
Setelah Dokter mengatakan jika Byan sudah baik-baik saja, Brian semakin bersemangat untuk mengurus istri cantiknya, Byan lebih kurus dari sebelumnya, namun itu tak membuat Brian berpaling, wajah pucat Byan masih sangat ketara, meskipun sudah tidak ada alat bantu penunjang hidup, namun masih ada selang infus yang tertancap di punggung tangannya. Byan masih belum bisa bergerak karena selama 4 tahun ini dia hanya berbaring, otot di kaki dan di panggulnya kaku. Byan hanya bisa diam sambil menatap dua bocah kecil yang kini sedang duduk di sofa dan menatap ke arahnya.
"Om!"
"Iya Baby!"
Brian yang sedang memakaikan baju ganti untuk Byan menoleh menatap wajah istrinya.
"Mereka, mereka siapa? Kenapa mereka sangat lucu!" tunjuk Byan pada dua bocah kecil yang sebenarnya adalah anaknya.
"Kemarilah!"
Brian melambaikan tangannya ke arah Ammar dan Ameera. Dua bocah itu turun dari sofa, mereka berjalan sedikit berlari. Langkah cepat nan pendek itu membuat Byan sangat gemas.
"Perkenalkan diri kalian!" titah Brian lagi.
"Halo Mommy, namaku Ammal Zeeshan Nugloho. Putla kedua Mommy Byan dan Daddy Blian."
"Halo Mommy, Namaku Ameera Putri Nugroho, Putri pertama Mommy Byan dan Daddy Brian!"
Kedua bocah itu membungkuk melipat kedua tangannya di atas perut. Brian tersenyum, sementara Byan, wanita itu celingukan tidak jelas, dia melirik Byan. "Mereka anak-anak ku?" tanya Byan dengan wajah tidak percaya.
Brian mengangguk, "sekarang sudah 2022. Sudah 4 tahun sejak kau melahirkan mereka."
Byan membekap mulutnya. Matanya tiba-tiba terasa sangat panas dan berair, dia melirik Brian, lalu kembali melirik kedua bocah yang kini sedang tersenyum manis kepadanya.
"Om gak bohong kan sama Byan?"
Brian menggelengkan kepalanya. Dia memangku Ammar dan Ameera kemudian mendudukkan bocah-bocah itu di dekat Byan.
"Apa kalian anak-anak Mommy?" tanyanya seperti orang bodoh.
Bocah-bocah itu mengangguk bersamaan. "Kita anak Mommy, dan kita sudah sangat merindukan Mommy."
"Iya, Ammal juga sangat melindukan Mommy Byan."
"Huaaaaa!"
Byan memeluk kedua anaknya sembari meraung-raung. Dia benar-benar tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi padanya. Dia pikir, dia hanya tidur sebentar, namun bagaimana caranya anak-anak kecebong yang dulu masih dia kandung sudah sebesar ini.
"Masyaallah, Mommy menyesal karena tidak bangun lebih cepat Nak, maafkan Mommy."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mommy, kita sayang Mommy Kok."
Byan menganggukkan kepalanya. Dia mengecup kepala Ammar dan Ameera beberapa kali.
"Terima kasih ya Allah, terima kasih karena engkau masih memberikan ku kesempatan untuk melihat anak-anak ku. Terima kasih Om Brian."
Brian mengangguk, dia ikut mendekap ketiga orang yang ada di depannya, Brian sangat bersyukur, dia sangat bersyukur karena kini dia bisa berkumpul dengan Byan dan juga anak-anak nya. Brian bisa memulai kehidupannya. Mereka bisa menjalani hari-harinya dengan menjadi keluarga yang lengkap dan utuh sekarang.
****
Setelah beberapa hari, Byan sudah lebih membaik, respon yang dia berikan lebih tanggap dari sebelumnya, dia juga sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa, yang artinya, Byan hanya harus menjalani pemulihan namun masih belum pasti dia bisa keluar dari rumah sakit kapan.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Byan tanpa berkedip. Orang yang di tatap juga memperhatikan setiap orang mencoba untuk mengerti situasinya saat ini. Semuanya terasa sangat asing untuk Byan, dia tahu siapa orang-orang yang ada di depannya, namun kenapa mereka bertambah banyak.
Ammar, dan Ameera berkumpul dengan anak-anak yang lain, ada 2 yang sepertinya sama dengan kedua anaknya. Namun ada yang lebih kecil lagi, dan lebih kecil lagi. Byan melirik suaminya yang sedang membantu dia menyisir rambut.
