
"Om!"
"Hmmm!"
"Besok Ibu mau ngadain acara tujuh bulanan baby twin's. Pasti sekarang Ibu lagi sibuk banget, kita pulang agak cepet gak papa ya?"
Brian mengangguk, menutup laptop lalu beranjak dari duduknya. Dia mengambil jas yang ada di senderan kursi menarik tangan Byan sembari tersenyum.
"Kita pulang sekarang!"
Byan mendongak, menengok wajah suaminya dengan kening berkerut. "Om serius? Pekerjaan Om?" tanya nya.
"Iya, acara itu kan untuk bayi kita, jadi kita juga harus ikut andil kan?"
Byan mengangguk dengan wajah berseri. Byan pikir Brian tidak akan menuruti keinginannya. Akhir-akhir ini perusahaan sedang sibuk, tapi kalau Brian mau membantu ibunya untuk mempersiapkan acara syukuran itu Byan merasa sangat bahagia.
Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti sejenak di sebuah stand penjual es cendol Elisabeth. Sebuah minuman khas yang ada di kota Bandung, Byan dulu sering meminum itu ketika dia masih sekolah, jadi rasanya, dia sangat ingin merasakan sensasi, manis, gurih, dan dinginnya es cendol itu.
"Kata dokter kamu gak boleh terlalu banyak minum yang manis-manis seperti ini By!"
Brian menyerahkan es cendol itu pada sang istri. Byan mengangguk dengan senyum merekah.
"Byan hanya ingin mencobanya sedikit, nanti kan ada Om yang habiskan sisanya."
"Ya sudah, cepat minum, jangan sampai Ibu tahu kalau kau membeli minuman seperti itu. Kau tahu kan Macan Asia itu sangat protektif setelah tahu kalau kau hamil By?"
"Siap Bos!"
Brian mengacak rambut istrinya gemas melihat keceriaan yang Byan tunjukan. Byan memang harus menjaga pola makannya dengan baik, semakin sering dia minum minuman manis dengan kadar gula yang tinggi, itu akan semakin memperbesar kemungkinan bayi yang dia kandung akan cepat meningkat bobot badannya.
Tidak ada jajanan yang sering Byan beli semasa dia sekolah yang benar-benar belum dia makan setelah hamil, dan setiap kali Byan membeli camilan seperti itu, Brian harus bersiap untuk mejadi tong sampah yang akan menghabiskan semua makanan yang Byan beli.
"Kita sudah sampai Tuan!"
Brian mengangguk, setelah meminum habis es cendol yang istrinya sisakan, Byan membuka pintu mobil lalu membantu istrinya untuk ikut turun bersamanya.
"Hati-hati!" ucap Byan menyangga pinggang sang istri ketika dia sudah menutup pintu mobilnya kembali.
"Loh, sepertinya di rumah banyak orang Om?" Byan memperhatikan deretan mobil yang dia yakini jika itu adalah mobil milik orang terdekat mereka.
"Hei! By jangan cepat-cepat jalan nya!"
Brian berlari mengejar sang istri ketika wanita hamil itu melesat begitu saja tanpa ada aba-aba sedikitpun.
"Byan baik-baik saja Om!" teriak Byan sembari mengangkat tangannya menyuruh Brian untuk tidak khawatir.
"Assalamualaikum!" Byan memekik saat dia sampai di dalam rumah, semua orang yang sedang sibuk meniup balon juga membuat dekorasi di ruang tengah mendongak saat mendengar suara Byan.
__ADS_1
"Wah! Kalian juga datang?" ucap Byan menatap Navisa, Anandita, Tania dan yang lainnya bergiliran.
"Lo bilang Lo gak mau menyewa orang untuk melakukan ini bukan, jadi kita yang bantu!"
Tania mengangguk saat mendengar ucapan Anandita. "Gara-gara kamu, aku yang lagi hamil aja ikut kerja kayak gini By!" Tania mendelik menatap Byan kesal.
Byan tertawa. "Yeay. Itu salah kamu sendiri, kenapa ikut bantu kalau gak ikhlas, aku bisa kok bantu Ibu."
"Eittttssss!" Anjani dan Navisa menahan lengan Byan saat dia hendak duduk di antara orang-orang yang sedang membuat hiasan untuk mendekorasi salah satu dinding di rumah itu.
"Jangan lakukan apapun! Sekarang duduk lah!" Anjani dan Navisa menuntun Byan untuk duduk di sofa.
Byan mendesah karena tidak di biarkan untuk ikut membantu. Mereka semua selalu seperti ini, mulut mereka terkadang jahat namun sebenarnya mereka sangat menyayangi Byan.
"Jadi Byan harus ngapain?" tanya Byan dengan wajah memelas.
"Duduk saja! Mau Ibu buatkan jus?" tanya Anjani menawarkan.
"Tidak Ibu, Byan sudah kenyang!"
Anjani menetap Byan penuh selidik, matanya tidak berkedip dan malah menatap Byan semakin tajam.
