Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Keberadaan Seseorang


__ADS_3

Byan turun dari motor suaminya agak sempoyongan. Brian yang melihat itu langsung menarik tangan Byan dan merangkul pinggangnya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang manis semanis gula tebu. Perlahan, Brian membuka kaca helm Byan dan menatap mata itu dalam.


"Capek?" tanya Brian penuh perhatian.


"Hehe, agaknya gitu Om, ini pertama kalinya Byan naik motor jarak jauh."


Brian mengangguk. Dia membuka helm Byan lalu meletakkan helm itu di atas motor.


"Kalau begitu kita harus lebih sering jalan-jalan pake motor. Lama-lama juga pasti terbiasa."


"Eum, kita pulang naik motor lagi ya, Byan suka," ucap Byan dengan mata berbinar.


Brian mengangguk kembali. "Iya, sekarang masuklah! Ibu pasti sudah menunggu!" ujar Brian mengusap pucuk kepala sang istri.


Tanpa berpikir panjang. Byan langsung berlari membuat Brian kembali menyunggingkan senyum. "Dasar Boncel."


Byan masuk sembari mengucapkan salam. Dia tidak mengetuk pintu karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu keluarganya.


"Kau!" Byan bergumam sembari menunjuk wanita yang kini sedang duduk di depan kedua orang tuanya.


"Dita ngapain kamu di sini?" tanya Byan keheranan. Anandita hanya tersenyum menampakan deretan gigi putihnya.


"Kamu sudah datang Nak, Ibu kangen banget!" Kirani memeluk Byan. Byan membalas pelukan Kirani, namun dia agak kurang fokus karena dia masih bingung dengan keberadaan Anandita.


"Assalamualaikum," ucap Brian masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumssalam!" jawab semua orang. Adrian menghampiri Brian lalu memeluk menantunya sebentar.


"Capek ya Nak, ayok duduk! Ayah dan Ibu sudah memasak banyak untuk kalian! Jam berapa dari sana? Macet gak?"


Brian menjadi bingung mendapat pertanyaan beruntun seperti itu. Dia masih tersenyum dengan wajah kikuk.


"Ayah, Ayah gitu ya, Byan belum di peluk Lho. Ayah udah gak sayang lagi ya sama Byan, udah ada anak baru? Ya udah, kalau gitu Byan pergi aja lagi. Ibu Anjani sama Ayah Nugroho lebih sayang sama Byan."


Byan menatap Adrian sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Adrian terkekeh, dia berjalan mendekati Byan lalu memeluk putrinya lama.


"Putri Ayah merajuk ya, jangan manyun gitu dong, nanti gak cantik lagi. Byan kan anak Ayah yang paling Ayah sayang. Duduk yuk!"

__ADS_1


"Enggak, Byan mau marah yang lama sama Ayah!"


Byan melengos pergi meninggalkan semua orang. Adrian dan Kirani juga Brian hanya bisa tersenyum melihat tingkah orang yang mereka sayangi.


"Nak! Pergilah! Kau tahu kan kamar Byan yang mana, Ibu tahu dia masih ke Kanakan, tapi kalau gak ada yang bujuk, dia pasti gak akan kembali turun!"


Brian mengangguk. Dia pergi setelah memeluk Kirani. Dia juga sangat kegerahan dan ingin membuka pakaian yang dia pakai saat ini.


Anandita menatap keluarga itu dengan mata berkaca-kaca. Sesekali dia mengusap sudut matanya yang berair. Kirani mengerutkan kening melihat wajah sedih Anandita.


Flashback on


"Waalaikumsalam," jawab Kirani sembari memutar handel pintu.


"Ibu!"


"Kalian? Haris, ini siapa?" tanya Kirani to the point.


Haris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Halo Tante, saya Anandita, calon masa depan putra Tante."


"Siapa Bu?" Adrian muncul dari balik punggung Kirani.


"Ayah, ucapan ayah di ijabah Allah, anak kita pulang bawa mantu Yah, dia cantik kan?" Kirani yang semula menunjukkan wajah kaget kini malah berbinar dengan wajah berseri-seri.


