
Brian bersimpuh di samping ranjang istrinya. Kini Byan sudah di pindahkan ke kamar inap biasa. Selang infus hanya tinggal satu, oksigen juga sudah di lepas. Wajah pucat Byan menjadi saksi bahwa wanita itu memang tidak sedang baik-baik saja. Tatapan nya kosong, buliran air bening mengalir dari sudut matanya. Sudah satu jam sejak Brian berlutut di samping ranjang sembari menggenggam tangannya. Byan masih bergeming seolah raganya sudah kembali namun masih mencari tempat yang tepat untuk tinggal.
"Sayang, aku tahu semua ini salah ku. Seharusnya aku bisa menjaga mu dengan baik. Maafkan aku Baby. Maafkan aku!" Suara lirih itu terdengar sangat memilukan.
"Om!"
Brian langsung mendongak.
"Iya Baby!"
"Berdirilah!"
Brian mengangguk, dia berdiri meskipun dengan susah payah. Satu jam berlutut membuat kakinya melemah seperti jelly. Sembari berpegangan pada tepian ranjang Brian berdiri menatap Byan yang masih menatap langit-langit rumah sakit.
"Apa bayi kita benar-benar tidak bisa bertahan?" lirih Byan membuat Brian tertegun. Jantungnya kembali mencelos. Dia bingung harus mengatakan apa.
"Dokter mengatakan jika kita harus menunggu 2 hari untuk melihat reaksi janin itu By."
Byan menoleh. Wajahnya yang tadi tidak berekspresi mulai menunjukkan perubahan, tangannya menarik tangan Brian dan menggenggamnya erat.
"Jadi dia belum pergi kan? Apa yang harus kita lakukan untuk mempertahankan janin ini, aku akan melakukan apapun asal janin ini bisa bertahan, tolong katakan padaku aku harus apa Om. Katakan sama Byan apa yang harus Byan lakukan!"
Brian merengkuh tubuh bergetar Byan, dekapan hangat itu semakin membuat Byan tak kuasa menahan deraian air mata. Byan tahu, dia bodoh karena dia telah membuat janin yang dia kandung berada dalam kondisi seperti ini. Namun Byan juga tidak tahu kalau saat itu dia sudah hamil, kalau dia tahu, dia tidak akan melakukan hal gila seperti itu.
"Kita tidak bisa melakukan apa-apa Baby. Kita berdoa saja, semoga Allah masih mempercayakan janin ini pada kita."
Byan menggelengkan kepalanya. Dia memukul dada Brian berulangkali. Brian tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya membiarkan Byan terus menangis hingga tangisan itu terus melemah hanya suara sesenggukan Byan yang Brian dengar. Perlahan, Brian menggenggam tangan Byan dan mengusapnya lembut. Istrinya sudah tidur? Selelah itukah dirinya.
"Maafkan aku By, tidur lah jika kau sangat lelah!"
Brian membaringkan Byan di atas lengannya, ikut berbaring dan mulai memejamkan mata. Mencoba untuk melupakan semua masalah ini meskipun hanya sekejap. Brian harap, setelah Byan bangun dia akan lebih membaik.
"Apa mereka tidur?" tanya Anjani pada Aldi dan Bima yang mengintip Byan dari celah pintu.
"Sepertinya iya Bu. Kita biarkan mereka istirahat dulu."
Anjani mengangguk. Dia yang tadi sudah sangat ingin masuk menarik dirinya lagi. Mungkin saat ini Brian dan Byan memang membutuhkan waktu berdua. Keadaan hati mereka sedang tidak baik-baik saja. Anjani begitu terluka saat tahu kalau Byan akan kehilangan bayinya. Apalagi Byan dan Brian yang sudah menunggu kehadiran bayi itu.
"Bu. Kita pulang saja dulu. Kita ambil segala kebutuhan Byan."
__ADS_1
Anjani mengangguk, tangannya terulur menarik lengan Aldi dan Bima.
"Kenapa kita harus ikut?" tanya Bima tidak setuju dengan keputusan Anjani.
"Jika kalian di sini tanpa pengawasan, Ibu takut kalian akan menggangu Brian dan Byan. Lebih baik kita pulang saja dulu."