"Byan gak jajan sembarangan!" seloroh Byan yang sudah mengerti dengan tatapan ibu mertuanya.
"Baby!"
Brian sedikit tercengang mendengar Byan yang tiba-tiba mengeluarkan nada tinggi padanya. Apakah dia melakukan sesuatu yang salah, pikirnya.
"Kak Bima mana?" tanya Byan.
"Aku di sini!"
Bima menyumbulkan kepalanya dari pagar pembatas di lantai atas.
"Turun! Kita main game lagi, sekarang Byan satu tim sama Kak Bima!"
"Terus lawannya siapa?" tanya Bima berlari menuju lantai bawah.
"Om Brian sama Om Dito."
"What?"
Brian menatap Byan hendak protes karena dia sangat tahu jika Dito tidak mahir memainkan game online.
"Gak ada penolakan. Yang kalah nanti akan mendapat hukuman."
Brian mendesis. Namun dia tetap menerima tantangan dari sang istri, melepas jas yang dia pakai lalu melemparnya sembarang arah. Dia juga menarik dasi di lehernya agar dia bisa lebih leluasa untuk bernapas.
__ADS_1
"Semangat By! Lo yang terbaik!" Anandita memekik yang mana itu membuat Tania tidak suka.
"Ayo Kak Dito, Kakak pasti bisa, masa kalah sama Ibu hamil!" ucap Tania tidak mau kalah dari Anandita. Semua orang yang sedang bekerja mendadak jadi suporter untuk orang-orang yang sedang bermain game. Entah sejak kapan rumah keluarga Nugroho menjadi sangat ramai seperti ini.
****
Keesokan harinya, semua orang lagi-lagi di buat sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk acara 7 bulanan Byan. Acaranya benar-benar di buat sangat sederhana, persis seperti apa yang Byan inginkan, mereka hanya mengundang anak-anak panti asuhan untuk melakukan pengajian, juga mengundang orang-orang terdekat mereka.
"Wuahhhh, kau sangat cantik By!" Navisa melihat Byan dari atas sampai bawah. Bumil itu mengenakan gaun panjang berwarna putih dengan jilbab senada, dan Brian, pria yang ada di sampingnya juga tak kalah menakjubkan, mereka terlihat seperti pasangan yang hendak melakukan pemotretan untuk sebuah majalah atau sebagai brand ambassador dari pakaian yang mereka pakai.
"Kau juga sangat cantik Na! Apa Kak Rendy gak dateng?" tanya Byan.
"Kak Rendy lagi pergi keluar kota By. Jadi gak bisa ke sini."
Byan mengangguk. Dia mengedarkan pandangannya melihat orang-orang yang datang.
"Agnes!" gumam Byan melihat Agnes sedang berdiri di dekat pintu masuk rumah mereka.
"Om!"
"Aku akan mengantar mu!" Brian yang tidak bisa melepaskan Byan kemanapun wanita itu pergi merangkul pinggang Byan menuntun nya untuk berjalan menemui wanita yang tadi dia sebutkan.
"Agnes kenapa gak masuk?" tanya Byan menarik tangan Agnes agar wanita itu tidak terus berdiri seperti patung penjaga pintu.
"Aku tidak mengenal siapapun di sini By!"
Agnes merasa kurang nyaman karena dia memang tidak bisa mengajak siapapun untuk mengobrol.
"Ada Aldi kok," ucap Byan, "tuh orangnya!"
"Aldi!"
Byan sedikit memekik meminta Aldi untuk mendekat ke arahnya.
"Ada apa By? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Aldi.
Aldi melirik Agnes sekilas, orang yang di lirik malah menunduk dalam, sebenarnya dia sangat malu jika harus bertemu dengan Aldi, perasaannya yang dulu masih sama, Agnes masih mencintai pria itu. Namun Agnes mencoba untuk bersikap biasa saja, dia tidak ingin Aldi tahu jika dia masih mengharapkan nya.
"Enggak, tolong temani Agnes ya, dia gak kenal siapapun di sini selain kita, kau tahu sendiri bagaimana Anandita dan Navisa kan, mereka tidak akan suka jika aku menyuruh mereka untuk menemani Agnes!" Byan berbisik. Aldi mengerti dan menerima permintaan Byan.
Sementara di tempat lain, Anjani sedang menarik tangan Bima meminta pria itu untuk menyambut tamu istimewa yang sengaja dia undang untuk dia kenalkan kepada anaknya.
"Apa sih Ibu, Bima gak mau akh, Bima gak suka kalau Ibu main narik-narik Bima kayak gini."
"Sudahlah, jangan membantah. Ibu yakin, kau pasti akan sangat menyukainya!" ucap Anjani masih mencoba untuk menarik Bima keluar dari pintu. "Nah itu dia!" tunjuk Anjani pada seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai tengah berjalan dengan senyum merekah.
"Ibu dia!" ucap Bima menatap wanita itu tanpa berkedip.
__ADS_1
To Be Continued.