Seakan mengerti dengan tatapan Byan, Brian duduk di tepian ranjang di samping istrinya, memeluk nya dan ikut menatap ke arah yang di tatap sang istri.
"Kau lihat anak laki-laki yang ada di samping Ammar, dia adalah anak Bima, dan anak yang ada di depan Ammar, dia adalah anak Tania."
"Lalu anak kecil yang satunya siapa?"
Byan menggelengkan kepalanya. Selama ini dia sudah melewatkan banyak hal, bukan hanya melewatkan masa pertumbuhan anak-anak nya sendiri, namun dia juga tidak tahu kalau mereka sudah memiliki anak sama seperti nya.
Brian melepaskan pelukannya, ia menatap sang istri dan mengecup keningnya lama. "Terima kasih karena telah berjuang untuk kami By, terima kasih karena tidak menyerah. Kami sangat menyayangi mu."
Byan mengangguk, ia membalas mengecup pipi suaminya sekilas. "Terima kasih karena sudah menunggu ku selama ini. Terima kasih karena telah menjadi ayah yang baik, terima kasih karena tidak meninggalkan ku."
Mereka berdua semakin tenggelam dalam perasaan haru yang luar biasa. Perasaan tidak percaya dan masih seperti sebuah mimpi untuk mereka. Selama 4 tahun ini, mereka seperti terpisahkan alam, namun dalam sekejap, mereka bisa kembali bersama.
"Eling Woy! Baru bangun udah bikin mata sepet aja!"
Byan menoleh dan terkekeh, wanita bar-bar itu, Anandita, dia masih sama, ucapannya masih seperti dulu. Byan melepaskannya pelukan sang suami, menatap ke arah Anandita dan merentangkan kedua tangannya.
"Aku sangat merindukanmu By."
Anandita melongo ketika Tania menerobos antrian sampai membuat Anandita hampir terjungkal. Tania memeluk Byan erat, sedangkan Anandita, dia menatap kesal Tania dengan mata melotot tajam.
"Nia Lo suka banget nyerobot antrian anjir."
Byan menaruh jari telunjuknya di atas bibir lalu melirik anak-anak mereka yang sedang bermain di samping ranjangnya. Anandita mengangguk, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia memang selalu seperti ini, terkadang akan lupa kalau dia sudah harus menjaga emosi juga ucapannya agar anak-anak mereka tidak meniru hal-hal yang kurang baik darinya.
__ADS_1
Setelah Tania melepaskan pelukannya, kini giliran Anandita, namun lagi-lagi baru akan memeluk Byan, dia sudah di serobot orang lain.
"Kak Adelle!"
Anandita memekik membuat semua orang menatap ke arahnya begitupun dengan para bocil itu.
"Akh tahu akh, gue kesel sama kalian. Gue mau pulang aja."
Anandita berjalan ke arah pintu ruang rawat Byan, dia memegang handel pintu, memutarnya, namun kembali menutup nya dan berbalik.
"Kenapa gak ada yang cegah aku sih? Aku beneran pulang nih!"
Anandita kembali memutar handel pintu, membukanya dan menutupnya kembali.
"Yak!"
Gelak tawa terdengar di ruangan itu. Mereka semua menertawakan Anandita yang masih bertingkah konyol seperti saat dia masih gadis, bahkan setelah dia sudah memiliki anak pun, kekonyolan nya tidak hilang dan malah semakin menjadi.
"Maafkan aku Dita, sekarang giliran mu!" ucap Byan.
Anandita berjalan menuju ranjang Byan dengan kaki yang sengaja dia hentak-hentakkan kesal.
Baru akan memeluk wanita itu, tiba-tiba tubuhnya terdorong ke samping hingga membuat Anandita benar-benar tersungkur di atas lantai.
"Yakkkkkk!"
Anandita menatap Navisa dengan mata yang hampir keluar.
"Sorry!" ucap Navisa, tanpa dosa.
"Huaaaaaa! Gue beneran kesel sama kalian."
Semua orang malah semakin tertawa melihat Anandita yang duduk di atas lantai sambil meraung tidak karuan.
"Itu mama Mecha kenapa begitu, apa dia mau perlemen ya?" tanya Ammar kepada bocah kecil berusia 3 tahun di dekatnya.
To Be Continued.
Pagi Guys. Udah dulu akh sad2an nya. Sekarang kita nyantai lagi aja.
🤭🤭🤭🤭 Jangan lupa tetep dukung karya ini ya. Terima kasih.
__ADS_1