Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Benci Tapi Perduli


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Dito terus memperhatikan Brian juga gadis yang ada di dalam gendongannya. Bersyukur karena Dito selalu membuat persiapan, bahkan di dalam mobil Brian, Dito menaruh sebuah selimut kecil takut-takut Brian membutuhkan selimut itu di saat genting.


Dito sebenarnya sedikit bingung. Dia tidak tahu siapa gadis yang ada di pangkuan Brian, Dito melihat gelagat yang tidak biasa dari bosnya. Jika gadis ini adalah mainan Brian, itu tidak mungkin, Dito tahu, Brian datang ke sekolah itu karena di suruh oleh Nugroho. Nugroho adalah orang yang sangat hati-hati. Dia tidak pernah membiarkan Brian dekat dengan wanita sembarangan.


Brian tidak bergerak sama sekali. Dia masih tetap dalam posisinya. Memeluk pinggang Byan dan membiarkan gadis belia itu terus memeluk lehernya. Brian tidak bisa membawa Byan pulang ke rumah dalam kondisi seperti ini, bisa-bisa Anjani akan membunuhnya jika wanita paruh baya itu tahu keadaan Byan. Ini memang salah Brian karena tidak menjemput Byan tepat waktu. Namun jika dia harus di marahi untuk hal seperti ini, Brian merasa itu tidak harus.


"Kita sudah sampai Tuan!"


Brian mengangguk. Dito keluar dari mobil lalu berjalan ke belakang untuk membuka pintu penumpang.


"Kamu ganti pakaian dulu Dit, habis itu tolong belikan baju untuk Byan. Dan belikan makanan yang hangat juga. Jangan lama-lama."


Dito mengangguk. Dia tidak mengantar Brian dan Byan sampai ke atas. Dito masih ada di dalam basement. Brian tadi menyuruhnya untuk berganti pakaian bukan? Namun dia harus mengganti pakaian dengan apa. Dito kan tidak membawa baju.


Beberapa detik kemudian, Dito sadar kalau dia selalu memegang kartu kredit milik Brian. Itu artinya Dito bisa membeli pakaian baru.


"Terima kasih Tuan, Anda memang yang terbaik."


****


Brian melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen. Byan masih setia memeluk leher Brian. Dia malah bersandar semakin nyaman di dada sang suami. Sebenarnya bolehkah Byan melakukan ini? Ini adalah pengalaman pertamanya bersentuhan dengan laki-laki yang memang tidak ada hubungan darah dengannya.


Ceklek!


Brian membuka pintu kamar lalu terus berjalan sampai pada akhirnya dia sampai di dalam kamar mandi. Perlahan, Brian menurunkan Byan dari gendongannya. Meskipun pada awalnya Byan menolak untuk turun, namun gadis itu berhasil Brian turunkan meskipun dia masih nemplok bak cicak didinding.


"Byan, sebaiknya kamu lepaskan pelukan kamu. Kamu mandi dulu sana! Nanti kalau kamu sakit aku bisa di omelin Ibu."


Byan menggeleng. Dia masih agak sedikit takut, jujur saja, kalau boleh, Byan mau suaminya menemaninya mandi. Bukan mandi bersama. Hanya sekedar menunggui Byan.


"Om, kalau orang itu kembali bagaimana?" tanya Byan.

__ADS_1


"Kita sudah aman. Dia juga sudah dapat azab. Apa kamu gak lihat dia tersambar petir tadi? Sudahlah, kamu mandi lebih dulu, aku akan membuatkan susu hangat untuk mu. Nanti Dito akan membawakan kamu baju, jangan pakai lagi baju basah kamu."


Brian melepaskan kedua tangan Byan dengan paksa. Dia keluar dari kamar mandi tanpa melihat Byan yang kala itu menatapnya dengan tatapan sendu.


Byan tidak ingin berlama-lama sendiri. Dia cepat-cepat membuka semua pakaiannya, kakinya melangkah menuju shower untuk memulai ritual mandinya.


Sementara Brian, dia berjalan menuju dapur. Lelaki itu mencari susu coklat untuk Byan juga untuk dirinya. Karena ingin cepat, Brian memasak air menggunakan teko listrik. Setelah memastikan teko itu menyala. Brian mengambil ponselnya, menekan layar pipih itu, dan menempelkannya ke telinga.


