Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Entah Siapa Yang Salah


__ADS_3

Byan menyantap pasta yang berjejer di piring di atas meja, wajahnya semakin berbinar menyicip satu persatu masakan hasil orang-orang rumah. Brian tersenyum, membantu Byan mengikat rambutnya dengan telaten. Wanita hamil itu terlihat sangat bahagia, dia terus tersenyum dengan kaki yang sengaja dia goyang-goyang kan saking senangnya dia malam ini.


"Pelan-pelan By, tidak akan ada yang berebut makanan ini dengan mu. Lihat, mereka semua tepar seperti itu!" tunjuk Brian ke arah sofa di di ruang tv yang berhadapan langsung dengan meja makan.


Byan terkekeh, sebenarnya dia merasa sangat bersalah, namun melihat semua orang tidur berserakan dengan wajah penuh tepung, hatinya begitu lega, dia sangat bahagia seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotre, terbayang bukan happy nya seperti apa.


"Maafkan Byan Om!"


Byan menatap suaminya dengan bibir belepotan saus pasta.


"Tidak apa-apa. Mereka juga pasti bahagia bisa melakukan ini untuk mu," ucap Brian mengusap bibir istrinya. "Kau adalah orang pertama yang bisa membuat kami melakukan hal-hal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Jadi aku rasa ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga."


Byan mengangguk, wanita itu berdiri lalu mengecup bibir Brian sekilas. "Terima kasih suamiku!"


Brian tersipu, Byan memang jarang memanggilnya suami. Hanya jika wanita itu sedang bahagia, atau memang dia sedang menginginkan sesuatu, barulah dia akan memanggil Byan dengan panggilan sayang yang belum pernah dia ucapkan sebelumnya.


...----------------...


Dua Minggu kemudian ....


Brakkkkk!"


Brian melempar dokumen yang Aldi serahkan padanya, rahang pria itu mengetat. Aldi yang hendak mengambil dokumen itu kembali malah di buat menciut lantaran Brian menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Kau pikir perusahaan ini tempat untuk main-main hah? Kenapa kau sangat bodoh. Bagaimana mungkin kau kelebihan nol seperti ini. Kita rugi miliaran Aldi, miliaran. Kau pikir mencari uang itu mudah hah? Aku sudah pernah bilang, kerja itu yang fokus, teliti, amati baik-baik. Jangan asal ACC aja. Kalau udah kayak gini siapa yang mau tanggung jawab?"


Brian kembali duduk saat dia merasa jika amarahnya semakin meluap. Laki-laki itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, memejamkan mata sembari memijat kepalanya yang berdenyut, tangan kekarnya menarik paksa simpul dasi yang dia kenakan.


Dia sudah cukup kesulitan dengan perubahan kebiasaan, mood juga perubahan selera makan, sekarang, Aldi malah memberikan nya masalah seperti ini. Kepalanya serasa ingin pecah.


"Kak maafkan Aldi. Aldi gak sengaja!"


"Kam ... hmpptz." Brian membekap mulutnya serta langsung berlari ke kamar mandi, lagi dan lagi, dia harus memuntahkan isi perutnya. Brian lelah dengan semua masalah yang timbul bersamaan. Di tambah lagi dia lemas karena harus terus bolak balik kamar mandi, meminum obat anti mual pun percuma, karena itu hanya bisa meredakan dan tidak bisa menghilangkan gejalanya secara keseluruhan.


"Om!"


Brian menoleh saat mendengar suara istrinya, kebetulan. Brian memang sedang membutuhkan obat mujarab untuk mual muntah yang dia derita.


"Baby!"


Byan tersenyum, memeluk suaminya erat sambil menepuk-nepuk punggungnya penuh kasih sayang.


"Mual lagi ya?"

__ADS_1


Brian mengangguk dalam dekapan hangat itu, Byan semakin menyunggingkan senyum, dia memang merasa khawatir dan merasa kasihan kepada Brian, tapi kapan lagi dia bisa melihat banteng pemarah juga pecemburu miliknya menjadi manja seperti saat ini.


"Kita pulang aja ya, ini udah malem, semua karyawan sudah pulang!"


"Tap ... !"


"Sudah jangan menyela! Byan yang menyuruh mereka semua pulang. Masalah Aldi, nanti kita bicarakan di rumah ya!"


Brian menurut, dia sudah tidak sanggup lagi untuk berdebat. Malam ini dia ingin cepat-cepat sampai di rumah, masuk ke kamar dan berbaring sambil memeluk Byan. Bayangan yang sangat menyenangkan.


"Aldi kamu pulang bawa mobil aku aja, aku sama Om Brian pulang di anter Om Dito."


Aldi mengangguk, dia menerima kunci mobil dari Byan, namun saat tatapannya bertemu dengan tatapan Brian, Aldi langsung menunduk dan melesat pergi secepat cahaya. Kali ini dia harus menjauh dari Brian, kakaknya itu bisa saja melahap Aldi hidup-hidup jika dia tidak bisa menahan emosinya.


