
Brukkkkk!
Gadis itu jatuh terduduk di atas trotoar. Byan tersenyum mengejek. Namun meskipun begitu, Byan tetap menyodorkan tangannya untuk membantu teman sekolahnya.
"Byan!"
"Byan!"
Dua laki-laki dengan perawakan tinggi besar memanggil nama gadis itu. Byan menoleh. Dia memperhatikan kedua pria yang sedang berjalan ke arahnya dengan seksama. Yang satu berpakaian seperti dirinya. Dan yang satunya lagi berpakaian sangat rapih dengan setelan jas juga sepatu hitam yang mengkilap. Wajah kedua orang itu benar-benar sangat bercahaya ketika sinar matahari dengan indahnya menerpa wajah tampan mereka.
"Apa yang kau lakukan Byan? Kau mau jadi perundung hah?" Brian menatap Byan dengan mata elangnya.
"Kau tidak apa-apa Bi? Apa ada yang luka?" Aldi menarik tangan Byan menelisik tubuh gadis itu karena dia takut kakak iparnya terluka. Ketika itu Byan tidak bergerak. Tatapannya lurus menatap Brian yang masih melihatnya dengan marah. Byan tersenyum sinis. Bahkan ketika hal seperti ini terjadi, yang memperhatikan dia bukan suaminya, melainkan orang lain. Suaminya malah menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Apakah itu wajar?
"Aku tidak apa-apa Aldi." Byan menjawab dengan tegas. Dia berbalik hendak masuk ke sekolah namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia kembali ke posisi sebelumnya, menatap sang suami lalu mengambil tote bag dari tangan suaminya.
"Kalau tidak tahu apa-apa jangan asal bicara Om, nanti Om nyesel."
Brian menatap Byan dengan tatapan acuh tak acuh. Laki-laki segera bergegas pergi masuk ke dalam mobilnya. Dia kembali untuk mengembalikan tote bag milik Byan, namun dia tidak menyangka kalau dia akan melihat hal seperti itu. Gadis itu terlihat sangat kecil namun ternyata dia memiliki keberanian untuk merundung orang, benar-benar luar biasa.
"Sepertinya aku menikahi orang yang salah," gumam Brian.
Aldi menatap mobil kakaknya dengan tatapan tidak suka. Bisa-bisanya Brian berteriak kepada Byan di saat Byan tidak melakukan kesalahan apapun. Aldi melihat semuanya. Gadis yang tadi terduduk di depan Byan adalah gadis yang menyerang Byan lebih dulu. Aldi kembali melirik Byan yang sudah masuk ke area sekolah. Dia masuk ke mobilnya untuk menaruh mobil itu ke parkiran.
Semua siswa dan siswi yang tadi melihat perkelahian Byan hanya diam mematung sembari mencerna apa yang baru saja mereka lihat. Dua laki-laki tampan ada di sekitar Byan, meskipun mereka tidak tahu mereka memiliki hubungan apa, namun mereka sangat iri.
"Bukankah mereka adalah keluarga Nugroho ya? Orang yang tadi memakai mobil BMW itu adalah Kakaknya Aldi kan?"
__ADS_1
Seorang siswi bertanya kepada siswi yang lain dengan wajah terkejutnya. Dia melongo tidak bisa bergerak, bahkan tidak bisa berkedip.
"Sepertinya iya. Wah, si Byan benar-benar gak ketolong. Selain mendekati Aldi, ternyata dia juga jadi mainan kakaknya. Gila, si Byan jadi lonteh kelas atas kalau gini caranya."
****
Byan memanyunkan bibirnya kesal. Betapa bodohnya Byan karena membiarkan Brian menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak. Apa yang harus Byan lakukan? Bagaimana caranya supaya Byan bisa membalas dendam kepada suaminya.
"Beb Byan!" Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. Byan menoleh.
"Dita." Byan berseru kepada kawan seperjuangannya. Mereka memang belum lama saling mengenal, namun mereka sudah sangat dekat.
"Lo manggil nama Gue random banget Beb. Tumben Lo gak dateng sama si Aldi, dia kemana?"
"Di parkiran mungkin."
"Ekh itu dia orangnya," ucap Anandita melihat Aldi berlari ke arah mereka. Dengan langkah yang cepat dan napas yang ngos-ngosan, Aldi berhenti di belakang Byan dan menepuk pundak Byan pelan.
