
"Om! Om pergi saja kalau memang ada pekerjaan. Tidak usah menyuapi Byan. Byan bisa makan sendiri Om."
Byan yang duduk di atas ranjang menatap sang suami dengan tatapan memohon. Dia sebenarnya tidak ingin Brian pergi. Tapi suaminya bukan miliknya sepenuhnya, dia tetap harus bekerja untuk melakukan tanggung jawabnya.
"Gak papa, masih ada waktu sebentar lagi. Dito juga belum datang. Aku akan pergi setelah kau menghabiskan makan siang mu!"
Byan mengangguk. Dia memperhatikan suaminya dengan seksama. Pipinya kembali memanas mengingat ungkapan cinta yang tadi malam suaminya ucapkan. Cinta sepihak nya telah berakhir. Bolehkah Byan mempercayai itu? Bolehkah Byan percaya akan cinta yang suaminya katakan? Di lihat dari sudut manapun, Brian ini sangat sempurna. Wajahnya, tubuhnya, kecerdasannya, juga penampilannya, tidak ada yang minus. Byan harus berusaha lebih keras agar tidak ada wanita lain yang bisa menggoda Brian.
"Kenapa?" Brian menatap Bryan dengan tatapan heran.
"Ada sesuatu di wajahku?" tanya Brian lagi.
Byan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dia meraih dasi yang suaminya kenakan lalu mengecup bibir suaminya sekilas. Brian tertegun. Namun setelah itu dia menarik ujung bibirnya.
"Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik Om!"
"Tidak," ucap Brian menggelengkan kepalanya. "Aku yang berterima kasih. Kau sudah mau menungguku selama ini. Aku janji, mulai sekarang aku yang akan mengejar mu. Hanya kau wanita yang akan aku cintai By!"
Byan terkekeh. Tubuhnya merosot masuk ke dalam selimut. Mendengar Brian berbicara seperti itu sangat menyenangkan. Namun entah kenapa dia menjadi sangat malu. Pipinya seperti akan meledak karena tidak bisa menghentikan senyum. Sedangkan jantungnya mendadak dangdutan.
"Jangan bersembunyi!" Brian menarik selimut itu gemas. Istrinya ini sungguh luar biasa. Bahkan sikap malu-malu nya bisa membuat Brian terpesona. Selama ini para gadis selalu mendekatinya dengan lugas dan percaya diri. Hanya Byan yang memberikan dia pengalaman juga perasan baru. Byan sangat ekspresif sampai Brian selalu tahu apa yang gadis itu rasakan.
"Om berangkat saja! Byan malu!"
Kekehan itu kembali terdengar. Brian berdiri lalu menarik selimut Byan. Laki-laki itu membungkuk menatap wajah istrinya yang kini sudah memerah bak kepiting rebus.
Hap!
Brian menyelipkan kedua tangannya di antara ketiak Byan lalu mendudukkan gadis itu supaya dia bisa kembali makan. Namun baru sesaat setelah Byan duduk. Byan kembali lumer, selimut itu kembali menyelimuti seluruh tubuhnya. Brian hanya bisa menggelengkan kepala.
"By!"
"Iya!"
"Sayang!"
"Heum! Ada apa Om, Byan sudah bilang Om pergi saja. Byan bisa makan sendiri."
Hening, tidak ada suara apapun. Byan menjadi sangat penasaran. Beberapa detik dia menunggu jawaban dari suaminya. Namun suaminya masih tidak berbicara. Apakah mungkin dia sudah pergi, batin Byan menerka. Tangan mungil itu menurunkan selimut sampai di leher dan begitu dia membuka mata, sesuatu yang lembut dan hangat sudah mendarat di bibirnya.
Brian tersenyum melihat kegugupan Byan juga mendengar degup jantung nya yang sangat kencang. Perlahan, Byan mulai meraba wajah cantik itu, mengelusnya juga menye cap bibir Byan semakin dalam.
Tangan besarnya semakin lincah menuruni bukit kembar yang sudah menjadi candu untuknya. Seakan sudah lihai dan terlatih, tangan itu mulai membuka kancing baju Byan satu persatu. Usapan yang dia berikan sangat lembut dan tentu saja memberikan sensasi sengatan listrik pada tubuh Byan.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Kak! Kak Dito sudah nunggu di bawah!"
Brian langsung melepaskan tautannya membiarkan kening mereka tertaut, dan saling menghirup napas satu sama lain. "Aku menginginkan mu malam ini By!"
Wajah Byan semakin tidak bisa di kendalikan. Perasaan yang membuncah itu membuat Byan tidak bisa berkata-kata.
