
Brian menunggu Byan dengan harap-harap cemas. Setelah pekerjaan nya selesai, Brian langsung bergegas mengajak Dito pergi menjemput istrinya. Dia mulai celingukan sembari terus melihat ponselnya.
"Apa dia tidak membaca pesan ku Dit? Kenapa dia belum muncul juga?"
Dito menggelengkan kepalanya. Bukannya dia tidak ingin menjawab pertanyaan tuanya, hanya saja Dito merasa kalau Brian ini terlalu khawatir. Ini sudah pertanyaan ke lima yang dia tanyakan. Dan tidak mungkin Dito menjawab dengan jawaban yang sama. Lebih baik dia diam saja.
"Kamu tuli atau bisu Dit? Kenapa diam saja? Bosen kerja sama saya?"
Dito menjerit dalam hati. "Bukan seperti itu tuan tapi,-"
"Assalamualaikum!" Byan masuk dan langsung berbaring di pangkuan suaminya. Dito mengusap dadanya lega. Hampir saja dia mati kutu karena pertanyaan bodoh tuanya. Syukurlah Byan datang di waktu yang tepat.
"Waalaikumsalam. Capek banget ya?"
Byan hanya mengangguk. Dia membiarkan Brian mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang laki-laki itu bawa.
"Byan di hukum Om, gara-gara Agnes, lagian ya si Agnes itu aneh, dia suka sama Aldi, tapi giliran Aldi gak suka sama dia kok malah Byan yang jadi sasaran. Byan kan gak ada salah apa-apa. Byan udah bilang kalau Byan ini sodara Aldi, tapi dia gak percaya."
Brian dan Dito saling pandang dari spion. Mereka tersenyum mendengar curhatan Byan yang seperti tetesan air di gurun pasir. Brian mengusap kepala Byan lembut dia menunduk lalu mengecup kening istrinya sekilas.
"Maafkan aku!"
Lagi, Byan mendengar permohonan maaf itu lagi. Byan bangun lalu menatap suaminya penuh selidik. "Kenapa Om minta maaf, Om kan gak salah apa-apa."
Brian tersenyum. Dia menarik Kaki Byan lalu meletakkan kedua kaki istrinya di atas pangkuannya. "Kakinya peggel gak?"
Byan mengangguk. Dia membiarkan suaminya memijat kakinya sampai perlahan-lahan dia tidur, mungkin karena terlalu lelah juga karena pijatan yang Brian lakukan benar-benar membuatnya nyaman.
"Dit, jalan pelan-pelan aja!"
"Baik Tuan!"
__ADS_1
Brian menatap wajah istrinya tanpa henti. Jantungnya berdegup melihat Byan yang semakin hari semakin cantik di matanya. Mau seperti apapun penampilan Byan, dia selalu menjadi yang tercantik. Kali ini Brian benar-benar harus memeriksakan matanya.
Perjalanan yang seharusnya di tempuh dalam waktu 30 menit, sore itu mereka tempuh dalam waktu satu jam. Brian benar-benar tidak membiarkan Dito mengganggu tidur istrinya.
"Kamu pulang bawa mobil ini aja Dit, besok tolong jadwalkan pertemuan dengan dokter mata. Setelah mengantarkan Byan, kita langsung pergi ke rumah sakit."
Dito mengangguk. Dia membukakan pintu untuk Byan dan membawakan tas milik Nona kecilnya. Saat itu Anjani sedang duduk bersantai di depan rumah sembari bermain ponsel, dia langsung berdiri menghampiri Brian dan menantunya.
"Byan kenapa?" tanya Anjani kebingungan.
"Gak papa Ibu, cuma kecapean aja."
Anjani mengangguk. Dia beralih menatap Dito lalu mengambil tas milik Byan. "Gak masuk dulu Dit?"
"Tidak Nyonya, saya masih ada urusan. Saya permisi dulu!"
Anjani mengangguk kembali. Dia mengikuti Brian naik ke lantai atas. Anjani tersenyum ketika matanya melihat perlakuan Brian yang semakin hari semakin lembut kepada Byan. Bahkan Anjani sudah tidak pernah melihat wajah ketus nan bengis yang selalu Brian tunjukan pada istrinya.
Brian yang sedang menyelimuti tubuh Byan langsung menoleh.
"Ini tas istrimu, Ibu rasa kamu sudah ada kemajuan Nak, semoga kamu cepat sadar kalau orang yang benar-benar mencintaimu adalah Byan. Ibu harap kalian selalu bahagia." Anjani tersenyum sambil menepuk pundak Brian. Setelah melihat Byan tidur dengan nyenyak, Anjani melangkah keluar meninggalkan Byan dan Brian di kamarnya.
Brian tersenyum kecut. Dia melirik ke arah Byan lalu menatap ke arah lain. Brian benar-benar masih sangat bimbang. Ada perasaan takut dalam hatinya, dia sangat takut kalau dia tidak bisa mencintai Byan.
