Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Suite Room 2


__ADS_3

"By. Kamu besok langsung pergi honeymoon kan sama Kak Brian?"


Aldi duduk di samping Byan menatap gadis itu sekilas lalu menunduk. Namun beberapa saat kemudian, matanya memincing melihat paper bag kecil di belakang punggung Byan.


"Kita pergi gak lama Kok. Mungkin sekitar 1-2 Minggu. Kasihan juga ayah kalau harus ngusrus perusahaan sendirian."


Aldi mengangguk kan kepalanya. Tangannya terulur mengambil sesuatu di dalam paper bag, menelisiknya agak lama, juga mencium aroma yang sebenarnya tidak terlalu tercium dari luar botolan kecil itu.


"Ini apa By, aku boleh nyobain kan?" Aldi membuka tutup botolnya dan langsung meminum jamu kuat yang di berikan Tania tanpa sungkan.


"Itu jamu kuat Al, dari Ambu dan Abah."


Byurrrrrr ....


Seketika itu juga semua orang menatap pengantin wanita dan Aldi heran. Pasalnya semburan yang Aldi timbulkan cukup kuat hingga membuat orang-orang langsung terfokus padanya.


"Lo gila. Kenapa gak bilang dari tadi?" Aldi kembali menutup botol itu, meletakan nya ke ketempat semula.


"Lah, kan kamu baru nanya. Lagian kenapa sih. Kan bagus minum itu biar sehat, abisin aja. Lumayan lho. Masih banyak kok."


Aldi menggeleng kan kepalanya tidak percaya. Buru-buru dia pergi dan mencari air minum untuk membasuh mulutnya.


"Dasar lemot. Untung gak ketelen semua."


Selepas acara selesai. Byan dan Brian langsung pergi menuju kamar hotel yang sudah di siapkan oleh Brian sebelumnya. Kamar suite besar dengan pemandangan kota Jakarta di malam hari terlihat sangat indah. Lilin aroma terapi juga lilin-lilin kecil menghiasi sudut-sudut kamar malam itu. Kelopak bunga mawar yang berhamburan di atas lantai, juga bunga-bunga merambat yang bergelantungan di kamar itu menjadikan susana kamar menjadi sangat indah dan benar-benar luar biasa.


"Kau suka?"


Tanya Brian memeluk istrinya dari belakang. Byan tersenyum sembari mengangguk. Dia suka, sangat suka. Jangankan kamar yang sudah di dekorasi seperti ini. Kamar biasa saja Byan suka asal ada Brian di sana.


"Byan mandi dulu ya Om. Badan Byan agak lengket."


Brian mengangguk. Melepas pelukannya, tanpa Byan suruh, Brian melepas zipper di belakang gaun yang Byan kenakan. Pelan, gerakan tangannya sangat pelan seiring dengan tatapan Brian yang semakin lama semakin intens. Wajahnya mulai mendekat ke punggung Byan hingga membuat gadis itu meremang karena terpaan hangat napas Brian di punggungnya.


"Om!" Byan bersuara pelan sedikit tertahan. Byan menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak tergoda. Dia benar-benar harus mandi dulu sekarang. Byan tidak mau melewati malam ini dengan kesan yang buruk.


Deg!

__ADS_1


Jantung Byan berpacu sangat kencang tat kala bibir hangat suaminya mendaratkan beberapa kecupan singkat. Tidak ingin semakin terlarut, Byan segera memutar tubuhnya sembari memegangi gaun di bagian dadanya agar tidak melorot.


"Kenapa?" Suara Brian terdengar semakin berat dan sedikit serak juga ada nada keputusasaan di sana.


"Jangan sentuh Byan, Byan bilang Byan mau mandi dulu."


Brian menggeleng. Dia maju satu langkah, namun Byan mundur satu langkah. Dan ketika dia ingin menarik pinggang Byan, gadis itu langsung berlari, melesat pergi ke kamar mandi.


"Kau benar-benar membuatku kehilangan akal By!"


Langkah gontai Brian membawanya ke tepian ranjang, melonggarkan dasi di lehernya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Aku menginginkan mu By. Sangat!" Pria itu bergumam dengan mata terpejam. Satu tangannya bertengger di atas kepala. Sementara yang lain, terkulai lemas begitu saja.


