Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Anthony


__ADS_3

Setelah semua orang pulang. Brian dan Byan sudah kembali ke kamar mereka. Pakaian sudah berganti, dan kini, mereka hanya tinggal tidur, menikmati sisa-sisa waktu mereka yang tersisa dalam hitungan jam saja. 42 jam dari sekarang, mereka mungkin tidak akan bisa seperti ini lagi.


"By, kenapa gak tidur? Apa masih gak nyaman perutnya?" Tanya Brian langsung mengusap perut bagian bawah Byan di balik celana dari piyama yang gadis itu kenakan.


"Byan gak bisa tidur Om, Byan takut, kalau nanti Byan bangun, Om sudah pergi. Besok gak usah kerja ya. Di rumah aja sama Byan."


Brian tersenyum. Bibir itu mengecup bibir ranum Byan beberapa kali. "Ya sudah, besok sama lusa aku cuti. Ayah saja yang kerja. Byan mau main? Mau ke mana?"


Byan menggeleng. "Byan gak mau ke mana-mana Om. Byan mau di rumah aja. Di kamar, seperti ini, meluk Om, Byan gak mau berbagi Om dengan wanita lain. Om tahu, para wanita itu selalu memperhatikan Om saat kita jalan di luar. Byan gak mau Om di nikmati banyak orang. Pokonya, dua hari ini Om cuma buat Byan."


Brian kembali menganggukkan kepalanya. "Kalau Byan maunya gitu, gimana kalau besok kita booking kamar hotel saja, supaya gak ada yang ganggu," ucap Brian menaik turunkan alisnya.


Byan terkekeh. "Om itu modus. Bilang aja kalau mau main-main sama Byan?"


"Loh, kok mikirnya gitu, kan Byan lagi datang bulan."


"Iya juga sih, ya sudah, boleh lah kalau gitu. Tapi permintaan Byan akan Om lakuin kan?"


"Iya Sayang, kamu tenang saja. Apa yang kamu minta, pasti aku turuti. Nah, sekarang mau nonton atau mau tidur aja?"


"Byan mau nonton drama aja. Om bisa tolong ambilkan yoghurt Byan gak, di bawah?"


Laki-laki itu mengangguk, dia membantu Byan untuk duduk bersandar pada tepian ranjang. Tangannya cekatan memencet tombol remote, menurunkan layar monitor besar hingga munculah layar monitor lipat itu di depan Byan.


"Aku ke bawah dulu sebentar!"


"Eum, jangan lama-lama!"


Brian tersenyum sembari mengangguk. Ketika dia hendak berbalik, ponsel di atas nakas bergetar. Brian langsung menoleh, melihat layar ponsel itu, menyambar nya sembari melirik Byan sekilas.


"Orang kantor," ucap Brian yang di balas anggukan oleh istrinya.


Seperkian detik berikutnya, Brian sudah keluar dari kamar. Panggilan itu dia angkat, menempelkan ponselnya di telinga lalu bersuara. "Halo Ayah, ada apa? Ayah belum sampai kan?"


Terdengar helaan napas dari sebrang telepon. Brian merasa agak aneh dengan ini. Tidak biasanya Adrian.


menelepon dirinya di jam-jam produktif bagi suami istri.


"Jadi begini Nak, sepertinya kita harus merubah Negara tujuan Byan. Orang itu, Maksud Ayah Anthony, dia sudah tahu jika Byan akan pergi ke Korea. Ayah mendapatkan telpon mendadak darinya. Anthony bilang, dia ingin bertemu dengan Byan walau hanya untuk sekali saja. Padahal ayah sudah bilang jika Byan adalah anak kandung ayah, tapi dia tidak percaya. Dia kekeuh. Dan entah bagaimana caranya, Anthony mengatakan jika dia memiliki bukti kalau Byan adalah anak kandung yang selama ini dia cari."

__ADS_1


Brian mengepalkan kedua tangannya erat. Bajingan itu, berarti orang-orang berpakaian serba hitam yang dia lihat di sekolah Byan adalah orang-orang suruhan Anthony, laki-laki tua bangka itu benar-benar tidak punya malu.


"Baik Ayah. Terima kasih untuk informasinya. Brian akan melakukan yang terbaik untuk melindungi Byan. Ayah hati-hati di jalan!"


"Heuummm ... semoga semuanya berjalan lancar Nak. Ayah hanya berharap jika kalian bisa melewati ini bersama-sama."


"Om!"


Suara khas itu membuat Brian menoleh. Dia tersenyum, "Saya mengerti. Kita akan melanjutkan pembahasan nya lain kali."


