
"Boncel!"
"Mbak Bian!"
"Esmeralda!"
Bian menatap ketiga orang itu dengan tatapan mautnya. Namun bukannya seram, Bian malah terlihat sangat lucu, apalagi dengan bando kelinci juga sandal kucing yang dia pakai. Bian benar-benar terlihat seperti boneka animals dengan hati kanibal.
"Bian lapar!" Satu kalimat yang keluar dari bibir Bian langsung membuat ketiga orang yang tadi sedang berkelahi berdiri dan menghampiri Bian.
"Bian mau makan apa?" tanya Aldi antusias.
"Aku belikan ya!" ucap Bima menambahkan.
"Aku akan masak apa yang kamu mau, kamu mau makan apa?" tanya Brian dengan wajah babak belur. Aldi melirik Brian masih dengan tatapan sinisnya.
"Bian mau seblak sama pentol merecon, ceker ayam merecon yang tanpa tulang juga mau es jeruk selasih. Satu lagi, Bian mau cake cokelat."
Aldi dan Brian langsung pergi melesat ke bawah. Sedangkan Bima, dia masih mematung di tempatnya.
"Kenapa masih di sini? Gak mau beliin juga?" tanya Bian yang langsung di anggukki oleh Bima. "Aku akan membelikan mu semuanya."
Bima mengambil ponselnya lalu mengetikan sesuatu di sana. Bian terlihat mengerutkan dahinya bingung.
__ADS_1
"Aku tinggal memesannya di aplikasi online. Kenapa harus capek-capek keluar!" ucap Bima yang langsung di anggukki oleh Bian.
"Lalu mereka bagaimana?" tanya Bian ketika mendengar suara motor dan mobil sudah mulai menjauh dari rumah mereka. Dengan santainya Bima mengangkat kedua bahunya acuh. "Biarkan saja mereka kebingungan. Kamu masuk aja. Nanti kalau makanan nya udah dateng, aku panggil."
Bian mengangguk. Sementara Bian masuk ke kamar. Bima turun ke lantai bawah untuk menunggu makanan pesanannya. Dia tersenyum sembari melihat ke arah ponselnya. "Emangnya Kak Brian tahu seblak itu bentuknya kayak apa?"
****
Bodohnya Aldi, saking terburu-burunya dia, dia lupa memakai celana panjang dan jaket. Dia bahkan hanya memakai sandal rumah yang berbentuk ikan Mas Kuning. Beruntung Anjani selalu menyimpan uang cash di bawah laci yang ada keranjang kunci kendaraan, jadi dia tidak lupa untuk membawa uang.
"Aduh, kok dingin banget ya!" Aldi berbicara karena masih tidak sadar.
*Ya Allah Al, jangan sampe lha kamu masuk angin*🤣🤣🤣
****
Brian menautkan alis matanya. Dia baru sadar kalau dia tidak tahu di mana harus mencari semua makanan itu. "Dito, Dito pasti tahu semuanya."
Brian mengeluarkan ponselnya lalu memasangkan earphone ke telinga. Setelah menekan nomor Dito, dia melakukan panggilan. Panggilan pertama gagal. Kini Brian mencoba untuk melakukan panggilan kedua.
Setelah menanyakan semuanya kepada Dito, Brian mengangguk mengerti. Dia kembali melapalkan semua tempat yang Dito ucapkan. Jujur saja ini sedikit sulit untuk Brian. Selain cake cokelat dan es jeruk selasih, yang lainya dia tidak tahu. Keringat sudah bercucuran membasahi wajah tampannya.
Ketika Brian mendekati sebuah stand jajanan khas Bandung, dia baru bisa menemukan Seblak yang istrinya mau. Dan beruntung nya lagi, di sana juga ada pentol merecon dan ceker merecon. Semua orang sedang mengantri langsung menyingkir. Ya, orang-orang yang mengantri itu mayoritasnya perempuan. Mereka terpana melihat wajah tampan Brian meskipun wajahnya babak belur. Brian sedikit menarik ujung bibirnya untuk berterima kasih.
__ADS_1
"Wah, sepertinya baru kali ini aku liat orang ganteng jajan Seblak."
"Akh, itu pasti buat ceweknya. Beruntung banget ya dia, udah mah cowoknya ganteng, keren, mobilnya bagus, pengertian lagi. Gue jadi pengen."
Brian sedikit tersenyum mendengar desas desus orang yang sedang membicarakan nya. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya laki-laki ini adalah laki-laki brengsek berkedok malaikat karena wajah tampan yang dia miliki.
"Kak, ini pesanan nya!" ucap salah satu pelayan wanita sembari menyodorkan kantong kresek putih kepada Brian. Brian ingin mengambil kantong kresek itu, namun si pelayan tadi malah menggenggam keresek itu semakin erat dengan mata yang terus menatap Brian penuh cinta.
"Mbak!" Brian memanggil membuat pelayanan itu tersadar.
"Akh, maaf Kak."
Brian mengangguk. Dia mengeluarkan ponsel untuk scan barcode yang pelayan itu sodorkan. "Terima kasih," ucap pelayan itu ramah. Lagi-lagi Brian hanya mengangguk. Dia langsung berbalik untuk pergi ke mobilnya. Namun sebelum itu dia sedikit menunduk kepada orang-orang yang kini mulai kembali membuat barisan antrian.
"Wah, dia benar-benar tampan!" Puji salah seorang pelanggan.
"Dia emang tampan, pesan Seblak nya jadi tidak?" Teriak pelayan membuat mereka kembali fokus mengantri. Hanya satu yang tetap fokus kepada pelayan karena yang lainya kembali menoleh menatap Brian yang sudah mulai pergi dari sana.
Berbeda dengan Brian, Aldi justru malah mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang. Sejujurnya tidak ada yang aneh dari pakaian Aldi. Hanya saja, sandal ikan yang Aldi kenakan membuat orang-orang yang sedang membeli makanan menahan senyum. Tetapi banyak di antara mereka yang hanya fokus pada tubuh tinggi tegap yang Aldi miliki juga wajah tampannya.
"Terima kasih Kak," ucap Aldi mengambil pesanan yang tadi dia buat. Dia tersenyum ke arah para wanita yang sedang menatapnya. Mereka semua memekik kegirangan. Setelah itu, Aldi kembali ke motor Vespa miliknya. Aldi bergegas menuju tempat lain untuk membeli yang belum dia beli.
Satu jam berkeliling, akhirnya Aldi dan Brian kembali ke rumah. Herannya, mereka berdua sampai di rumah bersamaan. Aldi menatap Brian yang menenteng makanan di kedua tangannya. Dia juga tak mau kalah. Aldi menunjukkan beberapa kantong kepada Brian lalu berlari masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Dasar bocah, pasti aku yang menang!" gumam Brian. Dia ikut masuk ke dalam rumah. Namun ketika mereka berdua sampai di ruang makan, Aldi dan Brian malah mematung melihat sesuatu yang sangat luar biasa di depan mata mereka.
To Be Continued.