
Sore hari. Sepulang sekolah, Bian melangkah dengan riang. Tadi dia sempat mendapatkan pesan dari suaminya, kalau suaminya itu bisa menjemputnya. Jika hari itu Bian menunggu sendirian, kali ini Bian meminta Anandita dan Navisa menunggu untuk pulang bersama. Ya, Anandita dan Navisa memang selalu pulang pergi bersama. Jadi mereka bisa meluangkan waktu untuk menemani Bian yang kala itu sedang menunggu untuk di jemput.
"Bi, pulang sama aku aja, jangan perdulikan dia, suruh aja dia balik duluan ya!"
Bian tersenyum sembari melepaskan tangan Aldi yang saat itu sedang mencekal pergelangan tangannya. "Tidak Al, aku harus pulang dengan dia. Bukankah dia memang harus bertanggung jawab atas aku? Sekarang kamu pulang aja. Nanti kita main game lagi ya!"
Mau tidak mau Aldi mengangguk. Dia tidak memaksa Bian karena dia juga tidak mau membuat Bian membencinya. Aldi memang selalu ingin dekat dengan Bian, namun sekarang, dia akan meminta persetujuan dari gadis itu. Aldi tidak akan memaksa jika Bian tidak ingin pulang dengannya.
Setelah Aldi pergi. Anandita dan Navisa berjalan mendekati Bian. Mereka berdua melirik Aldi lalu kembali menatap Bian. "Bi, kamu itu emang sodara Deket ya sama Aldi? Dia itu gak pernah kayak gini lho, meskipun dia memang seperti seorang Casanova, namun baru kali ini aku melihat Aldi memperlakukan wanita dengan lembut seperti itu."
Anandita mengangguk setuju. Memang agak aneh jika melihat Aldi yang bersikap lembut kepada Bian, ini tidak seperti perlakuan sodara, namun malah terlihat seperti perlakuan pacar yang sangat mencintai dan menghargai pasangannya.
Bian terkekeh sembari menepuk pundak Navisa dan Anandita. "Kita itu sodara. Udah itu aja. Jangan berpikir macam-macam."
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel Bian. Bian tersenyum ketika membaca isi pesan itu.
"Dit, Nav, aku pulang dulu ya, makasih udah nemenin aku. Lain kali aku traktir jajan ya!"
Anandita dan Navisa hanya mengangguk. Mereka berdua melambaikan tangan mereka tanpa ingin tahu siapa yang menjemput Bian ke sekolah. Mungkin jiwa kepo mereka belum bangkit karena mereka sangat mempercayai Bian.
__ADS_1
Bian membuka pintu mobil lalu masuk. Masih dengan wajah cerianya, Bian duduk di samping Brian yang kala itu sedang menekuk wajahnya masam.
"Jalan Om!"
"Baik Nona," jawab Dito.
"Om Brian, Om Brian udah sembuh?" Tanya Bian yang tidak menadapat jawaban dari suaminya. Bian menautkan alisnya bingung. Dia menarik bahu Brian lalu menangkup wajah Brian dan menempelkan keningnya di kening laki-laki itu. Saat Bian sedang sibuk dengan apa yang dia lakukan, Brian malah menatap wajah Bian yang kala itu berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
"Akh, sepertinya Om sudah sembuh," ucap Bian langsung melepaskan tautan kening mereka.
Brian yang tahu kalau Bian hendak bergeser, menarik pinggang ramping gadis itu lalu menempelkan bibirnya di bibir Bian, dengan gerakan yang sangat cepat, Brian menye sap bibir mungil itu dengan brutal.
Dito yang sedang menyetir di buat tersedak dan hampir saja membanting stir. Bisa-bisanya Brian melakukan itu di depannya, memang tidak ada tempat lain apa. Haruskah melakukan itu sekarang?
Bian mendorong dada suaminya dengan sangat kuat sampai Brian benar-benar melepaskan tautannya. Bian mengusap bibirnya kasar. "Om, Om itu binatang atau apa? Jangan mencium Bian sembarangan. Bian tidak suka."
Brian tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sinis lalu kembali memalingkan wajahnya.
Bian merasa agak bingung dengan perubahan sikap Brian yang tiba-tiba. Dia menunduk memperhatikan wajah suaminya. Tangan mungil itu kembali menarik bahu Brian lalu menyentuh wajah laki-laki itu.
__ADS_1
Mata Bian membulat. "Wajah Om kenapa? Om terluka? Om berkelahi? Siapa yang membuat wajah Om seperti ini?"
Bian hendak menyentuh wajah Brian namun laki-laki itu menepis tangannya. Bian menunduk. Lagi-lagi dia kembali di buat terkejut melihat buku-buku tangan Brian yang terluka. Bahkan luka itu sudah agak mengering.
"Om Dito, kita ke apotek sebentar ya!"
****
Setelah membelikan obat untuk Brian, Bian kembali masuk ke dalam mobil. Sebenarnya Dito juga sudah menawarkan diri untuk membelikan obat itu, namun Bian memaksa untuk membelinya sendiri.
"Kamarilah Om!"
Bian mendesah ketika suaminya tidak menggubris. Dia menarik wajah Brian dengan paksa. Ketika itu, Bian mulai membuka alkohol dan mulai mengobati luka di sudut bibir Brian. Setelah membersihkan lukanya dengan alkohol, Bian mengoleskan salep dengan sangat hati-hati. Bahkan tanpa sadar dia sedikit meniup sudut bibir Bian yang mana itu membuat Brian terpaku menatap wajah Bian yang ada di depan matanya.
Setelah di rasa cukup, Bian kembali mengobati luka di tangan Brian. Dia menyentuh tangan itu dan sedikit mengangkatnya. Kembali, gadis itu meniup punggung tangan Bian dengan sangat hati-hati. Jangankan Brian, Dito saja yang melihat itu meleleh karena perlakuan Bian yang begitu tulus kepada Brian.
"Sudah selesai!" ucap Bian setelah menempelkan plester di buku-buku tangan Brian. Dia menatap suaminya sembari tersenyum.
"Sekarang pegang ice bag ini dan tempelkan di pipi Om." Bian menyerahkan ice bag kecil kepada Brian. Dia menarik tangan Brian lalu meletakkan ice bag itu di telapak tangan besar suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih Om," ucap Bian menyindir karena suaminya malah bengong sembari menatapnya lekat.
To Be Continued.