Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Ngidam????


__ADS_3

"Tuan muda, apa Tuan baik-baik saja?" tanya Dito dari kursi kemudi. Brian diam, dia merasa agak kurang enak badan dan sedikit loyo. Pria itu hanya duduk bersandar pada sandaran jok mobil sembari memejamkan mata dan memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut.


"Apa kita perlu ke rumah sakit Tuan?" tanya Dito lagi karena merasa khawatir.


Brian menggelengkan kepalanya. "Tidak Dit, kita pergi ke kantor Bima saja. Aku ingin menemui istriku."


Sepanjang perjalanan, Dito diam dan hanya memperhatikan Brian karena takut bos nya itu kenapa-napa. Dito sangat tahu kalau Brian ini merupakan orang yang jarang jarang sakit, dan kalaupun sakit, itu pasti hanya demam biasa, 1-2 hari bisa kembali sehat, namun sekarang, Dito merasa jika sakit Brian ini agak lebih parah.


"Kita sudah sampai Tuan!"


Brian membuka matanya perlahan, wajah murungnya hilang karena kini bibir itu menyunggingkan sebuah senyum. Dito keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Brian.


"Tunggu saja di sini."


......................


Di dalam ruangan, Byan sedang asyik memainkan game bersama dengan Bima, wajah nya berseri, fokus namun tetap cantik dan juga lihai dalam memainkan setiap karakter yang dia coba. Beberapa orang berdiri di belakang Byan dan Bima karena permainan itu sangat sayang jika di lewatkan. Seorang pengembang melawan gamer sejati, siapakah yang akan kalah?


"Yeayyyyyy!"


Byan bersorak gembira begitupun dengan beberapa karyawan Bima dan juga rekan kerjanya. Merasa bangga juga sedikit tercengang dengan kemampuan yang Byan miliki. Sang ahli IT pun hanya bisa menggelengkan kepala sembari bertepuk tangan dengan wajah melongo. Sementara Bima, pria itu hanya tersenyum, dia yakin, Byan memang bisa menaklukkan game yang dia buat. Gadis ini bisa menjadi penasihat untuk perkembangan game yang akan Bima rilis.


"Benar-benar hebat!" gumam salah satu teman Bima sembari menatap Byan tanpa berkedip, binar di matanya menunjukkan sebuah kekaguman juga ketertarikan kepada Byan, selain cantik, dia juga sangat pandai, gadis yang ceria, juga sangat menyenangkan.


"Ekhemmmm!"


Brian berdehem saat melihat harimau sedang menatap istrinya penuh minat, orang itu tidak sadar, dan saat Brian menatapnya dengan tajam, dia hanya bisa meneguk saliva susah payah.


"Om Brian!"


Byan memekik, melemparkan earphone dari tangannya, lalu berlari memeluk sang suami. Beruntung, saat itu Bima cekatan, jadi earphone yang Byan lempar tak langsung jatuh ke lantai.


"Om udah selesai meeting nya?" tanya Byan mendongak menatap sang suami. Brian mengangguk, sedikit menunduk untuk mengecup bibir Byan sekilas.


"Wooooowwww!"


Semua orang yang ada di sana nampak terkejut sekaligus iri melihat sepasang sejoli yang terlihat sangat serasi. Brian begitu memukau dengan segala pesonanya. Dan Byan, wanita itu benar-benar beruntung karena memiliki suami yang tampan, gagah, kaya, juga begitu mencintainya. Pria yang tadi menatap Byan hanya bisa menunduk, bagaimana bisa dia lupa kalau Byan ini adalah istri dari pemilik perusahaan Nugroho grup. Kecantikan juga aura memikat yang Byan miliki mampu membuat siapa saja lupa diri.


"Kalau sudah selesai, kita pulang," ucap Brian, menarik pinggang istrinya dan mengusap kepala sang istri lembut.

__ADS_1


"Tunggu Kak! Hari ini investor ku akan datang, tunggulah sebentar lagi, aku ingin mengenalkan Byan padanya."


Brian mengerutkan kening, apa hubungannya Byan dengan investor Bima, Byan itu istrinya, kenapa harus ikut campur dengan masalah Bima yang menurutnya tidak penting.


"Itu sepertinya investor kita Bim!" Teman Bima menunjuk ke arah luar pintu kaca kantor itu. Semua orang menoleh, tak terkecuali Brian dan Byan.


Bima melesat pergi menuju pintu masuk, membukakan pintu untuk Adelle dan asisten juga sekertarisnya.


"Selamat siang Bu!" sapa Bima ramah. Adelle mengangguk tersenyum. Matanya mulai berkeliling, memperhatikan seluruh sudut ruangan kantor Bima. Memang masih sangat kecil, namun Adelle yakin, dengan kegigihan Bima dan rekan-rekannya, suatu saat perusahaan ini akan berkembang pesat.