Anjani menyeret Aldi dan Bima untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Meskipun kedua anaknya sudah menolak dengan berbagai alasan, namun Anjani tidak akan melepaskan pengacau-pengacau yang selalu merusak suasana itu untuk tetap tinggal.
****
Di tempat lain, Dito sedang berusaha untuk membujuk Tania supaya istrinya itu menghentikan tangisannya. Sudah dua jam Tania mengurung diri di dalam kamar. Dito hanya bisa duduk bersandar pada pintu kamar karena dia tidak di ijinkan masuk.
"Sayang, tolong! Buka pintunya. Berhentilah menangis. Aku tahu ini sangat sulit untuk semua orang, tapi kita bisa apa, kita itu hanya manusia biasa, sebaiknya kita berdoa agar Nona Byan bisa cepat sadar. Aku juga sangat takut, apalagi melihat Tuan yang sudah seperti orang kehilangan jiwa, aku tahu aku salah. Tolong jangan hukum aku seperti ini."
Brakkkkk!
Bughhhhh!
Dito terjungkal ke belakang saat pintu kamarnya dibuka kasar dari dalam. Pria itu menatap Tania dari posisinya yang masih berbaring. Istrinya itu terlihat sangat berantakan. Wajahnya memerah. Matanya bengkak, dan raut wajahnya benar-benar sangat menakutkan.
"Byan sudah sadar!"
Dito langsung berdiri sembari memeluk Tania erat, namun beberapa detik kemudian, dia menjauhkan Tania dengan tangannya yang masih memegang kedua bahu Tania erat.
"Ini sungguhan kan? Nona Byan sudah sadar?"
Bukannya menjawab, Tania malah menangis semakin menjadi. Dia meraung-raung seperti sorang balita. Dito menjadi sangat bingung namun dia kembali memeluk sang istri, mencoba untuk menenangkannya dan tidak mau bertanya lagi karena takut istrinya akan semakin meraung.
"Tidak apa-apa. Non Byan sudah baik-baik saja. Kita tidak akan kehilangan siapapun. Allah sangat menyayangi kita, jangan menangis lagi."
"Apa kita bisa menjenguknya sekarang?" tanya Tania di sela-sela tangisannya.
"Hmmm. Kita pergi ke rumah sakit sebentar lagi. Bersiaplah. Jangan tunjukan wajah jelek ini pada Non Byan. Kau tidak ingin membuatnya sedih kan?"
Tania mengangguk. Tanpa menunggu lama, Tania langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi. Dito hanya bisa memeluk angin, namun dia tetap tersenyum. Setidaknya dia tidak harus melihat Tania menangis terus.
"Apa persahabatan kalian sekuat ini? Haruskah kita meresmikan persahabatan kalian?"
****
__ADS_1
"Mau ke mana?" Teriak Haris saat Anandita menyambar kunci motor di atas meja kerjanya.
Anandita tidak menjawab. Dia malah mengambil tas juga helem di samping pintu.
"Apa kau tidak akan menjawab ku Dit?"
Haris bertanya dengan nada putus asa. Dia sedang tidak baik-baik saja. Hatinya masih bergemuruh karena memikirkan Byan. Ditambah Dita yang selalu melakukan hal-hal tak wajar.
"Sayang!"
"Hmmm!"
"Mau ke mana?"
"Byan sudah sadar. Aku ingin menemui nya, Kakak mau ikut tidak?"
Anandita berbicara ketika dia sudah berada di atas motor juga sudah mengenakan helm ful face nya.
Dita menoleh untuk mencari keberadaan Haris namun pria itu tidak ada.
"Ayo!"
Haris berbicara sembari mengenakan helem dan sudah duduk di belakang Anandita.
"Ekh buset, kapan kau naik Kak? Udah kaya jin aja."
"Mana ada Jin se ganteng ini Tuyul."
Anandita mendengus. Pria ini benar-benar di luar dugaan. Dia selalu memanggil Dita dengan sebutan Tuyul dengan alasan kalau Dita selalu muncul di saat Haris sudah gajian saja. Padahal, Dita hanya meminta jatah uang skincare juga uang jajannya. Dia tidak mencuri kan.
"Pegangan Jin! Jangan sampai tertiup angin. Tuyul cuma bisa ngambil duit, ngambil nyawa cadangan belum bisa."
.
.
.
To Be Continued.
__ADS_1