Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Pak Darwis Curiga


__ADS_3

Pak Darwis melihat ke arah buku tugas Byan lalu kembali melihat gadis itu. Byan tersenyum dengan wajah polos tak berdosa nya. Sejujurnya Byan merasa ini kurang baik. Namun ini bukan salahnya dia, pak Darwis yang memberinya tugas sangat banyak. Apalagi itu matematika. Jadi jangan salahkan Byan kalau kebanyakan dari soal-soal itu Brian yang mengerjakan.


"Kamu yakin ini kamu yang buat?" Pak Darwis bertanya dengan mata yang memincing menatap Byan penuh curiga. Byan mengangguk dengan mantap. "Emang kalau bukan Byan siapa yang ngerjain dong Pak. Gak mungkin kakek Byan kan , dia udah meninggal."


Pak Darwis menggelengkan kepalanya. Memang tidak baik bertanya hal serius kepada Byan, gadis itu pasti akan menjawab seenak jidatnya. "Ya sudah, ambil buku kamu. Bapak ingin tahu bagaimana nilai kamu setelah ujian nanti. Kalau nilai matematika kamu jelek, berarti semua soal ini memang bukan kamu yang ngerjain."


Byan mengangguk seraya membungkuk lalu pergi dari ruang guru. Dia berjalan dengan riang sembari memeluk dan menciumi buku tugasnya berkali-kali. "Kau memang yang terbaik Om, Byan harus banyak-banyak belajar dari Om supaya Byan bisa jadi juara umum."


"Kamu kenapa By?" Aldi yang bertemu Byan di koridor sekolah menatap gadis itu heran. Byan bertingkah seperti orang gila. Dia bahkan tidak memperdulikan siswa dan siswi lain yang menatap aneh ke arahnya.

__ADS_1


"Ekh Aldi," Byan berbicara sembari menggandeng lengan Aldi. "Kamu tahu, hari ini Pak Darwis mati kutu saat memeriksa tugas yang dia berikan padaku. Pak Darwis memberikan nilai 9,99. Bagus gak tuh?"


Aldi mengerutkan keningnya. Itu adalah Nilai yang hampir sempurna. Bagaimana mungkin Pak Darwis yang begitu perfeksionis memberikan nilai sebagus itu. Sepintar-pintarnya Byan, dia tidak mungkin bisa mendapat nilai hampir sempurna.


"Kamu serius?" tanya Aldi masih tidak percaya.


"Liat aja!" Byan menyodorkan buku tugasnya pada Aldi. Mata Aldi membulat saat dia melihat nilai yang Pak Darwis berikan benar-benar 9,99. Ini gila sih, otak Byan seencer apa sampai dia bisa mendapatkan nilai seperti ini. 9,99 berati setara dengan A+ lebih dikit.


Di ruang kerja Brian, laki-laki itu terlihat sedang sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya. Sesekali dia menguap menutup mulutnya dengan tangan. Semalam dia bergadang sampai jam 3 pagi. Dan pagi-pagi buta dia sudah harus bangun karena harus mengatakan Byan sekolah.

__ADS_1


"Ini kopinya Tuan Muda."


Dito menyerahkan cangkir kopi sambil memperhatikan Brian yang lesu dan seperti kurang istirahat. "Tuan, apa tidak sebaiknya Anda istirahat dulu, saya bisa mengundur jadwal untuk rapat hari ini."


Brian menggelengkan kepalanya. "Tidak Dito, aku harus profesional. Lagipula sudah ada kopi ini. Kamu gak usah khawatir. Siapkan saja ruangannya."


Dito mengangguk. Dia keluar dari ruangan Brian, namun belum sempat dia membuka pintu, pintu itu sudah di buka dari luar. Wanita yang selama ini selalu menempel kepada Brian muncul. Dia berlenggak lenggok bak model di atas catwalk. Senyum di wajahnya merekah. Apalagi saat melihat Brian yang sangat tampan. Sisil menjadi lebih bersemangat dan tentunya bergairah. Wanita itu berjalan mengitari meja kerja Brian lalu duduk di meja itu sembari menyilangkan kaki menunjukkan paha mulus nan seksi yang dia miliki.


Brian masih belum sadar jika di sebelahnya kini sudah ada ular piton yang siap melilitnya sampai mati. Laki-laki itu masih fokus memeriksa dokumen sambil sesekali menguap karena di serang kantuk yang luar biasa.

__ADS_1


"Sayang!"


To Be Continued.


__ADS_2