Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Tidak Percaya


__ADS_3

Byan masih melamun sembari menatap telapak tangannya yang masih bergetar. Kantung matanya hitam seperti mata panda. Semalam dia benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan belut listrik yang menyalurkan percikan-percikan kelistrikan pada tubuhnya.


"Hei Beib, Lo gak papa kan?"


Dita yang baru datang menggebrak meja. Namun gadis yang dia kejutkan nyatanya tidak terkejut sama sekali karena dia masih tenggelam di samudra perbelutan seAsia. Byan menatap Anandita dengan mata sayunya. Anandita dan Navisa melotot. Mereka langsung menarik kursi dan duduk di dekat Byan.


"Lo gak papa kan? Lo sakit By, mata Lo item, tangan Lo kenapa? Kok Tremor begitu, Lo jatoh?"


Byan menggelengkan kepalanya lemah. Dia melipat satu tangannya lalu menumpukan kepalanya di atas tangan itu, namun matanya masih terus memperhatikan tangan kanannya yang masih saja bergetar.


Anandita dan Navisa saling pandang. "Anak ini kenapa?" tanya Dita tanpa suara. Navisa mengidikan bahunya tidak tahu. "Beib, Lo gak papa kan?"


"Bilang kalau kamu sakit By, nanti aku anter ke UKS."


Byan lagi-lagi menggeleng. "Aku tersengat belut listrik."


"What?"


Anandita dan Navisa kembali saling pandang. Dita menaruh telapak tangannya di kening Byan lalu meletakkan telapak tangan yang satunya di atas keningnya sendiri. "Lo gak demam Beib, kenapa sih, Lo Nemu belut listrik di mana?"


"Di rumah!"


Kembali dua orang itu di buat heran. "Orang kaya mana yang sanggup melihara belut listrik Byan, Lo jangan ngada-ngada ******. Bikin gue penasaran aja."


Navisa menyenggol bahu Anandita. Dia menggeleng kepalanya meminta Anandita untuk lebih menjaga ucapannya.


"Siapa yang melihara belut listrik By?"


"Om Brian, dia melihara belut listrik gede banget. Aku-aku merasakan itu semalam. Dia, dia benar-benar punya belut listrik."


Anandita terperangah, lalu dia tertawa terbahak-bahak. "Jangan bilang Lo megang burung orang Byan!"


Byan menggeleng. "Enggak Dita, Byan gak megang burung, Byan bilang Byan megang belut listrik. Kenapa kalian gak percaya sih?"

__ADS_1


Anandita mengangguk sembari mengulum senyum. "Lo udah pernah nonton film bokep belum? Mau gue liatin berbagai jenis belut sama Lo?"


Byan langsung bangun dan menatap Anandita dengan wajah penuh minat. Navisa yang ada di dekat Anandita mentoyor kepala Anandita cukup keras. "Ekh babi, berdosa itu. Gak boleh, Byan kamu gak boleh ikut kata-kata dia. Dia ini adalah jin berbentuk manusia. Mending aku aja yang jelasin."


Anandita semakin di buat sakit perut melihat wajah serius Navisa yang sudah memerah bak tomat masak. Anandita tahu, Navisa tidak akan sanggup membicarakan hal-hal seperti itu. Meskipun dia udah lama di Jakarta, namun Navisa adalah anak rumahan yang jarang bergaul karena takut tertular virus pergaulan Jaksel.


*Maaf lho. Aku gak ada maksud nyinggung siapapun di sini. Aku memerlukan ini untuk naskah aja.* 🙏


Byan beralih menatap Navisa. Dia menunggu dengan penuh semangat, namun temannya itu masih diam dan terus bergerak gelisah.


"Apa Na?"


"Akh, gak tahu deh aku, tanya aja sama Dita!"


Navisa melangkah keluar dari kelas untuk menghirup udara segar. Dia tidak bisa memikirkan hal-hal seperti itu. Otaknya akan terganggu dan itu pasti akan merusak kualitas belajarnya.


Anandita tertawa. Byan meminta jawaban namun Anandita malah mengangkat kedua bahunya acuh. "Nanti juga kamu akan tahu, " ucap Anandita sembari memegang pundak Byan. "Tapi inget, jangan main-main sama belut listrik, takut kesetrum beneran."


