Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Semakin Merajuk


__ADS_3

Byan tersenyum ketika suaminya mendorong troli sedangkan dia duduk di dalamnya. Tanpa rasa malu dan canggung, Byan meminta suaminya untuk mendorong troli lebih cepat. Apa Brian menurutinya? Tentu saja tidak, Brian beralasan jika dia takut troli itu membentur sesuatu dan Byan bisa saja terluka.


"Om, kita beli keperluan Byan dulu ya!" Gadis itu menatap suaminya dengan senyum lebar. Dia duduk berlawanan arah, jadi selain bisa bersantai, dia juga bisa menatap wajah tampan sang suami. Malam ini Byan benar-benar bertingkah seperti anak kecil. Mungkin saja akan ada yang mengira jika Brian ini ayah dari Byan. Mereka sama-sama menggunakan masker. Namun penampilan Byan yang masih seperti remaja, dan tampilan Brian yang lebih rapih meskipun dengan pakaian casual membuat penampilan mereka sangat kontras. Apalagi melihat cepol dua di kepala Byan. Sempurna sudah penampilan bocah itu.


"Kita beli pembalut juga kan?" Brian bertanya.


Byan mengangguk, dia menunjuk ke rak yang dipenuhi pembalut dengan berbagai jenis dan merek.


"Ambilkan Byan yang itu Om!"


Byan menunjuk tanpa malu. Brian juga terlihat biasa saja seperti sudah terbiasa menyentuh benda keramat itu.


"Yang ini?" ucap Brian mengambil satu pack sebagai contoh.


"Tidak, bukan yang itu, yang sebelahnya lagi!"


Brian mengangguk lalu mengambil apa yang istrinya inginkan.


Beberapa orang berbisik-bisik di belakang Brian. Mereka terkejut dan sangat iri melihat seorang pria gagah berdiri di depan rak pembalut dan dengan telaten memilih apa yang di inginkan bocah yang duduk di atas troli. Wajah mereka berbinar.


"Wah, lihat, apa dia sorang duda, Masyaallah, semoga dia adalah jodohku," celetuk seseorang yang masih bisa di dengar oleh Byan. Byan langsung menoleh dan mendelik. Dia menatap wanita itu dengan mata berapi-api. Apa yang baru saja dia dengar? Calon suami? Oh astaga, ingin rasanya Byan menjerit dan mengatakan jika pria itu sudah beristri dan Byan adalah istri pria yang mereka puji-piji itu.


"Kita pindah ke lorong yang lain aja Om!" Brian kembali menatap wanita itu galak. Wanita yang di tatap merasa sangat terkejut.


"Astaga, sepertinya anak itu tidak suka ayahnya di sukai wanita lain."

__ADS_1


"Sudahlah, jika anak nya saja tidak menyukaimu, bagaimana mungkin dia bisa jadi jodoh kamu, lebih baik kita pergi saya!" wanita lain mencoba untuk memperingati sahabatnya.


****


Ketika mereka sudah selesai berbelanja, mereka kembali masuk ke dalam mobil. Mereka sudah hampir sampai. Namun sejak tadi Brian tidak mendengar kicau istrinya sedikit pun. Byan diam dengan wajah yang di tekuk garang.


"Sayang!"


Brian menyentuh tangan istrinya lembut. Bukannya senang, Byan malah menepis tangan itu membuat Brian semakin bingung. Brian berpikir untuk sejenak, apakah dia melakukan kesalahan atau tidak, namun dia tidak bisa menemukan apapun. Dia merasa jika dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Tidak ingin membuat suasana semakin runyam, Brian menepikan mobilnya. Dia melepas sit belt, lalu berbalik menatap Byan.


"By!"


"Heum!"


"Kenapa?"


Brian menghembuskan napasnya kasar. Dia memejamkan mata sebentar, lalu menarik napas panjang. Tangan terampilnya melepaskan sit belt yang Byan kenakan, lalu menarik bahu gadis itu supaya Byan bisa menatap ke arahnya.


"By, Sayang, kalau ada masalah bilang, kenapa tiba-tiba bad mood seperti ini. Aku membuat kesalahan? Apa yang salah?"


Byan langsung melotot menatap suaminya jengah. "Wajah dan tubuh Om yang salah!"


Brian mengerutkan keningnya bingung. "Ini?" tunjuk Brian pada wajahnya.


"Iya, Om tidak lihat, hampir semua wanita di super market merhatiin Om terus. Bahkan mereka muji-miji Om di depan Byan. Mereka pikir Byan ini apa, apa sebegitu tidak layaknya Byan bersanding dengan Om. Om seneng kan jadi pusat perhatian kayak gitu."

__ADS_1


Byan memanyunkan bibirnya kesal. Namun tidak dengan Brian. Dia malah menarik ujung bibirnya seakan dia sudah mengerti kenapa Byan bersikap seperti ini.


"Cemburu hmm?" Goda Brian mencubit pelan pipi istrinya.


"Ikh enak aja. Byan gak cemburu. Jangan geer!" Ketus Byan mengusap pipi yang tadi di sentuh Brian.


"Beneran gak cemburu nih?"


"Enggak!"


"Oke, kalau gitu kita balik lagi aja ke supermarket!"


"Ommmm!"


Byan menoleh dengan wajah kesal namun memelas. "Om jangan gitu, Om mau di keroyok para wanita genit itu?"


Brian terkekeh. Dia mencondongkan tubuhnya lalu mengecup bibir Byan sekilas. Namun ketika Byan ingin menyela, Brian kembali menempelkan bibirnya membuat Byan bungkam. Gadis itu mulai memejamkan mata dan membalas setiap kecupan juga lu matan yang dilakukan suaminya.


Entah kenapa hatinya mencair hanya dengan sebuah kecupan lembut seperti ini. Byan seperti merasa jika Brian sedang mengingatkannya untuk tidak khawatir. Ciuman lembut nan hangat yang begitu memabukkan ini membuat Byan terbang ke awang-awang.


"Jangan marah lagi heum, aku sedih jika kau mengabaikan ku seperti itu." Brian berucap tepat di depan bibir Byan. Perlakuan nya ini sungguh membuat jantung Brian berdegup sangat kencang.


"Oh Tuhan, sepertinya aku sudah terjebak pesonanya."


To Be Continued.

__ADS_1


Udah ini bobok ya. Besok lanjut lagi. Jangan lupa like dan komentarnya. Kenapa? Karena komentar dari kalian itu adalah mood booster untuk Author. Terima kasih semuanya. See you. 🤗🤗


__ADS_2