"Aku pergi dulu! Habiskan makan siangnya, aku janji, aku tidak akan lama. Kalau aku lama, berarti ada sesuatu hal yang mendesak."
Byan mengangguk. Matanya terpejam tat kala Brian mengecup keningnya cukup lama. "Baik-baik di rumah. Aku mencintaimu By!" Brian berbisik sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Byan.
Gadis itu menarik selimutnya lagi. Dia meraba jantungnya, kepalanya menunduk melihat kancing bajunya yang sudah kembali tertutup rapih. Kapan Brian melakukan ini, laki-laki itu benar-benar membuat Byan hilang akal.
****
"Byan sakit Kak?"
"Heum. Dia cuma gak enak badan."
Aldi mengangguk. Dia menyentuh handel pintu hendak masuk ke kamar Byan.
"Mau ke mana?" tanya Brian menahan tangan Aldi.
Brian tentu saja menggeleng. "Tidak, untuk sementara, biarkan dia istirahat. Jangan ganggu dia. Katakan juga kepada Bima, jangan ajak dia bermain dulu. Kalau dia yang mengajak kalian bermain, tolak saja!"
Brian berlalu pergi meninggalkan Aldi dengan perasaan dongkolnya. "Dasar pelit!" gumam Aldi yang masih bisa di dengar oleh Brian.
"Ibu, Brian pergi dulu. Titip Byan ya Bu!"
"Iya. Kamu gak usah khawatir. Byan aman sama Ibu."
Brian meraih tangan Anjani lalu mengecup punggung tangan Anjani. Dia juga mengecup pipi Anjani membuat orang yang di kecup melongo seperti orang bodoh.
"Dia benar-benar putraku kan?" Anjani menatap punggung Brian tak percaya.
"Tuan muda sudah banyak berubah sejak bertemu dengan Nona kecil Bu!" Mbok Jum berbicara.
Anjani mengangguk dengan senyum mengembang. "Syukurlah jika kau sudah mulai mengerti arti keluarga Bi!"
****
Brian melangkahkan kakinya dengan gagah. Senyum di wajahnya tak hilang. Semua karyawan yang melihat itu di buat terheran. Bos mereka yang galak dan sangat jarang tersenyum itu kini malah tersenyum membuat para karyawan merinding.
__ADS_1
"Selamat siang Tuan!"
"Siang!" jawab Brian dengan senyum terbaiknya.
Hampir saja karyawan itu terjengkang karena terkejut. Sebenarnya apa yang terjadi dengan bos mereka. Kenapa hari ini Brian terlihat sangat berbeda. Auranya lebih cerah daripada sebelumnya.
Dito hanya tersenyum tipis melihat kelakuan bos nya. Jujur saja, sejak di mobil dia sudah sangat kepo dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan tuannya. Namun ketika Brian menyebutkan nama Byan dengan wajah penuh cintanya. Dito sepertinya mengerti, kenapa Brian bersikap seperti ini.
Sesampainya di ruangan Brian. Dito memberikan beberapa dokumen yang harus Brian tinjau sebelum mereka meeting siang ini.
"Saya keluar dulu sebentar Tuan!"
"Heum, tolong buatkan aku latte Dit!"
"Baik Tuan!"
Tok! Tok! Tok!
Dito menoleh lalu berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu ruangan itu dan alisnya langsung tertaut begitu dia melihat siapa yang datang.
"Aku membawakan latte untuk Tuan Muda!"
Dito mengangguk. Dia membukakan pintu dan memilih untuk pergi.
"Tuan!"
Brian langsung mendongak. Dia memperhatikan wanita yang berdiri di hadapannya dari atas sampai bawah. Sisil yang di tatap seperti itu merasa gugup. Dia meletakan kopi di meja Brian sembari membungkuk untuk memperlihatkan buah dadanya yang menggantung dengan sempurna.
Brian menarik ujung bibirnya sinis.
"Kalau mau melonteh jangan di sini Sisil. Bawa kembali kopi mu. Aku meminta Dito yang membuatkan kopi. Bukan kau!"
Sisil mendengus. Dia menarik kembali kopinya lalu berbalik keluar dari ruangan Brian. Di depan pintu dia kembali bertemu dengan Dito yang membawa sebuah cangkir di tangannya. Makin meradang lah hati Sisil. Kedua orang ini benar-benar membuat harga dirinya jatuh.
"Sialan kau Dito!"
Dito hanya mengangkat bahunya acuh. Dia tidak perduli dan lebih memilih untuk pergi.
To Be Continued.
Like sama komentarnya jangan lupa.
🤗🤗🤗🤗
__ADS_1