
Jangan lupa like dan komentar nya Reader. Happy Reading. 🤗
Bian melangkah menuju kamarnya dengan riang. Sementara Bima, laki-laki itu malah berbaring di atas lantai seperti orang yang terdampar. Niat hati ingin mengalahkan Bian nyatanya malah dia yang kalah puluhan kali dari gadis itu. Harga diri Bima hancur berkeping-keping. Sebagai seorang laki-laki yang sudah dewasa, dia di kalahkan oleh bocah tengil seperti Bian, apa kata dunia kalau teman-teman nya tahu tentang ini.
"Mangkanya jangan ngeremehin anak kecil Kak, tau rasa kan!" Aldi meninggalkan Bima dengan perasaan yang luar biasa senang. Tadinya Aldi juga sempat meragukan kemampuan Bian, namun jemari mungil itu ternyata sangat lincah, Bian juga sangat cerdik ketika melawan musuh.
Bian membuka pintu kamar perlahan. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat lampu kamar ternyata tidak di matikan. Apakah suaminya belum tidur? Tapi ini sudah jam 12 malam. Biasanya Brian sudah tidur di jam-jam seperti itu.
Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke kamar, dia hendak berlari menuju kamarnya, namun Bian mendengar pergerakan gelisah dari atas ranjang. Bian akhirnya mengendap-endap mendekati ranjang sang suami, alisnya tertaut tat kala dia melihat Brian bergerak gelisah dengan buliran keringat yang membanjiri wajah tampannya.
"Om, Om baik-baik saja kan? Om kenapa?" Bian berusaha menggoyangkan bahu Brian, namun dia tidak mendapatkan respon apapun.
Bian semakin mendekat, dia menyentuh kening Brian, dan seketika itu juga dia kembali menarik tangannya. "Om demam, tubuh Om panas sekali."
Bian berbalik untuk memanggil bantuan, namun tangannya di cekal oleh Brian. Bian langsung menoleh dan duduk di tepian ranjang sembari mencoba untuk melepaskan tangan suaminya.
"Jangan buat keributan Bian, ambil ponselku, di sana ada nomor Mahen, kau bisa menghubunginya dan menanyakan apa yang harus kau lakukan."
Bian mengangguk. Dia mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Namun ketika dia ingin membuka ponsel itu, dia kembali menatap Brian bingung. "Sandinya apa Om?"
"Tanggal lahir ku."
"Tapi Bian gak tahu kapan Om lahir."
Brian menghembuskan napas kasar. Dia menyebutkan sandi ponselnya meski dengan susah payah. Kepalanya sakit, saking sakitnya, rasanya sampai terasa ke dalam telinga Brian.
Lima menit setelah Bian menelpon Mahen, dia mulai melakukan semua hal yang di instruksikan oleh Mahen. Gadis itu mulai mencari termometer di dalam laci. "40°," Bian bergumam. "Kenapa sangat tinggi."
__ADS_1
Bian kembali mengirim pesan kepada Mahen untuk mengabarkan kondisi suaminya. Setelah mendapatkan balasan, Bian kembali sibuk turun ke bawah untuk mengambil air suam-suam kuku dan handuk kecil. Undakan tangga yang begitu banyak dan tinggi tak lantas membuat Bian lelah. Dia masuk ke dalam kamar dan mulai mengompres kening Brian dengan handuk kecil itu.
Tahap berikutnya adalah, Bian harus memberikan obat kepada suaminya. "Om, Om udah makan malam belum?"
Brian menggeleng membuat Bian menghembuskan napasnya kasar. Dia kembali berjalan menuju dapur. Lagi-lagi harus naik turun tangga.
"Apa yang harus aku berikan? Aku gak bisa bikin bubur?" Bian mengobrak-abrik isi kulkas untuk mencari sesuatu, tidak ada apapun di sana. Kini Bian beralih mencari makanan yang mungkin bisa dia berikan kepada suaminya. Matanya berbinar ketika dia melihat roti tawar juga beberapa jenis selai. Bian mengambil dua lembar roti, lalu mengoleskan mentega dan selai coklat. Setelah itu, Bian mengambil air panas dari dispenser. Bian kembali di buat bingung lantaran biasanya Bian akan menyeduh roti ini dengan susu, namun Brian tidak bisa mengkonsumsi susu sebelum minum obat.
"Akh gak papa lah, rada tawar sedikit wajar ya kan, namanya juga roti tawar."
