
"Kak, kau sudah janji ingin membelikan kami apa yang kami mau. Jangan bohong, kalo bohong kita gak akan pernah mau bantu Kakak lagi."
Brian diam mendengar ocehan Aldi. Dia masih fokus melihat Byan yang sedang berenang. Hari ini akhir pekan. Semua orang berada di rumah. Tak terkecuali Brian. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah setelah dia putus dari Sisil. Hari-hari nya berganti menjadi seperti seorang baby sitter. Menjaga dan merawat Byan seperti sebuah keharusan. Bahkan Aldi, dia sudah mulai berubah. Pernah satu ketika dia meminta Byan untuk mengatakan siapa yang paling Byan suka di antara dia dan Brian, gadis itu dengan lantangnya mengatakan jika dia sangat menyukai dan mencintai Brian.
Sejak saat itu, Aldi mulai pasrah dengan keadaan. Apalagi saat melihat Brian semakin hari semakin perhatian dan semakin memperlakukan Byan dengan baik. Bagi Aldi, selama Brian tidak menyakiti Byan, dia akan tetap berada di balik layar. Mungkin selama ini cinta dia kepada Byan tidak terlalu besar, oleh karena itu dia bisa sangat mudah melepaskan Byan untuk orang yang dia cintai.
"Kak, besok kita sudah mulai ujian lho. rencananya, setelah ujian selesai, kita semua akan pergi liburan ke Bogor. Kakak gak takut Byan di ganggu orang lain?"
Brian langsung menoleh. Dia menatap Aldi dengan tatapan tajam. Jika benar yang Aldi katakan, dia harus mengorek informasi lebih dalam.
"Apa yang kamu inginkan?"
Aldi tersenyum lebar. "Aldi mau ponsel baru. Kalau Kak Bima mau mobil katanya."
Dengan entengnya Aldi meminta barang yang dia dan Bima inginkan. Dia tidak berpikir Brian mampu membelinya atau tidak.
"Aku sudah transfer uang ke rekening mu. Untuk mobil yang Bima mau, Minggu depan mobil itu baru akan datang."
Aldi melompat sembari meninju udara. Dia tertawa lalu pergi ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, dia mengecup Anjani yang sedang berjalan, Anjani menautkan keningnya, dia menggeleng namun tidak mau mengambil pusing, anaknya pasti sedang menang lotre.
"Brian, kenapa tidak mengajak Byan naik, ini sudah jam 9. Byan belum sarapan. Ajaklah dia naik, kamu juga belum sarapan kan, Ibu dan Mbok Jum sudah masak makanan kesukaan kalian. Cepat di makan. Ibu mau pergi arisan dulu."
__ADS_1
Brian mengangguk ke arah Anjani. Dia mengambil sebuah handuk besar lalu berjalan menghampiri istrinya. Laki-laki itu berjongkok menunggu Byan sampai di tepian.
"By, naik yuk! Ibu udah masak, kamu kan belum sarapan."
Byan mengangguk. Dia menerima uluran tangan Brian lalu naik ke permukaan. Dengan sigap Brian menutupi tubuh Byan menggunakan handuk besar lalu menggendongnya menuju kamar mandi di lantai atas.
"Mandinya jangan terlalu lama. Nanti sakit, besok kamu ujian kan."
"Iya Om, tapi hari ini Byan ada janji mau ketemu Kak Haris. Dita bilang, dia suka sama Kak Haris dan mau Byan mempertemukan mereka kembali."
"Kamu udah mau jadi makcomblang, kenapa kamu harus pergi. Kalau memang Dita menyukai Kak Haris, biarkan saja mereka bertemu berdua."
Brian tersenyum sembari menurunkan Byan di bawah shower.
Cup!
Brian mengecup bibir istrinya sekilas. "Aku akan pergi. Sekarang mandilah! Aku akan menyiapkan pakaian untuk mu."
Byan mengangguk dengan wajah yang memerah. Jantungnya berdegup kencang melihat perlakuan Brian yang semakin hari semakin hangat. Yang paling Byan aneh adalah, di rumahnya dia selalu melihat ibunya melayani ayahnya. Tapi di sini, Byan lah yang di layani oleh Brian. Apa ini tidak terbalik.
"Akh, Om Brian ku. Kau benar-benar menggemaskan."
__ADS_1
Brian berbicara sembari menyalakan shower. Brian yang pada saat itu baru akan menutup pintu tersenyum. Segera setelah itu dia menyiapkan pakaian untuk istrinya. Bahkan untuk dalaman pun dia yang memilih. Byan tidak pernah protes dengan apa yang Brian pilihkan untuknya. Asalkan nyaman, Byan akan mengenakannya dengan senang hati.
Cklekkkk!
Byan keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi dan handuk yang melilit rambutnya. Matanya berbinar melihat Brian sedang menata pakaiannya di atas ranjang. Byan berjalan sembari berjinjit mengendap-endap karena ingin mengejutkan suaminya.
"Sudah mandinya!"
Byan merengut. Rencananya gagal. Byan menurunkan pundaknya lesu.
Brukkkkk!
Gadis itu menghambur ke pelukan suaminya. Dia menghirup aroma maskulin yang selalu membuatnya lebih rileks dan merasa sangat nyaman.
"Kenapa cemberut begitu?"
Byan menggeleng. Brian melepaskan handuk di kepala istrinya lalu sedikit menggosok rambut Byan dan menuntun gadis itu untuk duduk di tepian ranjang. Brian mengambil hair dryer dari dalam lemari dan mulai mengeringkan rambut istrinya.
"Om, kenapa sekarang Om baik banget sama Byan? Om tidak merencanakan sesuatu kan? Om gak ada niat untuk buang Byan kan? Atau jangan-jangan Om punya wanita lain lagi, siapa sekarang? Tante girang? Tante Gatel atau Tante Bohai?"
To Be Continued.
__ADS_1