Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Bermain Dengan ...


__ADS_3

Malam ini di rumah keluarga Nugroho terlihat lebih ramai dari biasanya. Keluarga itu mengadakan acara perayaan untuk merayakan kelulusan Byan dan Aldi. Tidak banyak yang datang, hanya teman-teman Byan, teman dekat Brian, juga keluarga Byan. Teman-teman Aldi sengaja tidak di undang karena takut menimbulkan keributan yang tidak seharusnya. Mereka masih berusaha untuk tidak mengekspos pernikahan Brian dan Byan lebih dulu.


Navisa dan Anandita masuk dengan gaun malam yang sederhana namun terlihat sangat cantik dan pas di tubuh mereka. Sebenarnya tidak ada anjuran untuk mengenakan gaun khusus, hanya saja mereka ingin merayakan keberhasilan Byan dan juga mungkin ini adalah acara perpisahan terakhir mereka dengan Byan sebelum gadis itu benar-benar pergi melanjutkan studi nya.


"Assalamualaikum Om, Tante!" Navisa dan Anandita membungkuk kepada orang tua Byan dan orang tua Brian.


"Sudah datang ya, kalian duduk saja dulu. Itu Aldi ada di pojok dekat kolam renang. Byan masih belum turun. Mungkin masih persiapan." Navisa dan Anandita mengangguk mengerti mendengar apa yang Anjani katakan.


...----------------...


"Kenapa cemberut terus hmm, ada yang menggangu perasaan mu?" Tanya Brian sembari membantu Byan merapikan rambutnya di depan meja rias.


"Om, lusa Byan akan pergi kan, Om gak sedih?" Tanya Byan mendongak menatap suaminya.


Brian menunduk sembari tersenyum menatap Byan lekat. Semakin lama dia semakin menunduk hingga bibir mereka bertemu. Brian memberikan kecupan lembut, mendamba namun penuh kehati-hatian. Dia meluapkan semua emosinya dalam ciuman itu. Kalau di bilang tidak sedih, sama saja bohong. Jelas-jelas Brian adalah orang yang paling sedih dan sangat tidak ingin Byan pergi. Namun apalah daya, lagi-lagi semuanya Brian lakukan demi istrinya.


"Kau mengerti maksudku kan?" Brian berbicara di depan bibir ranum istrinya. Byan mengangguk, berdiri lalu memeluk erat suaminya.


"Byan percaya sama Om. Jangan pernah berpaling dari Byan. Byan mau, ketika Byan kembali, Om adalah orang yang pertama Byan lihat."


Brian mengangguk mantap. Mereka semua sepakat, jika Byan akan menetap di Korea Selatan selama dia menempuh pendidikannya di sana.


"Aku akan sangat merindukan mu By!"


Suara lirih itu membuat Byan menitikkan air mata. Siapa yang tidak sedih jika harus saling meninggalkan di saat sedang sayang-sayangnya.


"Jangan menangis. Aku takut aku tidak akan bisa melepaskan mu pergi!" Tangan besar Brian menangkup wajah mungil Byan, jemarinya mengusap air mata di pipi sang istri dengan hati yang teramat sangat berat.


"Ini tidak akan lama. Aku janji, aku akan memberikan semua hak mu setelah kau kembali. Sekarang kita turun dulu ya! Semua orang pasti sudah menunggu."


Byan mengangguk. Brian menautkan jemari mereka, menggenggam tangan itu erat, dan mereka pun keluar untuk ikut bergabung dengan yang lain.


Sesampainya di dekat kolam renang, semua orang menatap Brian dan Byan kagum. Sepasang sejoli itu terlihat sangat serasi. Yang satu tampan dan gagah, yang satu lagi cantik dan masih sangat imut.


"Akhirnya pemeran utama kita muncul," ucap Anjani menarik tangan Byan membawa gadis itu mendekat dengan yang lainnya.


"Wah, kau sangat cantik By."


Balutan gaun hitam di atas lutut dengan lengan panjang, juga bando dan kalung pas di leher membuat gadis itu terlihat sangat cantik. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai, dengan tatanan sedikit bergelombang.

__ADS_1


"Terima kasih Na. Kamu juga cantik banget."


"Gue gimana? Gue cantik gak?" Anandita menunjuk dadanya meminta pengakuan dari Byan.


"Kau juga sangat cantik Dit, cantik sampai orang gede di sudut sana tidak bisa berkedip." Byan menunjuk Haris dengan dagunya. Anandita dan Navisa ikut melihat ke arah yang Byan tunjuk.


"Kak Haris," gumam Navisa.


"Pria bodoh itu selalu bertingkah seolah-olah aku tidak pernah ada di depan matanya. Aku ingin lihat. Apakah dia bisa mengabaikan ku atau tidak."


Byan tersenyum mendengar dumelan Anandita yang sangat lucu baginya. Iya, Haris memang bodoh. Benar-benar bodoh. Otak dan hatinya tidak pernah sejalan. Padahal, gelagat dia selalu menunjukkan ketertarikan kepada Dita, namun ke egoisnya selalu membuat dia berprilaku seperti Dita ini tidak berarti untuknya.


