Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Ballroom Hotel


__ADS_3

Hari yang sudah di nantikan banyak orang pun tiba. Pernikahan Aldi dan Navisa dilakukan di sebuah hotel bintang lima di kota itu. Keanggunan Navisa membuat para tamu undangan berdecak kagum. Pembawaannya yang kalem membuat kecantikan itu memancar dengan sempurna, bak dewi malam yang sedang menerangi bumi, Navisa berjalan dengan anggunnya menemui Aldi yang kini sudah sah menjadi suaminya.


"Sekarang Navisa sudah menjadi milik mu, Ayah titip dia padamu ya Nak, jaga dan sayangi dia. Navisa adalah anak yang penurut, Ayah yakin, dia tidak akan banyak merepotkan mu. Jikapun iya, Ayah mohon, jangan marahi dia, apalagi bentak dia."


Aldi menganggukkan kepalanya. Meraih tangan Navisa dari genggaman tangan ayah mertuanya, dan menuntunnya untuk berjalan di atas karpet merah yang akan membawa mereka menuju panggung pelaminan. Bocah-bocah kecil ikut berjalan di belakang pengantin. Ammar dan Ameera tersenyum sembari menaburkan kelopak bunga mawar dari keranjang yang ada di genggaman mereka.


"Akhirnya Aldi menikah juga, terlebih itu dengan Navisa. Semoga mereka bisa rukun dan hidup bahagia."


Brian menganggukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca, bocah kecil itu sekarang sudah dewasa, dia sudah menjadi seorang suami dan pastinya tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah, padahal, Brian masih mengingat bagaimana dulu mereka sering bertengkar karena berebut Anjani dan lain sebagainya.


"Ayah, semua anak kita sudah memiliki pasangan. Mereka sudah menikah, kini hanya tinggal kita berdua saja. Apakah kita tidak akan kesepian?"


Nugroho menggelengkan kepalanya. "Insyaallah tidak Bu, lagipula ada Ameera dan Ammar. Jangan sedih seperti itu, seharusnya kita bahagia, setidaknya kita sudah berhasil membesarkan anak-anak kita sampai mereka bisa menikah dan memiliki keluarga sendiri."


Anjani mengangguk, dia melihat apa yang sedang Aldi dan Navisa lakukan di depan sana. Anak dan Menantunya saat ini sedang menyematkan cincin di jari masing-masing. Sudut mata Anjani berarir. Menyeka buliran bening itu dan kembali tersenyum.


"Kalian semua harus bahagia."


Navisa menunduk dengan semburat merah di wajahnya. Pada akhirnya, orang yang menjadi suaminya adalah orang yang tidak pernah dia sangka-sangka. Navisa benar-benar tidak pernah membayangkan jika yang akan menjadi jodohnya adalah Aldi, teman semasa dia SMA. Pria tengil yang tidak pernah meliriknya sekali pun.


"Aku mencintaimu Istriku!" Aldi mengecup kening Navisa setelah berhasil menyematkan cincin di jari manis istrinya.


"Aku juga mencintaimu Suamiku!" ucap Navisa mengecup punggung tangan Aldi. Mereka berdua saling merengkuh satu sama lain di iringi dengan kembang api yang memeriahkan acara saat itu.


Para tamu undangan bertepuk tangan heboh. Byan, Anandita dan Tania mengusap sudut mata mereka. Perasaan haru menyelimuti hati mereka saat ini.


"Sold out By!" ucap Anandita pada Byan.


Wanita itu mengangguk. "Alhamdulillah, aku bahagia Dit, apalagi aku bisa menyaksikan pernikahan mereka. Aku sangat bersyukur untuk ini."


Brian yang mendengar itu langsung menarik pinggang Byan dan membawanya ke tengah-tengah ballroom.


Byan terkejut bukan main, suaminya tiba-tiba berhenti tepat di bawah sorot lampu yang sangat terang, sedangkan sudut lain sengaja di redup kan.

__ADS_1


Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, semua orang kini sedang menatap ke arah mereka. Bahkan pengantin pun ikut tersenyum menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan.


"Om mau apa?" bisik Byan pada sang suami saat Brian tiba-tiba berjongkok di depannya sembari menggenggam satu tangannya.


Tidak lama setelah itu, dua bocah kecilnya datang membawa sebuah nampan yang berisi mahkota bertakhta kan berlian. Mata Byan semakin membulat sempurna. Sebenarnya apa yang dilakukan suaminya.


"Ini mahkotanya laja!" ucap Ammar sembari membungkuk.


Semua orang tersenyum melihat sebuah drama teater di depan mata mereka. Bahkan Kirani sampai memukul dada suaminya beberapa kali karena terlalu gemas melihat tingkah kedua cucunya.