20 menit kemudian, Byan keluar dari kamar mandi. Lingerie hitam dengan bagian perut transparan namun masih bisa menutup bagian dada juga bagian bawahnya dia kenakan. Sebenernya dia agak takut mengenakan lingerie itu. Tapi tidak ada baju lain di kamar mandi.


"Om!"


Byan berjalan dengan mata melirik kanan kiri berusaha untuk mencari suaminya.


"Ternyata dia tidur!"


Setelah melepas sepatu Brian. Gadis itu naik ke atas ranjang. Duduk di samping tubuh suaminya, kepalanya menunduk memperhatikan wajah tampan sang suami lekat. Perlahan, tangannya terulur menyentuh wajah Brian dan mengabsen setiap deretan anggota wajah suaminya. Hingga, jemarinya berhenti di atas bibir merah sang suami.


"Tampan!" gumam Byan membuat Brian tidak bisa menahan senyum.


Mata Byan melotot tat kala tangan besar itu menarik pinggangnya hingga dia ambruk di atas dada Brian. Matanya memincing menatap suaminya sedikit kesal.


"Byan pikir Om tidur. Ternyata hanya pura-pura."


Brian terkekeh. Jemarinya menyentuh wajah Byan, mengusapnya perlahan dengan mata yang fokus menatap bibir ranum sang istri.


"Aku tidak pura-pura. Aku memang tidur. Hanya saja kau membangunkan ku Baby."


Byan mendengus. Pria ini pasti berbohong. Dia memang sedang mengerjai Byan kan.


"Om mandi dulu. Om juga pasti gerah. Byan gak mau tidur sama Om kalau Om bau keringat seperti ini."

__ADS_1


Bukannya menurut, Brian malah menggulingkan Byan hingga mereka bertukar posisi. Kini, tubuh Byan berada di bawah kungkungan nya. Melihat Byan mengerejapkan matanya membuat Brian semakin gemas dan semakin tidak sabar untuk menyantap hidangan malamnya.


"Mandi dulu!" Byan sedikit memekik. Tangannya mendorong dada Brian namun pria itu bergeming. Tatapannya semakin dalam. Dan Byan tahu, tatapan itu sangat menakutkan juga sangat berbahaya.


"Byan gak mau Om sentuh kalau Om gak mandi."


Brian meggeram tertahan. Si Beto sudah sangat kesakitan. Kepalanya berdenyut. Darahnya berdersir semakin hangat.


"Aku akan mandi. Tapi kau jangan tidur. Kalau sampai kau tidur, maka besok, kita tidak akan pergi bulan madu. Kita habiskan saja waktu kita di sini sampai kau lemas dan tidak bisa berjalan."


Byan menatap punggung suaminya sedikit ngeri. Hewan buas itu selalu mengancamnya dengan hal-hal seperti itu.


"Sweet but Psycho," gumam Byan bergidik ngeri.


15 menit kemudian, Brian keluar dari kamar mandi dengan rambut sedikit basah. Handuk putih melilit dengan apik di pinggangnya hingga menampakan deretan roti sobek yang sangat menawan. Buliran air yang masih tersisa di tubuhnya menjadikan Brian terlihat sangat seksih di lihat dari sudut manapun.


Dengan langkah pasti, dia berjalan menuju ranjang. Belum sampai di sana. Langkah kakinya terhenti. Matanya menatap lekat gadis cantik dengan balutan lingerie seksih di tubuhnya. Gadis itu sedang berpose di atas ranjang sembari memegang bola cahaya kelap kelip di tangannya. Keadaan lampu kamar yang temaram membuat bola cahaya itu seolah hanya memfokuskan Brian untuk menatap sang istri.


"Baby!"


Suara maskulin Brian membuat Byan menoleh. Gadis itu tersenyum. Menaruh bola cahaya di atas ranjang lalu turun dan berjalan menghampiri Brian.


"Apa kau menginginkan ku Daddy~~~!"


Bisikan maut di telinga Brian seolah menyadarkan nya dari lamunan.


"Yes i want."


Byan memekik sedikit tertawa saat Brian tiba-tiba menarik pantatnya dan memposisikan dia di atas perut Brian seperti sedang menggendong anak koala.


"Malam ini kau hanya milik ku Baby girl!"


To Be Continued.



Banyangin aja dulu.

__ADS_1



__ADS_2