"Ayok Nak! Masuk!" Kirani menarik tangan Anandita, membawa gadis itu masuk ke rumahnya meninggalkan Haris dan Adrian yang masih mematung di ambang pintu.


Beberapa menit kemudian, Kirani duduk di depan Anandita sembari menatap Anandita lekat.


"Kamu asal mana Nak, kelahiran tahun berapa? Ibu juga punya anak perempuan, ya seusia lah sama kamu kayaknya."


Anandita tersenyum. "Saya teman sekelas Byan Tante," jawab Dita semakin membuat Kirani heboh.


"Ayah! Lihat, ternyata ini teman putri kita. Tolong matikan kompor Yah! Ibu mau mengobrol banyak bersama calon menantu Ibu."


Adrian dan Haris saling pandang. Haris menggelengkan kepalanya berusaha untuk mengatakan jika Dita itu bukan siapa-siapa untuknya. Dia hanya terpaksa membawa gadis itu karena kasihan. Dita bilang, kalau Haris tidak membawanya pergi, dia akan bunuh diri. Ya mau tidak mau, Haris membawa Dita pulang meski dengan perasaan tak karuan.

__ADS_1


"Kamu udah lama kenal sama Byan?"


Anandita mengangguk. Dia mengambil jus buah yang Kirani sodorkan padanya. "Eum, sudah Tante, Byan baik, jadi Dita nyaman temenan sama anak Tante. Tante, Dita boleh kan tinggal di sini, Dita kan mau nikah sama Kak Haris, Dita gak mau pulang Tante, Dita mohon, jangan usir Dita ya! Dita janji, Dita bakal jadi anak baik, Dita bakal bantu Tante ngurus rumah, Dita bisa masak kok Tante. Nyuci juga bisa."


Kirani tersenyum. Tangannya terulur mengusap wajah Anandita lembut. "Bagaimana dengan orang tuamu Nak? Kalian itu kan belum menikah, pamali kalau kalian sering-sering bersama seperti ini."


"Kalau gitu, nikahin Dita sama Kak Haris sekarang Tante, tapi jangan usir Dita."


Haris membulatkan matanya. Sementara Adrian, dia tertawa mendengar kata-kata Anandita yang menurutnya sangat berani. Anak jaman sekarang memang sudah tidak seperti anak jaman dulu.


"Ekh kenapa main nikah-nikah aja. Haris gak setuju." Protes Haris tidak terima.


"Tapi Ibu sama Ayah setuju. Iya kan Yah?"


Adrian menyenggol bahu Haris. "Iya setuju lah kalau Ayah!"


Haris menurunkan bahunya lesu. "Ayah, Ibu, kalian ini keterlaluan."


Flashback off


"Kenapa Nak? Apa ada yang menggangu perasaan mu? Bilang sama Ibu, apa karena Haris bilang dia tidak mau menikahi mu? Kamu jangan khawatir, Ibu pasti akan membuat anak itu bertekuk lutut padamu!" Kirani menunjuk wajah Haris sembari menatapnya tajam.


Anandita tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dia berdiri, memeluk Kirani seolah-olah dia sedang memeluk ibunya sendiri.


"Ibu, bolehkah aku memanggil mu seperti itu?" tanya Dita dengan suara lirih.


Kirani mengangguk. "Tentu saja, panggil aku Ibu, dan panggil suami ibu Ayah. Kamu mau jadi anak ibu kan? Mulai sekarang, kita adalah keluarga."


Haris memutar bola matanya. Dia menunduk lalu membentur kan keningnya ke meja terus menerus.


"Astaghfirullah, cobaan apalagi ini. Kenapa mereka memperlakukan aku seolah-olah aku tidak ada. Gadis itu, Ayah dan Ibu, kenapa mereka tega melakukan ini padaku."


"Kamu bicara apa Haris, kamu sudah bawa anak orang jauh-jauh, tanggungjawab. Nikahi dia, setelah itu, Ibu dan Ayah yang akan merawatnya."


"Ayahhhhhhh!" Haris menatap Adrian dengan wajah putus asa.


Sementara Anandita dan Kirani, mereka tertawa melihat wajah frustasi Haris.

__ADS_1


To Be Continued.


Like dan komentarnya jangan lupa Guys.


__ADS_2