"Mommy, karena Mommy sudah menjadi Mommy terbaik untuk kita, kita bersepakat kalau kita akan menjadikan Mommy sebagai ratu di Istiana kita. Ameera dan Ammar akan jadi anak yang baik, kita siap melayani dan menyayangi Mommy seumur hidup." Ameera berucap sembari tersenyum.


Byan membekap mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya ini acara pernikahan siapa, mengapa malah dia yang jadi pusat perhatian. Bahkan bocah-bocah kecil ini menyiapkan hal manis seperti ini untuknya, kenapa Byan tidak tahu.


"Baby, kau akan menjadi ratu di dalam hidup kita, terima kasih untuk pengorbanan dan perjuangan yang telah kau berikan untuk kita semua. Maukah kau berdansa dengan ku wahai ratuku?"


Byan mengangguk perlahan. Brian yang melihat itu tersenyum, berdiri lalu mengambil mahkota di atas nampan yang di bawa Ammar dan memakainya di atas kepala sang istri.


Sorak sorai terdengar di ballroom tersebut. Anjani menarik Nugroho untuk ikut berdansa. Begitupun dengan pasangan yang lain. Bahkan Aldi pun ikut menuntun Navisa turun dari atas pelaminan menuju ballroom yang sudah di penuhi oleh keluarga, dan juga teman-temannya.


"Aku mencintaimu By."


"Aku juga mencintaimu Om Brian!"


Brian tersenyum, mengecup kening istrinya lembut dan semakin mendekap tubuh rapuh itu. Semuanya selesai. Semuanya sudah benar-benar selesai, kini mereka akan memulai perjalanan baru, kebiasaan baru dan tentunya kegiatan yang lebih seru dari sebelumnya. Byan sudah sepenuhnya sembuh, Brian dan anak-anaknya bisa mengajak Byan kemanapun mereka ingin.


****


Dalam suasana lampu kamar yang temaram, sepasang sejoli sedang asyik menatap kelap kelip ribuan bahkan mungkin jutaan lampu yang ada di kota tersebut. Brian sengaja memesan kamar di lantai paling atas karena dia ingin menikmati suasana romantis seperti malam-malam yang pernah mereka lalui.


"Apa kau menyukainya?" bisik Brian sembari menyesap aroma wangi sang istri dari curuk lehernya.


Byan sedikit menggeliat. Mungkin karena sudah lama tidak melakukan ini bersama suaminya, dia kembali merasakan sengatan-sengatan listrik di sekujur tubuhnya. Bahkan kini kedua matanya mulai terpejam tat kala telapak tangan besar sang suami mulai mengusap perutnya di atas kain tipis yang dia kenakan. Debaran jantungnya mengiringi setiap sentuhan yang Brian berikan.

__ADS_1


"Om!"


"Hmmm, apa sayang?"


"Jangan mempermainkan aku!"


Brian terkekeh. Dia menghentikan aksinya untuk sesaat, membalik tubuh sang istri lalu menarik pinggangnya hingga jarak di antara mereka berdua benar-benar hilang. Lelaki itu menunduk, menatap wajah cantik sang istri lekat, tatapannya dalam dan memuja.


Kedua mata Byan kembali terpejam saat tangan hangat suaminya membelai wajahnya lembut, sangat lembut sampai dia bisa merasakan setiap cinta dan kasih sayang yang Brian berikan untuknya.


"Malam ini kau hanya milikku Sayang!"


Brian menunduk, menempelkan bibir mereka, sedikit menyapunya gemas. Manis, rasanya bibir mungil ini sangat manis, rasa yang sangat dia rindukan kini bisa dia rasakan kembali. Tangannya menuntun tangan Byan dan mengalungkan kedua tangan itu di lehernya sebelum dia mengangkat tubuh Byan, memojokkannya ke dinding kamar tersebut dan semakin melancarkan aksinya.


****


"Nenek, kenapa Mommy sama Daddy gak ikut pulang baleng kita?" Bocah kecil itu bertanya pada Anjani.


"Mereka sedang melakukan misi Ammar sayang. Malam ini Nenek yang bacakan dongeng ya."


Ammar mengangguk, dia berbaring dan menarik selimutnya.


"Mommy sama Daddy sedang melakukan misi apa Nek? Apa berbahaya jika kita ikut?"


"Ekhemmmm!"


Nugroho yang ada di samping Anjani menahan senyum mendengar pertanyaan yang cucunya ucapkan.


"Sangat bahaya Sayang, mereka sedang main tembak-tembakan."


To Be Continued.


Yang nikah siapa yang malam pertama siapa. 😆😆

__ADS_1


__ADS_2