Tut!


Sambungan telpon itu terputus.


"Kenapa keluar?" Brian bertanya sembari memeluk Byan. Gadis itu membalas pelukannya tak kalah erat.


"Om lama sih, Byan jadi gak sabaran. Byan ikut ya, gendong Byan sampai kita naik ke atas lagi!"


Brian mencubit hidung istrinya gemas. Memang apa yang tidak boleh Byan minta. Byan minta Brian untuk menggendong nya sampai ke Bandung saja Brian mau. Asal Byan tidak cape menyambangi pemberhentian.


Aldi tersenyum miris melihat tingkah sepasang suami istri itu dari celah pintu kamarnya. Tadi dia hendak mengambil air, namun tidak jadi karena dia melihat Brian dan Byan sedang berpelukan di ambang pintu kamar mereka.


...----------------...


Bruk!


Anandita menghempaskan helm di atas tangan Haris. Gadis itu terlihat sangat marah. Wajah nya gelap, se gelap kabut asap bakaran kain.


"Jangan bersikap seolah-olah kau perduli Kak. Jangan mentang-mentang aku menyukaimu, kau bisa seenaknya seperti ini."


Anandita bersungut-sungut meneriaki Haris di depan wajah pria itu.


"Dit!"


Haris menahan tangan Dita ketika gadis itu berbalik hendak pergi meninggalkannya.


"Apa? Lo mau gue panggil warga supaya Lo di amuk warga di sini?"


"Jaket nya!"

__ADS_1


Satu kata yang Haris ucapkan membuat Dita malu dan hilang akal. Dita pikir Haris ingin meminta maaf padanya. Ternyata dia hanya ingin meminta jaketnya yang Dita pakai.


"Jaket buluk kayak gini aja di minta balik. Gue bisa beli 10 buat Lo Kak."


Dita kembali berbalik benar-benar ingin pergi meninggalkan Haris, namun lagi-lagi laki-laki itu menahan tangannya.


"Apa lagi sih? Mau apa? Baju gue? Harus gue lepas? Hah?"


Haris menggelengkan kepalanya sembari menunduk lesu. "Aku minta maaf soal yang tadi. Aku cuma gak suka kamu deket-deket sama Reno, aku rasa dia bukan pria baik-baik."


Dita membulatkan matanya. Bola mata itu hampir saja menggelinding jatuh dan habis di patok ayam. Betapa bodohnya laki-laki yang dia cintai, kenapa dia selalu membuat Dita bimbang.


"Jangan main-main sama gue Kak, Gue masih menghormati Kakak karena Kakak adalah Kakak dari sahabat Gue. Tapi ingat satu hal, jangan pernah memberikan harapan jika pada akhirnya harapan itu kau buang dan kau hempaskan ke jalanan. Lo pernah lihat orang yang di gigit an jing? Lo tahu sakitnya kayak apa?"


Haris menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dita hanya bisa mengembuskan napas kasar.


"Sama, Gue juga gak tahu."


Haris hampir saja tertawa, namun ketika melihat Dita mendelik, dia kembali menunduk.


"Gue tanya deh. Di gigit Anj ing itu pasti sakit kan?"


Haris lagi-lagi mengangguk.


"Seperti itulah perasaan Gue, saat Kakak bersikap cuek seolah tidak perduli dan membuang Gue gitu aja, rasanya seperti jantung ini di koyak dan di cabik-cabik sama Anj ing di jalanan, lalu di kerumuni banyak orang. Orang-orang itu hanya bisa mengerti apa yang Gue rasain, tapi gak tahu gimana rasanya kalau jadi Gue. Kenapa Kak Haris masih diam saat liat gue terluka. Dan kenapa di saat Gue ingin pergi, Kakak seolah-olah membuka pintu harapan? Jangan kayak gini Kak. Gue ini manusia. Sekuat apapun gue, gue juga bisa sakit hati. Sekarang pergi dan jangan pernah muncul di sini lagi!"


Dita berbalik, dia mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Lo bego Dita kenapa Lo suka sama orang yang jelas-jelas gak nganggep Lo ada." Geram Dita pada dirinya sendiri.


Grepppp!


Dita diam mematung, dia menunduk, melihat sepasang tangan yang melingkar di perutnya.


"Jangan pergi. Beri aku kesempatan. Aku janji, aku akan mulai belajar untuk mengerti perasaan mu dan perasaan ku."


To Be Continued.


Selamat pagi Guys ... Bab selanjutnya flashback Haris sama Reno ya. 😂

__ADS_1


__ADS_2