Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Monyet Lumpur


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap seseorang ketika Dita membuka pintu.


Anandita melongo. Gadis itu menatap gadis di depannya dengan tatapan tidak percaya.


"Navisa, Lo ngapain di sini? Lo ke sini sendiri?"


Navisa tersenyum dengan wajah tak berdosa nya. "Byan bilang aku boleh ke sini, jadi gak papa kan, aku juga mau liburan. Bosen lha tinggal di rumah."


"Masuk aja Na! Kita lagi sarapan!" suara Byan melengking. Navisa tersenyum, gadis itu menyeret kopernya masuk ke dalam rumah. Karena tidak mau pusing, Anandita juga ikut masuk ke dalam.


****


"Ini kan masih pagi, kita ke rumah Tania dulu ya!" Byan berbicara namun dia masih sibuk dengan ponselnya. Navisa dan Anandita menoleh ke arah Byan.


"Tania sipa oy! Jangan bilang, dia orang yang bakal ngurangin jatah belanja kita?" Anandita memincing kan matanya menatap Byan tidak suka.


"Dia sahabat aku di sini. Sebenarnya hubungan kami kurang baik karena aku waktu itu tiba-tiba pergi. Aku ingin meminta maaf padanya. Tenang aja, aku jamin, aku dia gak akan ngurangin jatah kalian."


Anandita mengangguk mengerti. Namun kedua sahabat Byan mulai bingung saat taksi online yang mereka tumpangi semakin masuk ke perkampungan.


"Temen Lo tinggal di sawah By?"


"Iya, ekh enggak, rumahnya emang deket sawah tapi dia gak tinggal di sawah juga. Nah itu rumahnya."


Byan tersenyum. Dia memberikan ongkos taksi kepada sopir, lalu mengajak Navisa dan Anandita keluar.


"Taniaaaa!" Byan berteriak ketika melihat Tania sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Sepertinya Tania akan pergi ke suatu tempat.


"Byan!" Tania berseru, dia tersenyum namun dengan segera Tania mengubah ekspresi wajah nya.


"Tania Byan kangen!" Byan memeluk Tania tanpa memperdulikan wajah kusut temannya itu.


"Ngapain ke sini? Bukannya udah bahagia jadi orang kota?" sarkas Tania membuat Byan mendongak menatap dia.


"Masih marah ya? Byan ajak kamu maen yuk! Nanti aku yang traktir!"

__ADS_1


Tania menggelengkan kepalanya secepat kilat. "Aku gak ada waktu. Aku lagi bantu Ambu sama Abah di kolam ikan. Kamu pergi saja sendiri!"


Tania hendak pergi namun Byan malah memeluk gadis itu dari belakang. "Jangan marah lagi dong, Byan salah, maafkan Byan. Byan janji, Byan akan lakukan apapun asal kamu mau maafin aku. Jangan marah ya! Aku kangen ikh"


Tania tersenyum tipis. "Oke, kalau itu yang kamu katakan, aku akan memaafkan kamu, tapi aku punya syarat!"


Byan melepaskan pelukannya, dia memutar tubuh Tania dan menatap mata gadis itu dengan mata yang berbinar.


*****


"Akhhhhh!" Anandita memekik. Semua orang yang ada di sana menoleh menatap Dita heran.


"Ada apa Neng, kenapa teriak-teriak kayak gitu?" Abahnya Tania bertanya.


Tania meringis dengan wajah kegelian. Byan dan Navisa juga Tania tertawa melihat Anandita di tengah-tengah kolam ikan yang airnya sudah mulai surut.


"Kamu jangan teriak-teriak Dit, nanti ikannya pada stres denger suara kamu."


"Lo itu bener-bener tega By, katanya mau di ajak belanja, malah di ajak main lumpur kayak gini. Gue geliiii Byaaan!"


Anandita mendengus kesal. Dia mau tidak mau menuruti apa yang Byan katakan, daripada gak jadi belanja, lebih baik dia berkorban sebentar.


"Dit!"


"Apa?" bentak Dita kesal.


"Itu ada temen kamu!" Byan menunjuk ke suatu tempat.


