
"Sayang!"
Sisil celingukan melihat kiri kanan lalu menarik tangan laki-laki itu dan membawanya masuk ke dalam kamar kost. Laki-laki itu tersenyum sembari menarik pinggang Sisil lalu memeluknya dan menciumi leher wanita itu.
"Nendra geli ikh, kamu ngapain ke sini?" Sisil mendorong tubuh laki-laki itu lalu menatapnya lekat.
Nendra diam. Dia hanya terus memandangi wajah Sisil dengan tatapan mata memburu, laki-laki itu seperti hewan buas yang sudah tidak tahan ingin menerkam mangsanya.
"Kamu mabok lagi ya?" tanya Sisil sembari menutup mulutnya.
"Aku sangat merindukanmu sayang. Kenapa kau tidak ingin aku sentuh, bukankah kau sudah bilang kalau kau mencintaiku."
Sisil meringis ketika Nendra menarik pinggangnya, memeluknya dengan sangat erat, saking eratnya, Sisil sempat merasa jika tulang punggungnya serasa akan patah.
"Aku sudah bilang tunggu sebentar lagi. Kita akan menikah setelah aku berhasil mendapat uang yang banyak. Bukankah kau memerlukan uang itu untuk usahamu. Tunggu sebentar lagi. Aku jamin, gak lama lagi kita akan mulai kehidupan baru yang lebih baik."
Nendra tersenyum. Dia menggendong tubuh Sisil membawa wanita itu ke atas ranjang. Nendra menidurkan Sisil dengan sangat hati-hati. Sepasang sejoli ini sudah hampir 2 tahun berpacaran. Namun mereka masih belum melangsungkan pernikahan karena mereka belum memiliki modal yang cukup.
"Kau sangat cantik malam ini Sayang!"
Nendra membelai wajah Sisil dengan gerakan sensual. Laki-laki itu semakin menghimpit tubuh Sisil dan semakin lama, gerakan tangannya semakin lincah.
"Aku menginginkan mu sayang," bisik Nendra di telinga wanita cantik itu.
****
__ADS_1
Byan berlari dengan sangat kencang ketika dia mendengar mobil mertuanya datang. Brian, Aldi dan Bima hanya menyunggingkan senyum melihat kehebohan Byan. Rumah itu semakin lama semakin ramai. Byan ini selalu bertingkah layaknya anak remaja yang masih sangat manja dan kekanak-kanakan.
"Hati-hati Byan!" Brian berteriak ketika melihat Byan menuruni anak tangga dengan tergesa. Dia menggelengkan kepalanya merasa heran dengan kelakuan absrud istrinya itu.
"Ibu!"
Byan berteriak dan langsung memeluk Anjani. Anjani tertawa melihat Byan yang sangat antusias menyambut kedatangannya. "Belum tidur? Kenapa keluar, yuk masuk ke dalam dulu, nanti kamu masuk angin."
Nugroho tersenyum melihat dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Nugroho sudah menganggap Byan seperti anaknya sendiri. Apalagi gadis itu memang sangat lucu dan periang. Hari-hari mereka semakin berwarna sejak Byan muncul dalam kehidupan mereka.
"Apakah aku berdosa karena telah mengambil anak gadis yang sangat berharga ini dari keluarganya?"
"Ayah!"
Byan beralih memeluk Nugroho. Nugroho tersenyum membalas pelukan putrinya. Lebih tepatnya menantunya.
Nugroho terkekeh, bukannya menanyakan keadaan atau apa, gadis ini selalu saja menanyakan oleh-oleh lebih dulu.
Anjani menarik tangan Byan dan membawanya ke ruang keluarga. Aldi, Bima, dan Brian hanya duduk memperhatikan Anjani dan Byan. Mereka tidak berani menyela atau menganggu kegiatan menyenangkan yang sedang Byan dan Anjani lakukan. Mereka tidak seperti Byan yang akan senang jika orang tua mereka pulang, akan lebih bebas jika Nugroho dan Anjani keluar rumah, mangkanya mereka tidak pernah seantusias Byan ketika menyambut orang tua mereka pulang.
"Ibu punya sesuatu untuk kamu By!" Anjani menarik koper yang ada di dekatnya lalu mulai membuka koper itu. Wajah Byan berbinar, dia sudah tidak sabar, menunggu apa yang akan di berikan Anjani untuknya.
"Taraaaa!"
Anjani merentangkan baju tidur dengan potongan kain yang aneh dan seperti belum jadi. Aldi dan Bima mengulum senyum melihat baju itu. Sementara Brian, dia hampir tersedak ludahnya sendiri.
__ADS_1
Byan mengerutkan keningnya bingung. "Ibu, itu apa? Kenapa Ibu membeli jaring laba-laba. Ibu mau ternak laba-laba. Untuk apa Bu? Kan laba-laba bisa bikin jaring sendiri."
Keempat laki-laki di rumah itu tertawa sembari menatap Anjani penuh ejekan. Anjani ini benar-benar keterlaluan, sudah tahu menantunya masih belum paham dengan hal-hal erotis seperti itu, tapi Anjani selalu kekeh ingin mengajarkan Byan untuk menjadi wanita yang menyenangkan untuk suami.
Byan melirik semua orang dengan senyum tipis, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Byan salah ya Ibu, kalau bukan untuk ternak laba-laba, kain itu untuk apa Ibu?"
Anjani tersenyum dengan senyum 1000 bulan. "Baju ini untuk kamu sayang, kamu pake di depan Brian ya!"
Uhukkkk!
Kali ini Brian benar-benar tersedak ludahnya sendiri. Brian melihat ke sembarang arah dengan wajah yang memerah. Dia tidak berani menatap siapapun karena terlalu malu.
"Ikh Ibu, mana bisa Byan pake baju kayak gini, nanti aurat Byan terlihat semuanya. Byan malu akh. Lagipula, Byan kan masih banyak piyama seperti ini Bu!" Byan menunjuk piyama Doraemon yang dia kenakan dengan wajah polosnya.
Anjani menepuk jidatnya pusing. Byan ini benar-benar belum bisa di ajak berkompromi.
"Kalau gitu pakai yang ini aja ya!"
Anjani mengeluarkan baju hitam lengkap dengan pecut, gesper, bando, kaos kaki dan masih banyak lagi. Namun satu hal yang pasti, baju itu benar-benar sangat minim dan di bagian bawahnya terdapat tali yang bisa di buka dan ditutup di bagian selangkangannya.
"Ibu, Byan gak mau akh, Byan banyak uang dari Om Brian, Byan gak perlu cosplay memakai ini dan meminta-minta. Byan tidak kekurangan uang Bu."
Anjani memejamkan matanya sembari bersandar pada sofa. Sepertinya Byan memang belum mengerti. Harus dengan cara apa Anjani memberi tahu menantunya.
"Ayah, sia-sia Ibu beli semua ini!"
__ADS_1
Anjani berteriak prustasi, namun Nugroho hanya tertawa, dia sudah bilang kalau Byan belum mengerti apa-apa. Tapi istrinya ini malah kekeh, ya alhasil jadinya seperti ini.
To Be Continued.