****
Beberapa menit kemudian, Byan bangun sembari mengucek kedua matanya. Dia melihat kiri kanan, ternyata dia sudah berada di kamar. Byan langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi saat dia mendengar pintu itu tertutup. Brian muncul dengan jubah mandinya. Dia berjalan mendekati ranjang lalu berdiri di hadapan Byan. Laki-laki tersenyum melihat Byan yang menatapnya tanpa berkedip.
"Bangun dan mandilah!" Brian menyentuh ujung hidung Byan membuat gadis itu mengerejapkan matanya lucu. Ya lucu dan sangat menggemaskan. "Aku sudah mengisi bathtub nya dengan air hangat, kau akan lebih relaks setelah berendam."
Byan mengangguk namun masih bergeming. Brian yang melihat itu malah semakin di buat gemas. Dia mengaku tubuh Byan dan membawanya ke kamar mandi. Byan tidak menolak, dia mengaitkan tangannya di leher Brian yang masih setengah basah. Matanya fokus memperhatikan buliran air yang menetes dari rambut suaminya lalu meluncur melewati rahang, leher bahkan ada yang menetes dari jakunnya yang selalu membuat Byan ketar ketir.
__ADS_1
Glekk!
Byan menelan saliva susah payah. Buru-buru dia menggelengkan kepalanya menepis peri mesum yang sedang mencuci otaknya. Byan sedikit terperanjat ketika suaminya menurunkan Byan di pinggiran bathaup. Dia langsung menoleh ke arah air yang sudah di penuhi busa mandi. Matanya berbinar. Byan menyentuh busa-busa itu lalu meniup nya di depan wajah Brian. Dia terkekeh saat busa itu mendarat tepat di ujung hidung suaminya.
"Hahah, Om, Om sangat lucu," tawa Byan membuat Brian menyunggingkan senyum. Dia melakukan hal yang sama lalu meniup busa itu di depan wajah Byan. Brian terkekeh. Bukannya membiarkan Byan mandi, dia malah ikut bermain busa sabun bersama gadis itu. Karena terlalu asyik bermain, Byan lupa kalau busa sabun itu pasti akan membuat lantainya licin. Dan benar saja, ketika dia hendak melangkah, kakinya terpeleset dan ....
"Akh!"
"Byan!"
Byurrrr!
Mereka berdua jatuh ke dalam bathtub bersamaan. Bukannya terkejut, Byan malah tertawa, dia tidak sadar kalau saat ini hidupnya sedang terancam. Bukan terancam oleh kematian, namun terancam oleh serigala lapar yang kini sedang menatapnya tanpa berkedip. Byan menoleh, dia mengerutkan kening melihat suaminya menatapnya tanpa berkedip. Dan ketika Byan mengikuti arah pandang Brian, gadis itu refleks menutup dadanya menggunakan kedua tangan. Bajunya menerawang dan semua yang ada di balik baju itu terlihat dengan sangat jelas.
Brian meneguk saliva susah payah. Dia tahu, bagian intinya sudah memegang dan tidak bisa diajak kompromi. Brian menarik tangan Byan lalu mulai menciumi gadis itu penuh hasrat dan gairah. Byan tidak melawan, dia menerima setiap hisap an dan lu mata Tan yang dilakukan oleh suaminya. Perlahan Brian mulai menggerakkan tangannya menyentuh sepasang balon air yang begitu menggodanya. Brian baru sadar jika ternyata bola air itu tidak sekecil bayangannya. Dia pernah menyentuhnya satu kali, namun kali ini dia baru menyadari jika bola air itu ukurannya sangat pas di tangannya. Tidak besar dan tidak kecil. Bola itu seperti sudah di buat khusus untuknya.
*Bola air apaan ai kamu Bambang🙈*
Semakin lama berselancar, Brian semakin di bakar api gairah. Laki-laki itu menarik tangan Byan mengarahkan tangan mungil itu pada belut besar yang ada di bawah air.
Byan terperanjat dan langsung menarik tangannya. "A-a-ada ular besar di bawah air Om!" Byan berbicara dengan napas yang terengah-engah.
Brian dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Itu bukan ular, itu sesuatu yang aku miliki."
Brian kembali menarik tangan Byan dan mengarahkan tangan mungil itu pada belut jumbo peliharaan nya. "Iya, lakukan seperti itu!" Brian mengangguk sembari memejamkan mata. Setelah memastikan jika Byan mengikuti arahnya, Brian menarik tengkuk gadis itu dan kembali menciumi Byan dengan rakus.
*Akhirnya kamu gak main solo lagi ya Bang. 🤭* meskipun sama-sama berjari, tapi lebih mending lah. 🤣🤣🤣
To Be Continued.
Udah dulu ya .... Gerah ini. Besok lanjut up lagi. Jangan lupa like dan komentarnya. Kalian sadar gak sih kalau aku up 6-7 bab sehari. 🥴💪🏋️💃 Semangat. !
__ADS_1