Bian melanjutkan aksinya dengan menyeduh roti itu dengan air panas, setelah dirasanya cukup, dia membawa makanan itu untuk Brian, tak lupa Bian juga membawa segelas air hangat.
Kali ini Bian sudah merasa agak capek. Lututnya terasa agak bergetar. Naik turun tangga beberapa kali membuat tubuhnya rada lemas. "Om, kalau setelah ini Om masih galak sama Bian, Om benar-benar keterlaluan."
Bian membuka pintu kamar dengan kakinya. Beruntung tadi dia tidak menutup pintu dengan rapat.
"Hati-hati Om, masih panas," ucap Bian.
Brian mengerutkan keningnya ketika lelehan roti itu melebur di dalam mulut. "Ini apa, kenapa rasanya sangat aneh," protes Brian.
"Sudah makan saja. Masih syukur Bian buatkan makanan. Habiskan, kalau enggak, nanti Bian gak akan mau bantu Om lagi."
Brian kembali menurut. Sebenarnya makanan yang Bian buatkan tidak terlalu buruk, mungkin karena lidahnya sedang tidak mengecap dengan baik, alhasil Brian bisa menghabiskan makanan aneh itu.
Sepuluh menit telah berlalu. Bian menyodorkan obat anti nyeri juga antibiotik kepada Brian. Setelah memastikan Brian meminum obatnya, Bian kembali membantu Brian untuk berbaring.
"Sekarang Om tidur ya! Mau Bian nyanyiin gak?"
__ADS_1
Brian diam tidak merespon ucapan istri bawelnya. Dia berusaha memejamkan mata meskipun agak sulit.
Bian mulai bernyanyi. Meski dengan suara yang pelan, Brian masih bisa mendengar suara merdu Bian yang benar-benar berbeda dengan suaranya ketika dia sedang mengoceh. Brian yang sudah memejamkan mata, sedikit membuka matanya untuk melihat Bian, sudut bibirnya tertarik ke atas. Brian kembali menutup mata dan kini dia mulai bisa tidur dengan nyaman.
*Bayangin aja kalau Bian lagi nyanyi Hal Hebat yang di cover sama Raffa*
Bian tersenyum, dia terus bernyanyi sembari kembali mengompres kening Brian. Namun setelah beberapa saat, Bian mulai mengantuk dan tanpa sengaja, Bian tidur dengan posisi duduk di kursi kecil namun tangannya dia tumpukan ke pinggiran ranjang di susul dengan kepalanya yang tertumpu di atas tangan.
Hari sudah semakin malam, malah hampir pagi. Brian terbangun, dia melirik ke arah Bian. Gadis itu masih tidur dengan posisi yang sama. Brian yang kala itu merasa kasihan, mencoba untuk bangun dan memindahkan Bian ke atas ranjang. Setelah melihat Bian tidur dengan nyaman, Brian kembali berbaring menyamping memperhatikan wajah mungil yang semalaman sudah merawatnya dengan telaten.
****
Sinar matahari pagi mulai menyingsing. Brian mengerejapkan matanya ketika sekelebat cahaya menembus tirai dan mengenai wajah tampannya.
Brian menoleh ke samping, gadis yang semalam tidur di sampingnya sudah tidak ada. Kepalanya kembali menoleh melihat jam di atas nakas. Ternyata sudah jam 8 pagi. Mungkin Bian sudah berangkat ke sekolah.
Brian tak lekas duduk. Dia sedikit memijat kepalanya sembari menutup mata. Setelah di rasa siap, Brian menyingkap selimut lalu duduk. Dia ingin mengambil ponsel yang ada di atas nakas, namun keningnya berkerut ketika dia melihat sebuah memo teronggok di bawah ponselnya. Dia mengambil kertas memo itu dan mulai membaca.
"Bian buatkan teh madu untuk Om, jangan lupa di minum. Bian gak bisa masak, jadi Bian sudah meminta Mbok Jum membuat sup ayam. Jangan lupa minum obat. Tidak usah jemput Bian hari ini, Bian pergi dengan Aldi.
Dari istrimu, Bian. 💋 Lekas sembuh ya Om!"
Brian tersenyum membaca memo dari istrinya. Dia melirik ke samping tempat tidur. Ada tumbler kecil di sana. Bian mengambil itu lalu membuka tutupnya, untuk sesaat Brian menghirup aroma teh yang Bian buatkan. Setelah yakin, dia mulai mencicipi teh itu, seluas senyum kembali terlihat.
"Ternyata kau ada gunanya juga Boncel."
To Be Continued.
__ADS_1