Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Jatuh Cinta


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan nuansa baby pink, seorang wanita cantik sedang tersenyum menatap layar ponselnya. Sejak bertemu dengan Rendy, gadis itu lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar.


Keindahan dunia luar sama sekali tidak berarti di bandingan dengan puluhan chat yang menghiasi aplikasi hijau di ponselnya. Dia kembali menatap layar ponsel itu, memeluknya lalu berguling di atas ranjang.


🎶


Sejak pertama kita bertemu, ku rasakan ada sesuatu, inikah cinta yang ku rasakan, setiap ku memikirkan mu.


🎶


Sejak kedua kita bertemu, ku rasakan ada sesuatu, inikah cinta yang ku rasakan, setiap ku memikirkan mu.


🎶


Apa benar aku sedang jatuh cinta? Serasa hati ini berbunga-bunga, mungkin ini pertama dalam hidupku, ku tak bisa tidur seminggu.


🎶


Hoo,o,o aku sedang jatuh cinta, serasa indah rasanya hidup ini, ku tahu, ku sedang jatuh cinta.


The Sister; Ku sedang jatuh cinta.


Navisa kembali duduk lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia diam untuk beberapa saat, dan kembali mengambil ponselnya lalu mengetikan sesuatu.


"Datang ke rumahku jika ingin bertemu."


Navisa menggelengkan kepalanya. Dia ingin memencet kata delete, namun malah kata send yang dia pencet.


"Astaghfirullah, bagaimana ini?"


Navisa kalang kabut. Mondar mandir seperti setrikaan berjalan, juga meremas kepalanya beberapa kali. Tangan nya cekatan menghapus kembali pesan itu. Namun siapa sangka, ternya dia kalah saing dengan system.


"Habislah aku. Kenapa aku mengirim pesan seperti itu. Aku bahkan tidak mengenal dia dengan baik."


Navisa duduk di tepian ranjang, detik berikutnya berdiri, lalu duduk kembali. Dia melakukan itu sudah hampir 30 menit. Beberapa kali matanya melirik layar ponselnya. Tidak ada balasan. Navisa berharap kalau Rendy tidak menerima pesan darinya.


Ting!


Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Dengan perasaan gelisah, Navisa mengambil ponselnya. Dia masih menutup mata karena belum berani melihat itu pesan dari siapa.


"Sepuluh menit lagi aku akan sampai. Tunggu aku di depan pintu."


Satu kalimat di ponselnya mampu membuat Navisa berhenti bernapas. Matanya membola membaca setiap deret huruf yang Rendy kirim.


"Apa aku tadi share lokasi? Enggak kan, Kenapa dia bisa tahu rumahku?"


"Itu gak penting, sekarang, dandan yang cantik Na, jangan bikin malu."


5 menit berlalu, Navisa kini sudah berganti pakaian dan sedikit menata rambutnya. Ini sudah jam 7 malam, apa Rendy benar-benar akan datang atau hanya mempermainkan nya.

__ADS_1


"Kok jadi deg-degan gini sih," gumam Navisa menyentuh dada sebelah kirinya.


Ketika mendengar sura motor, Navisa membuka sedikit gorden kamarnya. Kembali jantung itu berdegup kencang seperti sebuah drum yang di tabuh di festival perayaan tahunan di sebuah negara besar.


"Dia benar-benar datang," gumam Navisa, merapikan penampilan, lalu berjalan keluar dari kamar minimalisnya.


"Ada tamu ya Na?" tanya Ayah Navisa kepada anaknya.


"Itu, anu, temen Navisa Ayah." Navisa tersenyum tipis sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Temen apa demen nih?" Ujar Ibu Navisa menggoda gadis itu. "Ajak masuk sana!"


Navisa mengangguk. Dia membuka pintu, tak langsung menatap Rendy dan malah menunduk dengan wajah memerah padam.


"Assalamualaikum," ucap Rendy mendekati Navisa.


"Wa'alaikumssalam Kak. Silahkan masuk!"


Navisa mempersilahkan Rendy masuk sedangkan dia masih berdiri di ambang pintu untuk menetralkan degup jantungnya.


"Aku pasti sudah gila," gumam Navisa pada dirinya sendiri.


"Aku aja nih yang masuk?" tanya Rendy.


"Akh iya, aku masuk sekarang!"


"Assalamualaikum Om, Tante," sapa Rendy menyalami Ibu dan Ayah Navisa.


"Waalaikumsalam Nak, silahkan duduk!"


Rendy mengangguk, dia duduk dengan penuh percaya diri. Pria ini tidak terlihat malu atau sungkan, entah itu karena dia memang sering main ke rumah lawan jenis, atau memang kepribadiannya yang bagus.


Randy terus saja melirik Navisa. Sementara gadis itu masih menunduk tidak berani menatap dia. Ayah dan Ibu Rendy tahu apa yang terjadi. Mereka berdua tersenyum melihat Navisa mereka sudah jauh lebih dewasa dari


sebelumnya.