Selama perjalanan, tidak ada yang berbicara, Byan sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Brian, dia sedang asyik tidur di pangkuan Byan sembari memeluk pinggang wanita itu erat.


Dito menggelengkan kepalanya melihat Brian yang begitu menempel pada Byan, dulu pria itu sangat acuh dan galak kepada istrinya, namun sekarang, keadaan malah berbalik, Byan terlihat biasa sja, malah Brian yang bucin dan ingin terus menempel seperti prangko.


"Om Brian lucu kan Om Dito, padahal dulu dia benci banget sama Byan, tapi sekarang, malah Om Brian yang tidak bisa jauh dariku."


Dito tersenyum sembari mengangguk setuju.


Kitttttttt!


"Ada apa Om Dito?" tanya Byan bingung.


"Itu Non, sepertinya itu Sisil," ucap Dito menunjuk ke arah perempuan yang sedang di Jambak oleh laki-laki.


"Loh, kok dia ada di sini, bukannya dia udah pindah?" tanya Byan lagi.


Byan memangku kepala suaminya, niat hati ingin memindahkan kepala Brian ke atas jok mobil karena dia ingin membantu Sisil, namun ternyata Brian malah bangun.


"Ada apa?" tanya Brian dengan suara khas bangun tidur.


"Tante Sisil, dia sepertinya mendapatkan kekerasan dari pacarnya. Byan ingin menolong Tante Sisil sebentar."


Brian membulatkan matanya, dia menarik tangan Byan yang hendak membuka pintu mobil.


"Jangan pergi ke manapun. Biarkan saja mereka, kenapa kita harus ikut campur By?"


"Tapi Om Tante ...."


"Aku bilang diam ya diam, pria itu berbahaya By, biar aku dan Dito yang turun, kau tunggu saja di sini!"

__ADS_1


Byan diam, wanita itu tertegun, baru kali ini dia mendengar Byan menaikan nada suaranya. Brian tidak pernah melakukan itu sejak mereka menyadari perasaan mereka masing-masing. Namun kenapa sekarang dia kembali menyakiti hatinya.


Blam!


Byan mengusap buliran bening dari sudut matanya. Wanita cantik itu menatap Brian dan Dito yang mulai menjauh. Dia bisa melihat semuanya, melihat Brian yang berkelahi dengan pria yang tadi menjambak rambut Sisil. Sudut bibirnya tertarik ke atas tat kala netranya melihat Sisil yang memeluk Brian setelah pacar entah suaminya Sisil meninggalkan tempat itu karena kalah berkelahi dengan Brian.


"Dasar bajing**."


Byan beranjak dari duduknya, dia tidak keluar dari mobil melainkan merangkak pindah ke kursi kemudi, menarik tuas rem tangan dan menginjak pedal gas mobil dalam.


Suara decitan ban mobil dengan aspal membuat Brian dan Dito refleks menoleh, mereka melihat mobil yang tadi mereka pakai sudah melesat pergi meninggalkan mereka.


Bughhhhh!


Brian mendorong tubuh Sisis hingga wanita itu jatuh di atas trotoar.


"Ini semua gara-gara kau Sisil!"


Brian menatap wanita itu geram. Orang yang di tatap malah tersenyum sinis, tertawa, namun detik berikutnya dia malah menangis sambil memeluk kedua lututnya.


"Aku sudah memanggil taksi Tuan Muda!" Dito membuka pintu penumpang untuk Brian, sedangkan dia duduk di kursi sebelah pengemudi.


"Jangan hubungi Non Byan Tuan Muda, saya rasa dia sedang marah, jangan usik konsentrasi nya jika anda ingin Non Byan baik-baik saja."


"Arghhhhhhhhh!"


Bughhhhh! Bughhhhh!


Sopir taksi benar-benar di buat terkejut saat Brian berteriak dan memukul jok mobil di depannya dengan pukulan yang cukup kuat.


"Maafkan Bos saya Pak!" ucap Dito merasa kurang nyaman dengan sopir taksi itu.


"Ini semua gara-gara kau Dito!"


Dito hanya bisa pasrah mendapat tuduhan seperti itu. Lagi pula kali ini Brian benar, akar permasalahan yang terjadi saat ini adalah karena dirinya yang tadi menghentikan mobil saat melihat Sisil di aniaya. Padahal jika dia terus melaju, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


"Maafkan saya Tuan Muda!"


"To hell with it all!" (Persetan dengan semuanya)


To Be Continued.


Hayoloh. Katanya mau ending tapi malah ada konflik lagi. 🤣🤣🤣🙏🙏🙏 Mian Guys, janji ini yang terakhir. 🤗🤗🤗 Jangan lupa like sama komentar ya. Thank You. Tunggu bab selanjutnya ya .

__ADS_1


__ADS_2