Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Heboh


__ADS_3

"Hati-hati!" Bima berbisik di telinga Aldi. Setelah 30 menit mereka bersusah payah naik ke atas balkon kamar Brian, akhirnya mereka sampai juga di sana. Aldi mengambil mukena dari tangan Bima. Dia mengenakan mukena itu lalu mengarahkan sebuah senter ke wajahnya.


"Sudah," ucap Aldi pada Bima. Bima mengangguk. Dia mengambil ponsel lalu menyetel sebuah mp3 wanita yang sedang tertawa seperti kuntilanak. Tidak lupa, Aldi juga menggerakkan tangannya supaya dia terlihat terbang di mata orang yang melihatnya.


*Aldi katanya suka sama Byan, kok gitu sih* 🥴


****


Di dalam kamar, Byan sudah bersiap untuk tidur. Dia tidak mematikan lampu karena dia takut jika harus berada di dalam kegelapan apalagi seorang diri. Baru akan memejamkan mata, tiba-tiba dia mendengar sesuatu dari arah pintu kaca yang mengarah langsung ke balkon. Byan membuka selimut lalu turun dari atas ranjang. Byan berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri, bukan karena takut ketahuan orang, tapi Byan takut melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.


Semakin Byan mendekat, dia semakin mendengar suara-suara aneh itu.


Srakkkk!


Akhhhhhh!!! Akhhhhhh!!!


Byan, Aldi dan Bima sontak berteriak bersamaan. Byan langsung berlari ke arah pintu, sementara Aldi melompat ke pelukan Bima.


"Ekh Bolot, harusnya Byan yang takut liat kita, kenapa jadi kita yang takut?"


Aldi langsung turun dari pangkuan Bima dan menatap kakaknya itu heran. "Kok bisa ya kita yang kaget?"

__ADS_1


Bima mengidikan bahunya acuh. "Sebaiknya kita turun sekarang! Kamu balikin itu mukena ibu ke mushola, kalau enggak nanti ibu marah."


****


Brakkkkk!


Brian langsung pura-pura tidur di atas sofa yang ada di dekat kamarnya. Dia memejamkan mata sedikit menahan senyum. Dalam hati dia terus bergumam meminta maaf karena sudah menjahili Byan, namun dia melakukan itu karena terpaksa. Tidak ada pilihan lain.


Brukkkkk!


Byan langsung melompat menaiki tubuh suaminya yang kala itu sedang berbaring. Dia memeluk tubuh Brian erat. Tangan dan kakinya bergetar. "Om, bangun, Byan takut Om. Om!"


"Kenapa belum tidur?" Brian bertanya seolah-olah dia memang tidak mengetahui apa-apa.


"Hikssss, ada hantu Om, ada hantu. Byan takut. Byan ikut tidur di sini ya!"


Brian mendekap tubuh Byan lalu berusaha untuk bangun dan duduk. Dia terkejut saat merasakan tubuh istrinya yang bergetar hebat. Dalam hati Brian bersumpah, apapun yang terjadi, dia tidak akan melakukan lelucon seperti ini lagi.


"Tidak apa-apa By, semuanya baik-baik saja. Tidak ada hantu. Kita kembali ke kamar saja ya!"


Byan menggeleng. "Tidak mau, Byan tidak mau, Byan mau tidur di sini aja."

__ADS_1


Brian menghela napas panjang. Dia menyesal telah melakukan semua ini. Brian sedikit mengangkat tubuh Byan kemudian berdiri dan berjalan ke kamar. Dia membawa gadis itu ke pintu balkon yang tirainya terbuka.


"Lihat, tidak ada apapun di sini." Brian meminta Byan untuk membuka matanya. Namun gadis itu malah memeluk lehernya semakin erat. Dia menahan tubuh Byan menggunakan satu tangan, sementara tangan yang lain dia gunakan untuk menutup tirai. Malam itu, Byan terus menempel pada suaminya. Bahkan di tinggal untuk membuat susu pun dia tidak mau.


"Om!"


"Heum!"


"Byan mau pipis. Anterin!"


Brian sebenarnya senang-senang saja melihat Byan yang tergantung kepadanya. Namun dia juga merasa agak khawatir takut keseharian gadis ini terganggu. Apakah Brian harus mengatakan semuanya. Haruskah dia bilang kalau hantu itu adalah Aldi dan Bima, tapi nanti Byan marah lagi kalau seperti itu.


"Ayok!"


Brian lebih dulu berdiri, setelah itu barulah Byan yang berdiri. Gadis itu memutar tubuh Brian lalu naik ke punggung suaminya. Brian yang melihat istrinya bertingkah seperti ini mengulum senyum. Tanpa ragu, dia menggendong Byan dan membawanya masuk ke kamar mandi.


"Maafkan aku Boncel," gumam Brian dalam hati. Dia merasa sangat bersalah namun dia juga merasa sangat bersyukur.


**Kesempatan dalam kesempitan ya Bang. 🐶


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2