
karena drama yang terjadi setelah menjemput Ameera dan Ammar tadi siang, Byan masih merajuk pada suaminya, dia tidak tahu apa yang telah Brian katakan kepada anak-anak mereka. Sebenarnya itu hal wajar jika Brian ingin memberikan edukasi, namun sepertinya sekarang memang belum waktunya untuk Ammar dan Ameera mendapatkan edukasi seperti itu.
"Sayang, aku berni bersumpah kalau aku tidak mengatakan hal yang tidak-tidak. Aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku hanya mengatakan hal yang harus aku katakan."
Brian masih berusaha untuk membujuk sang istri, namun orang yang di bujuk, masih tidak menunjukan respon apapun. Dia malah terus menghindar dari Brian saat pria itu berusaha untuk menatap matanya.
"Baby!"
Brian menahan kursi roda Byan dan berjongkok di depan istrinya. "Baby jangan marah heum, kau baru pulang ke rumah ini, aku seperti kehilangan Dewi malam ku jika kau terus mendiamkan Ki seperti ini."
Byan menaikan satu alisnya. Kali ini dia menunduk menatap mata Brian. "Jadi katakan, kenapa mereka bisa berbicara seperti itu, edukasi seperti apa yang kau berikan kepada bocah berusia 4 tahun?"
Brian tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "sebenarnya saat itu, Navisa sering pulang malam demi menemani Ameera dan Ammar saat aku sibuk dengan pekerjaan ku." Brian menatap istrinya sembari menggenggam tangannya lembut. "Ameera sempat melihat foto-foto after wedding kita di album Ibu, bukankah kita ada pemotretan di atas ranjang, saat itu Ameera dan Ammar melihatnya. Lalu ketika mereka melihat Aldi dan Navisa sering bersama, mereka selalu mengatakan jika Navisa harus menginap di rumah ini, tidur satu kamar dengan Aldi karena mereka bilang Daddy dan Mommy pun seperti itu. Bahkan Nenek dan Kakek juga."
Byan membulatkan matanya, dia semakin menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami. "Benarkah seperti itu, mereka mengatakan itu?" tanya Byan.
Brian menganggukkan kepala sembari tersenyum, tangan besarnya terulur, mengelus wajah sang istri hingga jempolnya berhenti tepat di atas bibir ranum yang sudah tidak pucat lagi, mengusap bibir itu lembut hingga dia sedikit mengangkat tubuhnya dan mendekatkan bibir mereka.
Kedua insan itu mulai memejamkan mata, menikmati debaran jantungnya yang memang sudah lama tak mereka rasakan.
"Apa kalian akan belciuman?"
Deg!
Brian dan Bryan langsung membuka mata mereka dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ammar! Ameera!" ucapannya bersamaan.
Kedua bocah itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Persis seperti kuda yang sedang di ajak bercanda.
__ADS_1
Byan refleks mendorong tubuh suaminya hingga Brian terjungkal dengan wajah bodoh se bodoh monyet yang dikelabui kura-kura. Sebenarnya Byan agak ngilu juga melihat bokong Brian mendarat dengan cukup keras, namun dia tidak bermaksud seperti itu.
"Ada apa Sayang, ada yang mau kalian sampaikan pada Mommy, kalian kangen sama Mommy?" tanya Byan merentangkan kedua tangannya.
Ameera dan Ammar mengangguk, saat Ameera dan Ammar telah memeluknya, kedua bocah itu mengambil sesuatu dari atas ranjang, sepertinya mereka memang sudah mempersiapkan itu tadi.
"Mommy, Ameera bilang sama Mommy kalau Ameera ada sesuatu untuk Mommy. Sekarang, Ameera akan tunjukan itu pada Mommy."
Byan mengangguk, dia menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah ranjang, namun saat dia sudah ada di sisi ranjang, ketiga orang itu menoleh dan menatap Brian yang masih duduk di atas lantai.
"Daddy tahu!"
Brian berdiri, menghampiri ketiga malaikat dalam hidupnya. Ameera dan Ammar sudah naik lebih dulu meskipun mereka agak kesusahan karena memang ranjangnya lumayan tinggi untuk mereka. Ya kali ya kan, Brian itu memang sengaja mencari ranjang yang sesuai dengan tinggi badannya supaya dia bisa bebas bergaya di saat bermain dengan istrinya.
