
Menjelang kelahiran baby twin's, Byan dan suaminya sudah mempersiapkan banyak hal, termasuk mendekorasi kamar untuk bayi, juga membeli segala peralatan dan kebutuhan untuk bayi-bayi mereka nantinya.
Seperti hari ini, Byan dan Brian sengaja berkeliling di sebuah mall terbesar di kota itu, meskipun kondisi perut Byan yang semakin lama semakin memberatkannya, itu sama sekali tidak berarti. Kenapa? Karena Brian memberikan semua pasilitas yang Byan butuhkan, seperti kursi roda dan juga beberapa pelayan di mall tersebut untuk mengikuti mereka dan menjadi bodyguard sementara untuk bumil yang sedang ngidam jalan-jalan di pusat perbelanjaan.
"Om, Byan mau liat itu." Byan menunjuk sebuah etalase yang memajang barang-barang branded seperti high heels, tas juga yang lainnya.
Brian menunduk, tidak langsung membawa sang istri masuk ke dalam toko tersebut karena dia sangat yakin jika apa yang akan di minta istrinya ini pasti sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dia beli.
"Kau ingin sepatu itu kan?" tanya Brian ketika melihat sepasang high heels yang di pajang di sebuah etalase kaca khusus. Dia sudah hapal dan tahu selera istrinya, tanpa Byan bicara pun, Brian sudah tahu apa yang akan istrinya minta.
Byan menoleh ke arah suaminya. Wanita itu mengangguk, memasang wajah memelas agar suaminya mau memenuhi keinginannya. Namun di luar dugaan Byan, Brian sama sekali tidak tergerak, dia malah kembali berdiri, dan mendorong kursi roda menjauh dari toko tersebut.
"Om!"
Byan merengek dengan semua kekuatan yang dia miliki, mendongak menatap suaminya tidak terima jika mereka pulang tanpa membawa barang yang Byan mau.
"Kau ini sudah tidak boleh memakai sepatu seperti itu, lagipula jika kau beli sepatunya sekarang, belum tentu akan muat jika di pakai setelah melahirkan. Kita beli nanti saja kalau baby twin's sudah lahir ya! Jika perlu, nanti aku belikan bersama dengan tokonya sekalian."
Bukannya senang, Byan justru semakin merengut tidak suka. "Byan janji, Byan gak akan pakai sepatutnya, Byan cuma pengen aja. Gak di pake, cuma di liat aja. Please Om, Om gitu ikh, Om udah gak sayang sama Byan."
Melihat istrinya semakin merajuk, Brian menjadi sangat serba salah, sebenarnya memang tidak apa-apa jika Byan ingin membeli sepatu itu, namun Brian takut jika Byan akan memakai sepatu itu tanpa sepengetahuan Brian.
"Ya sudah, kita beli, tapi janji, gak boleh di pake. Cuma boleh di liat aja."
Byan mengangguk mantap, wajah murungnya kembali ceria. Tangan dan kakinya terus bergerak meminta Brian untuk putar balik dan kembali ke toko tersebut.
"Wooohhhhhhhhh!"
__ADS_1
Wajah cantik dengan bibir mungil itu kian merekah, ekspresi takjubnya membuat Brian tersenyum bahagia, meskipun dia tidak setuju dengan keinginan Byan, namun melihat Byan senang seperti ini rasanya sangat menyenangkan.
"Ini sepatu edisi terbatas Nyonya, hanya ada100 pasang di seluruh dunia, dan ini juga hanya tinggal satu." Seorang pelayan menjelaskan ketika Byan mengelus dan menatap sepatu itu dengan binar di matanya.
"Nomor berapa yang tersisa?" tanya Byan tidak sabaran.
"Nomor 37 Nyonya."
Byan kembali melirik suaminya. Sang suami menggelengkan kepala, Byan yang melihat itu kembali mengerucutkan bibirnya tidak suka.