****


Berbeda dengan Byan, Brian malah sedang tersenyum seperti odgj. Dia sedang mendengarkan penjelasan dari dokter mata namun pikirannya tidak fokus dan malah terus terbayang-bayang bagaimana lembut dan licinnya tangan Byan tadi malam. Bahkan bayangan dimana wajah Byan yang memerah membuat Brian semakin bersemangat dan ingin merasakan kelembutan jemari Byan kembali. Sepertinya dia benar-benar sudah gila karena telah merusak kesucian tangan istrinya.


"Tuan!"


"Tuan Brian!"


Brian yang merasa namanya di panggil langsung menoleh dan merubah ekspresi wajahnya.


"Anda baik-baik saja bukan?" tanya dokter itu khawatir.


"Saya baik-baik saja dok, lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan mata saya?"


Dokter itu menggelengkan kepalanya. Jadi sejak tadi dia berbicara sampai mulutnya berbuih sama sekali tidak di dengar oleh pria di hadapannya ini, beruntung dokter ini tahu kalau Brian adalah anak pemegang saham terbesar di rumah sakit itu, kalau tidak dia pasti sudah meneriaki Brian dan mengusir laki-laki itu dari ruangannya.

__ADS_1


"Saya tadi mengatakan kalau mata Anda baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang aneh. Dan dari apa yang saya dengar, sepertinya Anda mengalami gejala jatuh cinta. Sebaiknya Anda berkonsultasi pada ahlinya. Saya tidak akan meresepkan obat apapun. Anda bisa keluar dari ruangan saya sekarang." Dokter itu tersenyum namun dalam hati dia menggerutu dan sangat ingin menghajar wajah tampan itu.


Brian mengangguk. "Tunggu Dok, maksud dokter apa bilang saya ada gejala jatuh cinta?"


"Anda tadi bilang kalau orang yang selama ini terlihat biasa saja di mata Anda semakin hari malah semakin cantik, bagaimanapun penampilan gadis itu, dia selalu cantik di mata Anda bukan? Nah, kalau bukan cinta lalu apa?"


Brian menggeleng kan kepalanya, Jatuh cinta, tidak mungkin, dia tidak mungkin jatuh cinta pada gadis ingusan itu. Byan bukan tipe wanita yang selama ini dia sukai. Sangat tidak mungkin jika dia mencintai wanita itu.


"Tidak mungkin Dok, saya tidak mungkin mencintai gadis itu."


Dokter itu tersenyum. Dia menyodorkan tangannya menunjuk ke arah pintu. Brian tahu dokter itu mengusir nya. Dia mendengus lalu keluar dari ruangan dokter ahli mata itu.


Brian keluar dengan beberapa layer kerutan di dahinya. "Mencintai Byan, itu tidak mungkin," gumamnya.


"Gak ada yang gak mungkin Bro, yang namanya cinta itu ajaib, kamu gak bisa menentukan kemana hati kamu akan berlabuh."


"Ngapain kamu di sini?" tanya Brian pada Mahen.


Mahen tersenyum. "Ikut ke ruangan ku. Aku akan menjelaskan semuanya." Brian menurut. Dia mengikuti Mahen di belakang. Setelah masuk ke ruangan Mahen, Mahen menuangkan segelas air lalu menyodorkan air itu pada Brian.


"Kamu pernah jatuh cinta?"


Brian mengerilingkan matanya. Dia menggeleng dengan yakin.


Mahen kembali tersenyum. "Kalau kamu belum pernah jatuh cinta, bagaimana kamu bisa yakin jika kamu tidak mencintai gadis itu? Dia Byan kan, istri kamu?"


Brian mengangguk. "Tapi ini gak mungkin, dia itu bukan tipe ideal wanita yang aku sukai Mahen."


"Suka belum tentu cinta. Cinta itu sangat berbeda Brian. Lambat laun, kamu akan mulai menyukai apapun yang ada pada istrimu. Mau dia seburuk apapun di mata orang lain, dia akan menjadi orang paling sempurna di matamu."


Mahen menepuk pundak Brian. Brian menatap Mahen dengan tatapan penuh pertanyaan. Benarkah yang Mahen katakan, dia jatuh cinta pada gadis itu, tapi bagaimana mungkin.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2