Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Bertemu Selingkuhan Suami


__ADS_3

"Bian!"


Teriakkan Brian membuat Bian yang sedang berkutat dengan wajan dan segala perlengkapan di dapur menoleh.


"Uhuk!" "Uhuk!"


"Om Brian, Om jangan ke sini Om. Di sini banyak asap."


Dengan santainya Bian berbicara. Bian sama sekali tidak melihat Brian yang sudah mengeluarkan dua tanduk dari kepalanya. Brian yang kala itu sudah sangat emosi berjalan ke arah dapur lalu mematikan kompor, setelah itu dia mengangkat tubuh Bian seperti karung beras.


"Om, apa yang Om lakukan, Bian sedang memasak. Om mau membawa Bian ke mana?"


Bian terus meronta ingin diturunkan, namun tentu saja Brian tidak melakukan itu. Brian terus berjalan lalu mendudukkan Bian di atas sofa dengan kasar.


Bian mendongak. Dia menatap suaminya dengan wajah yang polos. Bian masih tidak menyadari kalau dia sudah membuat singa pemarah ini tersulut emosi.


"Om jangan merengut kayak gitu dong, Bian takut. Om itu kayak Biawak kalau marah kayak gitu."


Brian menghela napas berat. Dia menatap Bian sembari berdecak pinggang. Bian yang melihat tatapan Brian semakin tajam sontak saja langsung menunduk. Nyalinya menciut karena takut.



Bian menunduk dengan lesu. Seperti anak ayam yang sedang ketakutan karena terus bermain di parit dan pada akhirnya di marahi sang ibu. Gadis itu terlihat sangat menyedihkan. Brian yang tadinya ingin marah malah merasa tidak tega. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan. Brian tahu dia berhadapan dengan anak TK yang menjelma jadi anak SMA. Gadis ini sungguh membuatnya sakit kepala di hari liburnya.


"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan hah? Kau ingin membakar apartemen ini atau bagaimana?"


Bian semakin menunduk sembari memainkan jemarinya. "Bian hanya ingin membuat sarapan untuk Om, Bian ingin berterima kasih karena kemarin Om sudah membantu Bian. Bian tidak berniat untuk membakar apartemen Om. Bian gak punya uang untuk ganti rugi Om."

__ADS_1


Brian memutar bola matanya malas. Dia tahu Bian sedang memasak. Namun seharusnya kalau dia tidak bisa melakukan itu Bian tidak usah sok-sokan megang wajan dan apalah. Untung saja Brian cepat keluar dari kamar, kalau tidak, mungkin dia akan di tegur penghuni yang lain karena apartemen nya mengeluarkan kepulan asap.


"Bian kau ini."


Ting tong! Ting tong! Ting tong!


Brian yang hendak memarahi Bian, namun dia mengurungkan niatnya ketika mendengar suara bel. Dia melotot ke arah Bian lalu berjalan untuk membuka pintu.


"Siapa juga yang bertamu pagi-pagi seperti ini. Mengganggu saja."


Cklekkkk!


"Sayang!"


Suara melengking itu terdengar seiiring dengan mengaitnya tangan orang itu di lehernya Brian. Brian tidak membalas pelukan orang itu. Dia sedang tidak mood karena masih sangat kesal kepada Bian. Sekarang masalahnya malah bertambah. Haruskah Brian menghilang saja dari dunia ini. Menghadapi bocah seperti Bian saja Brian sudah sangat pusing. Apalagi kalau dia harus meladeni Sisil. Brian benar-benar tidak sanggup melakukan itu.


Wanita itu mulai menggerakkan tangannya menyentuh setiap bagian dari dada Brian. Dia memutar-mutar jari telunjuknya bermaksud untuk menggoda Brian. Namun bukannya tergoda, Brian malah di buat emosi. Tangan besar laki-laki itu mencekal tangan Sisil membuat Sisil sedikit meringis. "Jangan melewati batas Sisil. Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menyentuhku seperti itu. Kau hanya bisa bergerak ketika aku mengijinkan mu melakukan nya."