"Apaan anjir, gak jelas banget!"


"Ikh, beneran, itu temen kamu!" Byan kembali menunjuk sesuatu.


Mata Anandita membulat. Dia menatap Byan tajam. "Byan! Tega-teganya Lo bilang Gue mirip keong hah!" Anandita di buat semakin kesal. Dia mengambil lumpur lalu melemparkan lumpur itu pada Byan, namun sialnya, bukan Byan yang kena, namun malah Tania yang belepotan, gadis pemarah itu tentu saja tidak terima. Mereka berdua pada akhirnya saling serang lumpur pada wajah juga baju yang mereka kenakan. Sementara Byan, gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Si Eneng jahil ya, Neng Byan naik aja, biar Ambu sama Abah yang ngambil ikannya."

__ADS_1


Byan refleks berhenti tertawa. "Gak papa Ambu. Byan seneng kok nangkap ikan sama Ambu sama Abah. Apalagi ada temen-temen Byan."


"Dita! Kamu udah mirip monyet loh, mau aku antar ke kebun binatang gak? Kali aja kamu ketemu kembaran kamu di sana!"


Anandita menoleh mendengar ledekan Byan. Dita melirik Tania dan Navisa bergiliran, dan dalam hitungan detik, ketiga orang itu mengepung Byan dan melumuri seluruh tubuh Byan dengan lumpur.


Gelak tawa terdengar dari kolam ikan itu. Ambu dan Abah hanya bisa menggelengkan kepala melihat kekonyolan para gadis yang sekarang sudah tidak terlihat wajahnya.


Siang hari, mereka baru naik ke permukaan. Hanya bibir dan mata mereka yang terlihat, sementara yang lainnya, terlumuri lumpur dengan sempurna.


"****** Lo By, gue jadi kayak kucing kecebur got gini."


Dita menggerutu kesal kepada Byan. Byan tertawa. "Aku sudah bilang kalau kamu itu mirip monyet Dit, gak udah ngaku-ngaku mirip kucing deh!"


"Udah ikh, lebih baik kita mandi aja dulu, ada air mancur lho dibawah sana!" Tania menunjuk ke satu arah. Ketiga gadis di sampingnya mengangguk bersamaan.


****


Di tempat lain, di atap gedung tinggi yaitu di sebuah pabrik prodak kecantikan, seorang pria sedang tersenyum melihat foto yang istrinya kirim. Entah apa yang terjadi pada gadis itu, dia hanya membuat caption "Masa kecil kurang bahagiaπŸ˜‚"


Dito memperhatikan Brian dari samping. Bosnya ini mengatakan ingin segera pulang, namun dia malah asyik bermain ponsel sambil tersenyum seperti orang bodoh.


Dito beralih memperhatikan area sekitar dari atas gedung itu. Dia ikut tersenyum melihat empat orang perempuan sedang bermain air di bawah air mancur yang di sebuah pesawahan hijau.


"Tuan Muda, Tuan muda lihat! Mereka sepertinya sangat bahagia, mereka beruntung, orang dewasa sedang sibuk bekerja di jam-jam seperti ini, tapi mereka seperti tidak memiliki beban dan bermain dengan sangat gembira."


Brian mengangkat wajahnya, dia menoleh kepada Dito lalu mengikuti arah pandang sekretarisnya, mata Brian terpaku, kedua alisnya tertaut, dia melihat ke arah objek yang dilihat di sebrang sana, lalu melihat ke arah ponselnya, beberapa kali dia melakukan itu hingga pada suatu titik, dia menyadari jika orang-orang yang sedang Dito perhatikan adalah orang-orang yang ada di ponselnya. Ya, salah satu dari mereka adalah istrinya sendiri yaitu Byan.


"Astaga, dia itu Byan, sedang apa dia di sana?" Brian melengos pergi meninggalkan Dito yang masih belum sadar dengan apa yang Brian katakan, detik berikutnya laki-laki itu sedikit tersentak, dia langsung berbalik dan berlari mengejar Brian.


"Tuan tunggu!"



Neneng sebelum perang lumpur. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2