Setelah mendudukkan Byan di atas ranjang, Brian pun ikut duduk, menunggu apa yang akan di tunjukan dua bocah kecil yang tadi sudah mengganggu aktifitasnya dengan Byan, padahal tinggal beberapa mili lagi hingga bibir mereka bertemu, kenapa juga mereka harus datang di waktu krusial seperti itu. Hancur sudah angan-angan Brian.
"Mommy, Ameera punya gambar yang bagus, Ameera buat ini khusus untuk Mommy dan Daddy."
"Ini, Ammal juga punya!" Ammar ikut menyodorkan sebuah buku gambar besar kepada Byan.
Byan mengambil buku gambar kedua anaknya, membuka lembar dari buku gambar itu satu persatu. Seulas senyum terukir di bibirnya. Bukan tentang bagus atau tidaknya gambar hasil sang anak, namun Byan sangat terharu melihat arti dari gambar-gambar yang mereka buat.
Di lembar pertama yang Ammar miliki, Byan melihat seorang anak laki-laki dan perempuan sedang memayungi seorang wanita yang tengah berjongkok di tengah hujan. Sedangkan di lembar yang Ameera miliki, dia melihat dua anak kecil itu duduk di bawah pohon yang bertuliskan Mommy di daun pohon yang menaungi mereka.
Brian mengusap punggung sang istri lembut. Dia tahu kalau sang istri sedang menahan tangisnya saat ini. Brian sebenarnya pernah melihat album gambar milik anak-anak mereka, jadi Brian sudah tidak se emosional Byan. Bahkan Brian tahu, lembar demi lembar berikutnya akan membuat Byan menangis kencang.
"Sayang, kalau boleh, Mommy sama Daddy mau lihat gambar-gambarnya berdua, boleh? Ammar sama Ameera temui Om Aldi dulu, nanti kalau kita sudah selesai melihat gambar-gambar kalian, kita makan malam bersama ya."
Ameera dan Ammar mengangguk, mereka beranjak memeluk dan mencium Byan dan Brian bergantian.
__ADS_1
"Ammal sayang Mommy. Mommy halus cepat sembuh, nanti Ammal ajak Mommy jalan-jalan ya!"
Byan menganggukkan kepalanya sembari mengusap kepala anak laki-lakinya tersebut. Hati Byan menghangat mendengar Ammar yang membuat janji seperti itu.
Setelah dua bocah itu menutup pintu kamar, Brian menggeser posisi duduknya, merengkuh tubuh sang istri yang kini sudah mulai bergetar. Brian tidak mengucapkan apapun. Dia hanya memeluk dan memberikan usapan lembut. Jangankan Byan, Brian saja sempat menangis ketika pertama kali melihat gambar-gambar yang di buat oleh anak-anak mereka.
"Om ... kenapa Byan tidak bangun lebih cepat. 4 tahun mereka hidup tanpa Byan, tapi kenapa mereka masih menggambarkan Byan seberarti ini untuk mereka. Byan menggantikan popok mereka pun tidak pernah, apakah pantas Byan mendapat kasih sayang mereka seperti ini. Byan malu Om!"
"Shuutttt!" Brian melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Byan, mengangkat dagu sang istri sedikit, lalu menangkup dan mengusap buliran bening di mata sang istri dengan sangat hati-hati.
Cup!
Brian mengecup bibir Byan cukup lama namun memang hanya sekedar menempel dan sedikit menekannya. Agar Byan bisa lebih tenang.
"Jangan mengatakan hal seperti itu, selama 4 tahun ini, kau selalu ada untuk mereka. Apa kau lupa alasan kenapa kau berbaring di ruang ICU selama 4 tahun? Itu karena kau berjuang untuk mempertahankan mereka. Di bandingkan aku, jasamu lebih besar Sayang. Mereka pantas memperlakukan mu seperti ini, mereka tahu, kau seperti itu karena memperjuangkan kehidupan untuk mereka. Kau adalah ibu terbaik di dunia ini. Aku bangga padamu. Terima kasih karena telah memberikan ku anak-anak yang lucu dan pintar seperti mereka."
Brian kembali mendekap tubuh Byan. Mengecup pucuk kepala sang istri berkali-kali dan mengusap surai panjangnya lembut.
"Kami sangat menyayangi mu By. Tetaplah sehat dan panjang umur agar kami bisa membalas semua jasa-jasa mu. "
To Be Continued.
Morning Guys. Selamat beraktifitas ya. Semangat. 💪💪
Ameera with Bapak.
__ADS_1
Ameera with Emak.