
"Loh kenapa menantu Ibu, Byan sakit?"
Anjani terlihat sangat panik ketika Brian menggendong Byan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Ibu, ibu tahu bukan apa yang harus kita lakukan untuk merawat orang demam tinggi, Byan gak mau di bawa ke rumah sakit Bu, tapi badannya panas banget."
Brian berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Masalahnya Byan sudah sangat pucat. Badannya menggigil namun Brian merasakan suhu tubuh Byan ini sangat panas.
"Ibu akan menyiapkan kompres air hangat, kamu bawa Byan ke kamar, kalau bisa, ganti pakaian Byan dengan yang lebih nyaman."
Brian mengangguk. Dia langsung membawa Byan ke kamar lalu membaringkannya di atas ranjang.
"Mbok, Mbok Jum!"
Anjani berteriak sembari sibuk menyiapkan air ke dalam baskom yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.
"Iya Nyonya ada apa?"
"Byan demam tinggi Mbok, tolong buatkan air rebusan daun kelor sama jahe. Kasi gula merah dikit biar gak sepet. Kalau enggak ada pake gula batu boleh. Nanti antarkan ke ke kamar Brian ya. Ekh satu lagi Mbok, tolong buatkan bubur, sayur nya pake sayur beku aja gak papa. Kaldu sapinya masih ada kan?"
"Iya Nyonya."
Anjani melangkah naik ke atas dengan langkah tergesa. Sesampainya di kamar Brian, Brian langsung mengambil baskom di tangan Anjani. Dia meletakan baskom itu di atas meja dan mulai mengompres kening Byan.
"Bi, kamu kompres ketiak sama lehernya juga. Gak papa pake baju nya yang gak ada tangannya aja dulu."
Brian mengangguk. Dia berlari ke walk in closed untuk mencari baju yang sesuai. Anjani menggantikan peran Brian untuk sementara. Dia mengompres leher juga kening Byan dengan sangat telaten.
__ADS_1
"Cepet sembuh sayang, kalau kamu lama sembuhnya nanti ibu panggil Mahen ke sini."
Byan mengangguk lemah. Sekujur tubuhnya panas dingin dan sangat ngilu. Matanya panas dan berair. Byan rasanya Byan sangat ingin menangis dan mengatakan jika ini sangat menyakitkan.
"Ibu, ini bajunya." Brian menyodorkan baju ganti Byan kepada Anjani.
Anjani menoleh. "Kamu yang pakaikan saja. Ibu mau bantu Mbok Jum dulu. Kamu kompres aja terus di tiga bagian yang udah Ibu sebutkan tadi. Kalau airnya sudah dingin kamu ganti lagi dengan yang hangat."
Anjani keluar dari kamar Brian, menutup pintu kamar itu perlahan.
"Astaghfirullah, kalian sedang apa di sini?" Anjani terkejut lantaran Aldi, Anandita dan Navisa berdiri di depan pintu kamar Brian dengan wajah yang memelas dan lesu.
"Byan bagaimana Tante, apa dia baik-baik saja."
Anjani menggeleng. "Byan masih demam. Kalian turun saja ke bawah saja dulu. Ada makanan di atas meja makan, kalian makan lah dulu. Ini sudah hampir sore."
****
"Om, sakit!"
Byan berseru lirih ketika suaminya sedang mengganti pakaiannya. Brian menatap istrinya dengan tatapan yang sendu, tangan kekarnya membaringkan Byan dengan sangat hati-hati seolah Byan ini adalah anak bayi yang masih sangat rapuh. Usapan lembut dia berikan, bahkan kecupan-kecupan ringan memenuhi seluruh wajah Byan. Hati Brian sakit melihat istrinya merintih kesakitan seperti ini. Jika bisa, Brian sangat ingin meminta jika dia saja yang sakit, namun dia tahu dan dia sadar jika semua itu tidak mungkin terjadi.
****
Brian menatap wajah istrinya yang kini sudah mulai memejamkan mata. Bersyukur, setelah memberikan Byan ramuan yang di buatkan oleh Mbok Jum, gadis itu bisa tidur meskipun sepertinya tidurnya masih belum nyaman.
"Cepet sembuh By, aku akan menghukum anak-anak itu sebentar, nanti aku kembali lagi."
__ADS_1
Brian mengecup bibir Byan sekilas lalu berjalan keluar dari kamar dengan langkah sepelan mungkin. Matanya menatap Aldi, Anandita dan Navisa dengan tatapan dingin dan tajam. Jujur saja Brian sangat ingin meneriaki ketiga orang itu, namun dia masih memiliki hati nurani dan tidak ingin membuat kedua sahabat Byan menjauh dari gadis itu gara-gara dia yang terlalu keras.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu meninggalkan Byan sendirian di UKS Aldi!"
Aldi menunduk sembari memainkan kain seragam yang dia kenakan. "Tadi aku ingin mengambil tas Byan Kak, aku tau dia takut dokter, jadi aku mau langsung ajak Byan pulang."
Brakkkkk!
Ketiga orang itu langsung terperanjat saat Byan menggebrak meja dengan keras.
"Kau itu bodoh atau bagaimana, kau tahu Byan takut dokter tapi kau malah meninggalkan Byan bersama dokter sialan itu. Dan kalian!" Brian menunjuk Anandita dan Navisa. "Kalian ini kemana, kenapa kalian tidak ada di saat kondisi Brian seperti itu?"
"Aku,-"
Navisa mencubit lengan Anandita ketika Anandita ingin membuka suara. Dia tidak bisa membiarkan sahabatnya ini menambah runyam suasana.
"Kenapa diam? Mendadak bisu? Mau saya lempar ke kandang singa supaya kalian bisa berbicara?"
Ketiga orang itu malah menunduk semakin dalam. Mereka tidak berani menyela karena mereka tahu kalau mereka ini memang salah.
"Bulan depan kalian tidak akan mendapatkan uang jajan. Dan satu lagi, sebelum Byan sembuh, kalian tidak boleh mengikuti ujian. Jika Byan tidak lulus, maka kalian juga tidak boleh lulus."
Kalimat terakhir yang Brian ucapkan semakin membuat wajah ketiga orang itu pucat pasi. Mereka ingin menyela namun pada kenyataannya mereka hanya bisa menjerit dan menangis di dalam hati.
To Be Continued.
Hayoloh, gak lulus bareng-bareng.🤣🤣🤣
__ADS_1