Brian berbicara dengan suara yang pelan namun penuh ketegasan. Sisil yang mendengar itu langsung menunduk kesal. "Ini ada titipan dari Dito, dia bilang ini milik mu." Sisil menyodorkan paper bag kepada Brian. Brian mengambil paper bag itu dengan cepat.


"Sebaiknya kau pulang Sisil. Aku sedang tidak ada Mood untuk melayani mu. Besok kita akan kembali bertemu di perusahaan."


"Om!"


Brian yang hendak mendorong Sisil menoleh. Gadis itu melotot melihat seorang wanita sedang berdiri di depan suaminya dengan jarak yang sangat dekat. Bian memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah. Alisnya bertaut. Bian langsung teringat akan kata-kata suaminya yang mengatakan jika dia menyukai wanita yang berisi, dada besar dan bo Kong padat. Bian bisa melihat semuanya karena wanita itu memakai pakaian yang sangat ketat.


Sisil pun melakukan hal yang sama. Dia memperhatikan Bian dari atas sampai bawah. Gadis itu lumayan cantik, tubuhnya langsing dan terlihat lebih pendek darinya. Selain kulit yang putih bersih, sepertinya gadis itu tidak lebih baik dari dia.

__ADS_1


"Siapa dia Sayang?" Sisil bertanya sembari memegang lengan Brian. Brian melepaskan tangan Sisil dari lengannya.


"Dia hanya seorang yang tidak penting. Sebaiknya kau pulang dulu. Aku janji, besok aku akan menjelaskan semuanya padamu."


Brian mendorong Sisil sampai wanita itu lenyap di balik pintu apartemen yang di banting oleh Brian.


"Dia siapa Om? Tadi Bian mendengar Tante itu memanggil Om Sayang, Om selingkuh ya dari Bian?"


Pertanyaan menohok dari Bian membuat Bian tidak bisa berkata-kata. Lelaki itu berjalan mendekati sang istri lalu menyerahkan paper bag dengan cepat.


"Jangan banyak bertanya. Cepat ganti pakaian mu, aku sudah menyuruh Dito membeli pakaian baru. 10 Menit lagi kita akan keluar."


Brian meninggalkan Bian yang masih menatapnya penuh selidik. Laki-laki itu lantas masuk ke ruang baca yang dia gunakan juga sebagai ruang kerja ketika dia sedang ingin sendirian di apartemennya. Sementara Bian, dia menatap punggung suaminya dengan kilatan amarah. Hatinya tidak menerima jika ada wanita lain yang memanggil suaminya dengan sebutan Sayang. Haraga dirinya terluka jika sampai dia terus mendengar itu.


Tidak sampai 10 menit, Bian sudah berganti pakaian. Kali ini dia memakai kaca mata kuda karena sepertinya Dito membelikan dia ukuran yang lebih besar dari ukuran yang sebelumnya.


Gadis itu menunggu Brian keluar dari ruang kerjanya. Masih ada waktu 1 menit lagi sebelum laki-laki itu keluar dari kamarnya.


Klek!


Bian menoleh ke arah sumber suara. Namun saat dia mengingat kalau yang keluar pastilah suaminya, Bian langsung kembali duduk dengan tenang sembari memasang wajah masam.


Bian menunggu agak lama untuk mendengar suaminya mengajaknya keluar. Sepertinya tadi Bian sudah melihat Brian keluar dari ruang baca. Kenapa dia sangat lama. Bian terpaksa menolehkan kepalanya untuk memastikan situasi.


Kedua mata bulat itu terpaku. Matanya terkunci oleh mata Brian yang kini sedang menatapnya lekat. Kenapa Brian menatapnya dengan tatapan seperti itu, apakah ada yang salah dengan pakaiannya, apakah Bian dandan terlalu menor, tadi Bian sempat melihat peralatan make up di paper bag yang Dito kasih, dia iseng untuk memakai make up itu karena penasaran.


"Om, Bian kayak ondel-ondel ya?"

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2