"Kau!"


Adelle berhenti tepat di depan Brian dan Byan. Byan mendongak, menatap wajah Brian lalu menatap wajah Adelle, gadis itu jelas saja bingung saat Adelle menyunggingkan sebuah senyuman kepada Brian.


"Kau Brian kan, aku Adelle, kita satu kampus saat kuliah, bahkan satu kelas."


Adelle menyodorkan tangannya di depan Brian. Byan berdehem sambil menyenggol lengan suaminya, namun saat Brian bergeming, Byan menjabat tangan Adelle sembari tersenyum.


"Maaf Bu, suami saya memang agak sedikit budek."


Brian mendengus, harusnya Byan bangga karena Brian tidak memperdulikan Adelle juga tidak menyentuh tangannya, namun apa yang baru saja dia dengar, Brian budek, oh astaga, ingin rasanya Brian menggigit bibir istrinya yang sembrono itu.


Adelle menunduk, mencubit hidung Byan gemas dan tersenyum lebar. Bukannya senang, Brian malah semakin tidak suka melihat tingkah Adelle yang sok akrab kepadanya. Dia menarik Byan dan memeluk pinggang istrinya erat.


"Jangan sentuh istriku Adelle, aku rasa kita tidak cukup saling mengenal untuk ini."


Adelle menganggukkan kepalanya, Brian memang selalu seperti ini, sikap jutek nan dingin nya sama sekali tidak berubah, dia masih sama seperti dulu.


"Kau masih sama Bri, sejak dulu sampai sekarang, kau masih seperti ini!"


"Woah, Bu Adelle tahu masa lalu Om Brian ya? Byan mau dong Bu denger cerita Om Brian pas masih kuliah, pasti banyak hal menyenangkan!"


Binar di mata Byan membuat Adelle tersenyum, matanya melirik Brian namun tangannya malah menarik tangan Byan dan menuntunnya untuk duduk di tempat yang nyaman.


Dua wanita itu terlihat sangat bahagia, mereka terus mengobrol, tertawa, bahkan Byan sampai mengusap sudut matanya saking kerasnya tertawa hingga membuat matanya berair.


"Apa ini acara reuni mereka Kak? Kenapa jadi kita yang menonton? Dia ke sini untuk urusan bisnis kan?"


Brian menggelengkan kepalanya. Dia sangat ingin duduk di sebelah Byan namun tidak bisa karena bau parfum yang di gunakan Adelle membuat perutnya bergejolak. Baru juga di bahas, Brian sudah merasa pusing dan ingin memuntahkan kembali sii perutnya.

__ADS_1


"Toilet Bim!"


Brian membekap mulutnya sembari menggoyangkan bahu Bima meminta pria itu untuk menunjukkan toilet.


"Ada di sana!" tunjuk Bima dengan wajah bingung juga heran.


Byan yang melihat gelagat tidak biasa dari suaminya langsung berdiri dan meminta ijin untuk pergi lebih dulu pada Adelle. Adelle tentu saja mempersilahkan Byan untuk pergi.


"Maaf Bu, Kakak ipar saya memang bawel, dia mudah akrab dengan orang baru, namun dia sangat cerdas."


Adelle mengangguk. "Saya tahu Bima "


...----------------...


Byan menunggu Brian di depan toilet, sebenarnya bisa saja dia masuk, namun itu adalah toilet pria, kalau ada orang selain Brian di sana bisa gawat.


"Om!"


Byan langsung berbalik saat mendengar pintu toilet terbuka. Brian keluar dengan wajah lesu juga sedikit pucat. Pria itu berjalan menghampiri Byan dan langsung memeluk istrinya erat.


"Om sakit? Kita ke rumah sakit ya?"


Brian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa By, aku hanya ingin memelukmu, kalau aku menempel padamu, aku merasa baik-baik saja."


Byan mengerutkan kening mendengar penuturan suaminya, namun dia tidak mau mengambil pusing.


"Kita pulang sekarang ya!" ajak Byan berusaha untuk menjauhkan suaminya agar dia bisa memapah suaminya untuk pergi dari sana.


"Aku ingin mangga muda By."


"What?"


Byan menatap suaminya dengan mata yang membulat.


"Om ngidam?"


To Be Continued.


Maaf agak telat Guys. Jadi Bibik dulu Author nya. 🤣🤣💪💪💪 Jangan lupa like dan komentar ya. Thank you. 😘😘😘

__ADS_1


Maaf telat Guys. Harusnya tadi up siang. Tapi karena ada kendala jadi baru bisa Author up. 🙏🙏🙏


__ADS_2