"Ya sudah kalau tidak boleh, Byan pulang aja. Gak asyik belanja sama Om, mending Byan ajak Kak Bima sama Aldi aja."
Byan menyerahkan sepatu itu pada pelayan toko, mendorong rodanya sendiri tidak menunggu Brian untuk membantunya.
"Tolong bungkus saja Mbak!" Brian menyerahkan black card miliknya. Brian menggeleng bukan karena tidak setuju untuk membeli sepatu itu, namun ukuran sepatu Byan memang naik 2 angka, jadi Byan pasti tidak akan bisa mencobanya. Namun setelah di pikir-pikir, sepertinya ini lebih baik, karena Byan sudah pasti tidak akan bisa memakai nya. Salah satu pelayanan yang Brian pekerjakan mengambil barang nya, sementara itu, pelayan yang lain tiba-tiba masuk ke dalam toko dengan napas yang terengah-engah.
Tanpa basa-basi, Brian langsung melesat pergi keluar dari toko. Dia memang ceroboh, namun tadi Brian sudah meminta pelayanan untuk mengikuti istrinya, kenapa dia bisa sampai kecolongan.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, depan, belakang, tak ada yang luput dari pandangan nya. Mall yang luas itu terasa 10 kali lebih luas tat kala Brian tidak berhasil menemukan istrinya. Dalam hati dia terus menggerutu dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Kau di mana Baby?"
Brian berlari ke sana kemari, menengok setiap toko yang letaknya tak jauh dari toko sebelumnya. Brian yakin istrinya masih belum jauh, terlebih dia yang mengunakan kursi roda, pasti tidak akan bisa secepat jika dia berjalan.
Beberapa toko sudah dia lewati, Brian sama sekali tidak menemukan apapun. Hasilnya masih nihil, orang yang dia cari masih tidak menampakkan batang hidungnya.
"Dito, Byan menghilang, cepat masuk dan cari istriku, kau sisir dari lantai paling bawah, jika perlu, suruh beberapa orang untuk membantu."
__ADS_1
Setelah menghubungi asisten pribadinya, Brian kembali berlari, jika saja Byan tidak sedang hamil besar, mungkin dia tidak akan terlalu khawatir, namun keadaan nya sekarang berbeda. Istri kecilnya itu sedang ada dalam kondisi yang rentan.
"Astaga! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, kasihan wanita itu, padahal dia sedang mengandung, kenapa orang itu sangat tega."
"Iya, kau tadi lihat kan, karena pukulan yang pria brengsek itu lakukan, wanita muda itu langsung pendarahan. Kasihan sekali dia, aku harap dia dan bayinya akan baik-baik saja."
Jantung Brian berpacu sangat kencang, napasnya tercekat, lututnya mejadi sangat lemas seperti jelly. Langkah Brian semakin cepat, dia melihat kerumunan orang di lantai bawah, masih belum ada para medis, itu artinya kejadian itu belum lama terjadi, desas desus tak baik yang Brian dengar membuatnya semakin khawatir dan gelisah.
"Baby, kau harus baik-baik saja. Jangan menakuti ku seperti ini."
Pria itu menuruni elevator yang penuh dengan pengunjung tergesa, dia tidak segan-segan menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya. Fokus Brian sekarang adalah Byan, bukan yang lain.
"Permisi, maaf!"
Brian menyingkirkan orang-orang yang sedang berkerumun. Dari kejauhan, dia melihat genangan darah di lantai mall. Pikirannya semakin kacau. Jantungnya seperti sudah berhenti berdetak.
"Byan!"
Pria itu memekik membuat semua orang yang ada di depannya menyingkir. Tubuh Brian bergetar hebat, pria itu menunduk, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
"Baby!" lirih Brian dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan Muda!"
Dito menatap Brian dengan tatapan nanar. Kini, bukan hanya Brian yang merasa hancur, namun Dito juga ikut merasakan hal yang sama.
To Be Continued.
__ADS_1
Duh pagi2 Eneng udah bikin rusuh aja. 🥺🥺🥺