Byan memutar bola matanya. "Aldi, aku gak nyuruh kamu buat ngejar aku. Lagian juga aku ini bukan anak ayam yang lagi di kejar-kejar musang, kenapa kamu heboh banget?"
Anandita memperhatikan kedua orang yang sedang berbincang di depannya. Setelah di lihat dengan seksama, ternyata Byan dan Aldi terlihat sangat cocok.
"Ekh Beb, kalian beneran gak pacaran kan?" Anandita bertanya sembari memincing kan matanya.
Byan melotot. Dia menepis tangan Aldi yang sejak tadi bertengger di bahunya. "Gila kamu Dita, mana ada aku pacaran sama dia. Dia itu,-"
Byan semakin membulatkan matanya ketika tangan Aldi membekap mulutnya sampai Byan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. "Jangan bilang apa-apa Bi, kita sepakat untuk menyembunyikan fakta bahwa kita ini iparan. Kamu mau di DO dari sekolah gara-gara kamu udah nikah?" bisik Aldi di telinga Byan.
__ADS_1
Byan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Aldi mengangguk. Dia melepaskan tangannya dari Bibir Byan. Byan menatap Anandita sembari tersenyum. "Dia itu saudara aku Dita, gak mungkin lah kita pacaran." Byan tertawa canggung.
Anandita mengangguk mengerti. Dia menarik tangan Byan Lalau membawa gadis itu masuk ke dalam kelas. Guru seharusnya sudah hampir masuk. Mereka tidak boleh terlambat kalau tidak mau di hukum.
"Ekh!" Aldi melayangkan tangan di udara hendak menghentikan Byan. Dia belum puas melihat gadis itu, kenapa Anandita sudah merebut Byan darinya.
Di perusahaan Nugroho Company, seorang pria tampan baru saja memasuki lobi. Tak lama setelah itu wanita cantik dengan tubuh seksih nan aduhai mendekat ke arahnya.
"Pagi Tuan Muda," ucap wanita itu dengan suara yang dia buat semanis mungkin. Brian mengangguk. Dia tahu Sisil pasti akan langsung menyambutnya ketika dia sampai di perusahaan. Wanita cantik itu adalah asisten pribadinya. Ya, asisten yang merangkap sebagai simpanan. Tidak banyak yang tahu akan hubungan yang terjalin di antara mereka berdua karena Brian dan Sisil menutupi semuanya dengan apik. Mungkin ada beberapa orang yang tahu, namun itu pasti hanya teman-teman Brian yang selalu ikut berkumpul di klub malam.
"Dito di mana Sisil?" Brian menanyakan sosok sekertaris nya yang belum dia lihat sejak dia masuk ke perusahaan.
"Eum, Dito sedang memeriksa ruang rapat untuk acara sore ini Tuan Muda. Klien dari Prancis akan datang jam 2 sore nanti."
Brian mengangguk. Dia berdiri di depan pintu lift. Dengan sigap Sisil menekan tombol lift itu supaya Brian bisa cepat masuk.
Ting!
Pintu lift terbuka. Brian masuk di ikuti oleh Sisil di belakangnya. Ketika pintu lift sudah tertutup, Sisil langsung bergerak memeluk Brian. Dia berjinjit lalu mengecup bibir Brian sekilas. Sebuah kebiasaan yang selalu Sisil lakukan untuk memberikan servis kepada Tuan Mudanya.
"Kau semakin nakal Sayang!" Brian menarik pinggang Sisil, perlahan tangannya turun ke bawah meremas gundukan kenyal milik wanita cantik yang kini sedang menggigit bibir bawahnya.
"Kau sangat seksih," Bisik Brian di samping telinga Sisil. Sisil merona. Pipinya yang putih memunculkan semburat merah yang khas.
Ting!
Belum sempat Sisil meraba sesuatu di balik celana Brian, pintu lift sudah terbuka. Sisil buru-buru menyingkir. Dia mundur beberapa langkah sembari membetulkan penampilannya.
__ADS_1
"Ayah!" Brian tertegun melihat ayahnya sudah berdiri di depan pintu lift dengan wajah yang sangat menyeramkan.
To Be Continued.