"Dia memang lebih bodoh dari Om Brian." Byan berbisik di dekat telinga Navisa dan Anandita. Mereka bertiga terkekeh membuat para pria yang sedang mereka tertawa kan mengusap telinga mereka yang terasa agak panas.


"Bro! Maaf kita telat, jalanan macet." Ketiga sahabat Brian datang dan langsung menghampiri Brian.


"Gak papa, acaranya juga baru di mulai kok. Tuh, mereka lagi makan-makan!" Brian menunjuk semua orang yang sedang berbincang sembari memakan makanan ringan yang telah keluarganya siap kan.


Rendy menatap ke satu arah, gadis yang dia sukai benar-benar ada di sini.


"Temui lah gadis incaran mu Ren, nanti keburu di serobot Reno," ucap Brian sedikit bercanda.


"Wis Lo punya gebetan Bro?" Tanya Reno menepuk pundak Rendy.


"Bosen lah ngejomblo terus. Sekali-kali aku juga pengen punya ayang kayak kamu."


Reno terkekeh. "Ya sudah pergi sana!"


Rendy masih tidak beranjak. Dia menunggu semua orang untuk pergi bersamanya.


"Bri!"


Seseorang berteriak memanggil nama Brian. Brian mengacungkan tangannya. Semua orang menoleh ke arah sekumpulan laki-laki itu. Tak terkecuali Navisa. Satu hal yang membuat dia tidak bisa berpaling. Rendy, laki-laki itu ada di antara Brian dan teman-temannya. Namun bagaimana bisa? Rendy adalah orang biasa. Sedangkan Brian, Navisa yakin jika teman-teman Brian adalah orang-orang sukses semua.


"Kenapa telat Mahen?" tanya Brian menatap Mahen seolah-olah sahabatnya itu telah melakukan kesalahan fatal.


"Aku kejebak macet Bri. Tadi ada operasi dadakan. Jadi gak bisa dateng lebih awal. Gimana, acaranya udah selesai ya?"


Brian menggeleng. "Belum."

__ADS_1


Brian berjalan ke arah meja panjang yang sudah di huni beberapa orang. Brian menarik kursi di samping Byan. Sedangkan yang lain memilih untuk mencari kursi yang menurut mereka nyaman.


"Kenapa tidak bilang kalau kau datang, aku bisa menjemput mu," bisik Rendy di samping telinga Navisa.


Navisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Rendy.


"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Reno kepada Anandita. Anandita tersenyum.


"Tentu saja boleh. Duduk saja, belum ada penghuninya kok."


Haris menatap Anandita dan Reno tidak suka. Dia mengunyah makanan di mulutnya seperti sedang mengunyah karet ban.


"Om lihat, Kak Haris itu bodoh kan? Byan tahu dia suka sama Dita, tapi dia bertingkah sebaliknya. Giliran Dita Deket sama cowok lain dia kebakaran jenggot. Persis kayak Om dulu."


Brian terkekeh mendengar celotehan istrinya. Jika mengingat masa-masa itu Brian selalu ingin tertawa. Dia memang sangat bodoh, benar-benar bodoh sampai dia tidak bisa menyadari perasaannya sendiri.


"Tapi sekarang aku sudah tidak sebodoh dulu kan?" Brian berbisik sembari meraba paha Byan di balik meja.


"Om!" Byan memekik membuat semua orang menatap ke arahnya.


Brian menaikan alisnya ketika melihat Byan menatapnya dengan mata yang melotot. Bukannya berhenti, dia malah semakin gencar mengusap paha terdalam istrinya membuat Byan panas dingin dan ingin langsung beranjak menghajar wajah Brian yang tersenyum tanpa dosa.


"Baiklah, Byan terima tantangan dari Om." Gadis itu berbisik dan mulai menggerakkan tangannya, meniru apa yang Brian lakukan. Bahkan dia tidak segan-segan untuk menyapa si Beto yang sudah bertransformasi menjadi belut listrik.


"By," pekik Brian tertahan.


"Apa?" tanya Byan tanpa suara.


Byan tersenyum melihat wajah Brian yang sudah memerah padam. Dia yakin, Brian pasti sudah akan meledak jika dia terus menggodanya.


"Bri, kenapa wajahmu memerah Nak, kamu sakit?" Tanya Kirani merasa khawatir melihat wajah merah Brian juga keringat yang bercucuran di pelipisnya.


"Tidak Bu, Brian baik-baik saja," ucap Brian meneguk air putih di dalam gelas sampai tandas.


Byan tertawa puas dalam hati. Mereka berdua tidak menyadari jika Anjani tadi sempat melihat tangan nakal mereka yang tidak sopan itu.


"Dasar pasangan mesum," gumam Anjani yang masih bisa di dengar Ayah Nugroho.


To Be Continued.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya. Bab hari ini done. Kita lanjut lagi besok.


__ADS_2