Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Batu Di Balik Udang


__ADS_3

"Siapa kamu, kenapa kamu yang menjawab. Bukankah ini ponsel Byan?" Brian bertanya dengan nada tiga oktafnya.


"Aku Dita. Aku akan menyampaikan pesan mu kepada Byan."


Tut!


Dengan tidak sopan nya Dita menutup panggilan Brian. Jelas saja Brian marah dan melemparkan ponselnya sembarang arah.


Hap!


Dito dengan sigap menangkap ponsel Brian. Dia berjalan mendekat ke arah Brian lalu meletakkan ponsel itu di atas meja yang ada di depan bosnya.


"Apa kau yakin ini akan berhasil Dit, kau tidak sedang membohongi ku kan?"


Dito mengangguk mantap. Sejujurnya tidak ada cara yang lebih baik dari ini. Dito tentu saja sangat tahu karakter nona kecilnya seperti apa. Gadis itu adalah gadis yang ceria, selain itu dia juga sangat aktif. Pasti dia sangat menyukai hal-hal seperti ini. Karena umur Brian dan Byan yang terpaut cukup jauh, mungkin Brian masih meraba-raba dengan karakter istrinya yang 180° berbeda dengan karakter nya yang kalem dan tidak terlalu suka bergaul dengan orang baru.


Flashback on.


Dito memperhatikan tuannya dari kaca spion. Hari ini wajah tampannya kembali suram. Aura vampir dari wajah yang unreal itu kembali muncul ke permukaan membuat Dito merinding.


Brian terus bergerak gelisah. Karena Dito merasa ada yang aneh, Dito memberanikan diri untuk bertanya. Namun, baru ingin membuka mulut, dia mendengar Brian berbicara dengan nada yang tidak biasa.

__ADS_1


"Dit, apa salah jika aku melarang Byan pergi camp car dengan teman sekolahnya? Kau tahu, aku hanya khawatir padanya Dit. Aku takut Byan kenapa-napa di saat aku tidak ada di sana. Kau juga sangat tahu bagaimana jahilnya anak-anak SMA. Aku tidak mau Byan jadi sasaran mereka. Aku tahu semua gosip yang beredar di sekolah. Anak-anak sialan itu membenci istriku dan menuduhnya menjadi simpanan orang."


Dito termenung di balik kemudi. Apakah Brian sedang curhat saat ini, kenapa terdengar sangat lucu. Brian adalah orang yang sangat irit bicara. Tapi kalau sudah menyangkut Byan, mulutnya seperti ketumpahan minyak jelantah hingga dia tidak bisa mengerem dengan baik.


"Maafkan saya kalau saya lancang Tuan. Sebaiknya Anda biarkan Nona kecil pergi. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir yang dimiliki Nona kecil untuk berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-nya. Nona pasti akan sangat bahagia jika Tuan memberikannya izin."


Brian menatap Dito tajam. Bukan ini yang ingin dia dengar dia hanya ingin Dito mendukungnya agar dia tidak terlalu merasa bersalah kepada Byan.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkan Byan pergi dan jauh dari pengawasan ku Dito. Kau tidak mengerti maksudku atau bagaimana?"


Dito mengangguk sembari tersenyum. "Saya tahu kegelisahan Tuan. Saya punya ide yang bagus. Saya rasa ini akan sangat menyenangkan."


"Apa maksudmu Dit?"


"Saya yakin Tuan. Saya akan mempersiapkan segalanya. Tuan tidak perlu khawatir. Saya permisi dulu Tuan."


Brian mengangguk. Dia berharap rencana Dito ini akan berhasil. Dia bisa menyenangkan istrinya juga tidak perlu merasa khawatir akan sesuatu. Ini akan lebih baik karena Byan pasti akan sangat bahagia.


****


Beberapa hari kemudian, Byan sudah bersiap dengan segala keperluan nya. Bahkan yang membantu dia packing adalah suaminya sendiri. Laki-laki itu sudah sering melakukan perjalan jauh. Jadi dia benar-benar tahu apa yang akan Byan butuhkan dan apa yang tidak.

__ADS_1


"Brukkkkk!"


Byan melompat ke pelukan suaminya. Brian tersenyum, dia mengangkat tubuh Byan lalu mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Melihat Byan yang bahagia seperti ini membuat Brian ikut bahagia, dia merasa jika beban di pundaknya langsung menghilang menguap bersama kebahagiaan dan keceriaan istrinya.


Senyum itu, senyum yang Byan berikan pada suaminya benar-benar tulus. Dengan posisi women on top saat ini, Byan menangkup wajah suaminya lalu menghujami wajah tampan itu dengan puluhan kecupan yang Byan berikan.


"Terima kasih Om, Om baik banget. Byan sayang..... banget sama Om!"


Gadis itu berucap dengan senyum malu-malu. Namun tidak dengan Byan. Dia mengangkat dagu Byan dan mulai melancarkan aksinya. Jika Byan hanya memberikan kecupan, Brian kebalikannya. Dia memberikan Lum matan dan his apan yang sangat luar biasa. Laki-laki itu melakukan nya seolah dia tidak memiliki hari esok. Dengan gugup Byan membalas ciuman suaminya. Namun dia segera melepaskan ciuman itu ketika pasokan oksigennya mulai berkurang.


"Bernapas perlahan!" Bisik Brian di depan bibir istrinya. Byan mengangguk dan melakukan apa yang Brian perintahkan padanya.


"Ini adalah hadiah yang harus aku terima kan? Maaf kalau aku kehilangan kendali lagi!"


Byan menggelengkan kepalanya. Dia juga sangat menikmati ciuman itu. Tidak ada yang salah di sini. Mereka sama-sama menyukai olah raga bibir yang selalu mereka lakukan. Seperti tidak pernah bosan dan tidak pernah merasa cukup.


"Byan harus berangkat sekarang Om!"


Brian mengangguk. "Aku akan mengantarmu ke depan."


To Be Continued.

__ADS_1


Holaaaa. Maaf telat lagi. Jangan lupa like dan komentarnya ya. Saling like komentar juga sangat di anjurkan Guys itu bisa membantu menaikan popularitas karya. Apalagi kalau bisa komentar di tiap bab. 🤭🤭 Tunggu kelanjutannya lagi ya. Sepertinya agak sorean. Gak papa lah ya. 😊


__ADS_2