
Byan memasukkan benda-benda yang di berikan oleh ibunya ke dalam lemari. Meskipun dia tidak tahu kegunaan baju-baju itu untuk apa, namun jika ibunya menyuruh Byan untuk menyimpan baju-baju itu, maka Byan akan menyimpannya. Setelah menutup pintu lemari, Byan berjalan keluar dari walk in closed. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang ukurannya sangat besar itu. Samar-samar Byan mendengar suara rintikan air hujan. Sesungguhnya ini bukan suara rintikan karena Byan mendengar suara air hujan itu sangat deras.
Gadis itu membuka sisi kiri dan kanan tirai yang menutup pintu kaca. Malam ini hujannya begitu damai. Tidak ada kilat atau suara petir. Hanya air hujan yang menguasai indahnya malam itu. Byan menyentuh buliran air yang mengalir pada kaca, tangan mungil itu seperti ingin menyentuh buliran air itu langsung namun tidak bisa. Byan ingin membuka pintu kaca besar itu, namun tangan seseorang menghentikan pergerakan tangannya.
"Mau ngapain?" tanya Brian kembali menutup pintu itu dan menguncinya. Dia menatap Byan dengan tatapan kekhawatiran. Brian sadar, selama ini dia sudah banyak melukai gadis ini, namun Byan tidak mungkin melakukan hal bodoh bukan?
Byan tersenyum, dia mengangkat tangannya mengusap wajah Brian lembut. Brian yang di sentuh memejamkan mata menikmati usapan lembut dari tangan istri kecilnya. Mereka berdua terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Byan berjinjit lalu mengecup bibir Brian sekilas. Ya sekilas, Byan kembali menarik diri, dia ingin menarik tangannya namun Brian menahan tangan mungil itu. Dia menarik pinggang ramping Byan lalu mulai mencumbui bibir Byan lembut. Sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Tidak ada paksaan dan tidak ada gairah membara, sepesang sejoli itu seperti sedang mengungkapkan perasaan mereka melalui ciuman yang mereka lakukan. Byan sangat menikmati ini. Namun entah kenapa tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja. Brian yang merasakan bulir air hangat di wajahnya langsung membuka mata dan melepaskan tautan mereka.
"Kenapa? Apa aku menyakitimu lagi?" tanya Brian menangkup wajah kecil istrinya.
Byan menggeleng namun dia tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir, "Om, kalau Byan memberikan apa yang Om mau, boleh tidak Om lepaskan Tante Sisil?"
Pertanyaan menohok dari Byan membuat Brian diam mematung. Dia tidak menjawab, Brian hanya menarik tubuh mungil itu dan memeluknya erat. Entah kenapa Brian merasa jika ini belum waktunya dia melepaskan Sisil. Meskipun dia sudah tidak pernah berhubungan seksual dengan wanita itu, namun Brian terkadang masih membutuhkannya.
__ADS_1
Byan tersenyum getir dalam dekapan suaminya. Sakit? Tentu saja, siapa yang tidak sakit jika melihat suami dan orang yang sangat dia cintai malah menjalin hubungan dengan orang lain dan mereka juga suka melakukan skinshipt. Siapa yang tidak akan menangis jika mengetahui fakta seperti itu. Hanya manusia tak berjantung yang tidak akan bisa merasakannya.
Brian menuntun Byan untuk duduk di tepian ranjang. Dia mengambil susu hangat di atas nakas lalu memberikannya kepada Byan. Laki-laki itu berjongkok sembari memperhatikan Byan yang sedang meminum susunya. Tangannya terulur untuk mengusap noda susu di bibir sang istri lalu menjilatinya.
"Tidurlah, jangan memikirkan hal yang tidak penting, fokus saja pada sekolah mu!" Brian mengusap kepala Byan lembut lalu membatu gadis itu berbaring dan menyelimutinya. Byan memejamkan mata. Sedangkan Brian, laki-laki itu pergi ke meja yang ada di sudut ruangan dan menghidupkan lampu meja. Brian mulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai.
****
"Mereka kenapa Bu?" Tanya Brian kepada Anjani yang sedang menata sarapan di atas meja.
Anjani dan Nugroho tersenyum. "Biasa lah, adik-adik mu mengganggu Byan, mereka bilang kalau Byan itu Genius Bodoh. Entah apa yang mereka maksud Ibu juga tidak mengerti, alhasil Byan kesal dan ya terjadilah aksi kejar-kejaran itu."
Brian mengangguk menanggapi apa yang Anjani katakan.
__ADS_1
"Om Brian! Om sini, bantu Byan pegangin Aldi sama Kak Bima. Cepat Om!"
Brian berteriak dengan suara cemprengnya. Brian menurut. Dia mendekati Bima dan Aldi, namun kedua orang itu malah semakin lincah sampai naik turun sofa dan lemari.
Anjani dan Nugroho tertawa melihat keributan di rumah mereka. Suasana seperti inilah yang selalu mereka inginkan. Rumah yang ramai juga hubungan yang harmonis. Nugroho dan Anjani merasa sangat beruntung memiliki Byan sebagai menantu mereka.
"Semoga Byan akan selalu ceria seperti ini ya Mas."
Nugroho mengangguk. "Itu tugas kita untuk selalu membuatnya bahagia Sayang."
To Be Continued.
Napas dulu Gaes. Tar malem lanjut lagi. Jangan lupa like dan komentarnya biar Author semangat juga ngetiknya. 😘
__ADS_1