjukan.


"Ini apa Ayah? Gigitan apa ini? Apa orang ini gak rabies mendapat luka yang dalam seperti itu, Astaghfirullah, lihat, lehernya juga kena cakaran, apa dia di gigit singa? Ekh, kok gak hati-hati sih. Gimana ceritanya bisa begitu?"


Wajah Adrian mendadak prustasi, apakah ini benar-benar istrinya, kenapa dia sangat lemot.

__ADS_1


"Sini ayah bisiki!"


Kirani mengangguk lalu mendekatkan telinganya ke bibir Adrian.


"What? Ini beneran?" Kirani mendadak heboh, dia kembali mengambil ponsel Adrian dan memperhatikan foto tadi dengan seksama. Wajahnya memerah, matanya membulat sempurna.


"Ayah, anak kita sudah dewasa, dia sudah menjadi seorang wanita sesungguhnya," ucap Kirani menyeka air mata di sudut matanya.


"Kenapa kau malah sedih?" tanya Adrian.


Kirani dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ibu hanya tidak menyangka saja jika Byan kita sudah bukan anak kecil lagi. Selama ini Ayah juga tahu bagaimana sikap Byan. Selain manja, dia juga sangat polos, ini semua gara-gara Ayah yang melarangnya pacaran."


"Loh, kok nyalahin ayah. Kan pacaran emang gak boleh Bu, dosa besar. Emang Ibu mau, di aliri dosa sama anak perempuan Ibu, enggak kan?" Adrian berbicara sembari memeluk pinggang Kirani dari belakang. "Jangan pernah membiarkan anak-anak kita terjerumus Bu, kalau Haris sudah punya calon, Ayah akan langsung menikahkan mereka."


Ting tong! Ting Tong!


Baru juga akan menyela, bell di rumah mereka sudah berbunyi.


"Itu pasti mereka," ucap Kirani berlari ke arah pintu depan dengan wajah gembira.


Adrian hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kebiasaan," ucap Adrian mematikan kompor. "Kau ingin membuat tumis lodeh rasa arang lagi!"


Kirani merapikan penampilannya sesaat. Ketukan di balik pintu membuat Kirani tidak sabar untuk segera membukanya.


"Waalaikumsalam," jawab Kirani sembari memutar handel pintu.


"Ibu!"


"Kalian?"


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2