Malam itu, bukannya bercengkrama dengan Navisa, Randy malah lebih banyak mengobrol dengan kedua orang tuanya. Bersyukur, karena Randy orangnya bawel, jadi dia tidak kesulitan. Menghadapi berbagai pertanyaan yang Ayah Navisa lontar kan.


...----------------...


Byan menetap wajah suaminya lekat. Tangan besar itu masih setia mengusap perut datarnya. Byan tersenyum membuat pria yang dia tatap ikut tersenyum. Mereka berdua terhanyut dalam tatapan cinta masing-masing.


"Om, apa Byan benar-benar harus pergi?" tanya Byan. Berusaha untuk memastikan jika suaminya hanya sedang bercanda dan dia tidak serius dengan ucapannya kala itu.


Brian menunduk. Dia membaringkan tubuhnya lalu memeluk Byan membuat posisi gadis itu miring membelakangi nya. Tangan besar nan hangat milik Brian masih mengusap perut bawah Byan lembut.


"Jangan bahas ini dulu ya, kalau kau stres, nanti sakitnya malah semakin terasa. Kita akan bahas ini nanti," bisik Brian di telinga sang istri.


Refleks, Byan langsung membalik tubuhnya, menatap Brian, menyentuh wajah tampan itu, dan mengecup bibirnya cukup lama.

__ADS_1


"Byan gak bisa nunggu kapan-kapan Om, lusa Byan sudah akan resmi keluar dari SMA. Saat itu terjadi, bukankah semua data dan berkas yang Om butuhkan sudah harus selesai?"


Brian mengangguk. Dia menarik pinggang Byan, memeluk gadis itu hingga mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pucuk kepala istrinya.


"Semuanya sudah siap By, tinggal menunggu wisudamu dan aku akan mengantarmu ke sana."


Byan memejamkan mata. Dia berharap jika apa yang sedang dia bicarakan dengan Brian ini hanyalah sebuah mimpi. Byan tidak ingin sekolah di Korea, tapi jika dia terus menolak, dia takut kalau nanti dia akan menyesal.


"Om janji satu hal sama Byan!"


Brian mengangguk.


"Om gak boleh nakal, Om harus setia sama Byan. Kalau Om sampai bermain gila dengan wanita lain, Byan janji, Byan akan kejar Om meskipun ke ujung dunia."


Brian terkekeh. Kepala itu kembali mengangguk dengan mantap. "Aku hanya akan mencintaimu By. Aku janji."


...----------------...


Hari di mana Byan akan melakukan perpisahan terakhir dengan teman-teman sekolahnya tiba. Gadis itu sudah memakai make up minimalis, kebaya dengan atasan brokat berwarna biru muda dan bawahan berwarna coklat dengan belahan sampai ke lutut membalut tubuh langsingnya dengan sangat apik.


"Om Brian!"


Gadis itu berteriak memanggil suaminya. Brian yang kala itu sedang menelpon seseorang berbalik, sebuah senyuman terukir di bibirnya. Mematikan ponsel lalu berjalan menghampiri sang istri yang kesulitan menarik zipper roknya.


"Tolong bantu naikan zipper nya Om!"


Pria itu mengangguk. Namun, bukannya menaikkan zipper, Brian malah meremas bongkahan kenyal di bawah pinggang gadis itu.


Byan langsung terperanjat dan refleks memutar tubuhnya.


"Om mau apa?"


Byan melotot kepada suaminya. Bukannya menjawab, tangan kekar Brian malah menarik pinggang Byan lalu mendarat kan ciuman di bibir gadis itu. Bibir mungil nan menggoda dengan sentuhan lip jelly yang Byan pakai membuat bibir itu mengkilap seolah memaksa Brian untuk melahapnya.


Brian tersenyum tat kala istrinya membalas setiap lu matatan dan hisa pan yang dia berikan, ketika Byan mengalungkan kedua tangannya di leher Brian, laki-laki itu mengangkat pinggang Byan lalu mendudukkan nya di atas meja rias.


"Ahhh, Om, jangan lakukan itu!" Byan menggelengkan kepalanya, menahan tangan Brian yang hendak masuk melewati celah rok yang dia kenakan.


"Kau sangat cantik hari ini Sayang, aku menginginkan mu!" Bisik Brian dengan suara serak dan berat. Napasnya memburu. Pagi ini, dia benar-benar sudah kehilangan akal karena melihat kecantikan Byan yang membuatnya tergoda.


"Tapi Om!"


Belum sempat menjawab, bibir Brian sudah lebih dulu menjila ti dan meng hi sap pelan lehernya.


To Be Continued.


Oke. Segitu aja pemanasan nya. Jangan lupa like dan komentar ya.


Lanjut apa enggak nih? 😂😂😂😂🔥

__ADS_1


__ADS_2