"Halo Bu, Byan aman sama Brian. Kita malam ini tidur di apartemen. Iya. Ibu jangan khawatir, semuanya baik-baik saja."


Brian kembali mematikan ponselnya. Dia menggelengkan kepala mendengar ocehan Anjani. Wanita itu benar-benar menyayangi Byan. Entah apa yang Byan miliki sampai-sampai kedua orang tuanya juga Aldi begitu menyukainya.


Drtzzzzz! Drtzzzzz!


Brian kembali menekan layar pipih itu dan menempelkannya kembali ke telinga. Kali ini wajahnya tidak sebaik sebelumnya, auranya sangat dingin dan mencekam. Brian berjalan menjauh dari pantry, lalu berdiri di depan dinding kaca apartemennya.


"Halo Dito, bagaimana?"


"Polisi baru saja menghubungi saya Tuan. Orang itu masih hidup, namun sekarang dia berada di rumah sakit. Polisi ingin meminta keterangan dari gadis itu Tuan, bagaimana apakah kita akan menyetujui ini atau tidak?"


"Baik Tuan, sebentar lagi saya sampai."


"Hemm!"


Brian menutup panggilan telepon. Belum sempat dia berbalik, Brian merasakan baju yang dia kenakan di tarik-tarik dari belakang. Dia menoleh. Matanya langsung membulat begitu dia melihat gadis belia yang sudah menjadi istrinya kini berdiri di depan dia dengan hanya menggunakan handuk. Tatapan yang Byan tunjukan membuat Brian tidak bisa berkutik. Rambut panjangnya yang basah. Wajah polos tanpa make up. Sepertinya gadis itu juga tidak mengeringkan tubuhnya dengan benar. Masih tersisa buliran-buliran air di lengan , dada juga di tulang selangka nya.


Brian meneguk saliva susah payah. Dengan cepat dia membuang muka karena tidak mau melihat pemandangan indah itu terlalu lama.


"Kenapa kamu sudah keluar? Baju kamu belum datang. Sebaiknya kamu kembali ke kamar!" Brian berbicara namun dia tidak berani untuk menatap Byan.


"Om, Byan takut. Byan gak biasa tinggal di kamar besar seperti itu sendirian. Kamar Byan yang lama sangat kecil. Kamar Om ini terlalu besar. Byan gak berani tinggal sendirian. Byan takut."

__ADS_1


Brian bernapas dengan susah payah. Ketika dia hendak berbicara, dia baru ingat kalau tadi dia sedang masak air. Brian buru-buru pergi ke pantry dengan Byan yang mengekornya dari belakang sembari memegang kemeja yang Brian kenakan.


"Aku tidak akan kemana-mana Byan, kenapa kamu sangat penakut. Tidak ada apapun di sini."


Byan tidak menghiraukan, dia masih tetap memegang kemeja Brian sembari terus berjalan mengikuti langkah suaminya.


Duarrrr!


"Akh!"


Byan kembali memekik sembari memeluk Brian dari belakang. Brian sempat tersentak kaget. Bukan karena petir, namun karena sesuatu yang menempel di belakang punggungnya. Brian merasakan itu, dia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak dia rasakan. Gundukan kenyal itu membuat otaknya traveling kemana-kemana.


"Om, Byan takut. Tolong Byan Om."


Brian terus merengek kepada suaminya. Tangannya semakin erat memeluk Brian meskipun baju yang di kenakan laki-laki itu masih basah.


"Semuanya akan baik-baik saja Byan. Lepaskan tangan kamu!"


Byan menggeleng. "Tidak Om, Byan tidak mau. Byan takut. Jangan larang Byan untuk memeluk Om, please!"


Brian hanya bisa mendesah pasrah. Detik berikutnya Brian mendengar pintu apartemen dibuka dari luar. Dia langsung menyembunyikan gadis itu di belakang punggung.


"Tuan, ini baju dan makanan yang Tuan minta."


Dito berjalan ke arah pantry lalu menyerahkan beberapa paper bag kepada Brian.


"Taruh saja di situ!" Tunjuk Byan pada meja pantry menggunakan dagunya.


"Baik Tuan."


Dito memperhatikan bosnya dengan seksama. Setelah mengetahui sesuatu, Dito langsung berbalik dan pamit dari apartemen itu.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya permisi dulu. Lanjutkan saja kegiatannya."


To Be Continued.


__ADS_2