
Brian tersenyum melihat Byan duduk di tepian ranjang dengan bibir yang mengerucut. Gadis itu masih mengenakan pakaian yang tadi. Itu artinya suasana hatinya masih kurang baik.
Brian berjalan masuk ke dalam kamar. Membuka wearpack yang dia kenakan, dia mengambil sebuah celana berbahan katun, dan mengenakan kaos berkerah yang sangat pas di tubuhnya. Setelah selesai dengan pakaiannya, dia kembali memilih pakaian untuk sang istri. Langkahnya terhenti tepat di depan Byan.
"By, ganti dulu pakaiannya yuk, nanti kamu kegerahan, lagipula kita kan harus ke bawah lagi. Ibu sama ayah masih nunggu itu."
Byan bergeming. Dia masih marah. Byan malah memalingkan wajahnya enggan untuk menatap sang suami. Brian tidak habis akal. Dia kembali berdiri di depan Byan, membungkuk lalu membantu gadis itu berdiri dan membuka pakaian luar, serta inner suite yang Byan kenakan. Byan diam, meskipun kini dia hanya mengenakan dalaman, Byan sama sekali tidak merasa terganggu. Dia masih kekeuh dengan bibir mengerucutnya. Hingga ketika Brian selesai memakaikan pakaian untuknya pun, Byan masih diam.
"By, katanya kangen sama Ibu, sama Ayah, kok malah ngambek gini sih?" Brian berbicara dengan Byan di atas pangkuannya. Tangannya menyentuh dagu Byan, menatap gadis itu lekat, lalu memberikan Byan kecupan hangat. Bukan kecupan sih, ini lebih terasa seperti sebuah ciuman panas namun Brian melakukannya dengan sangat lembut.
"Masih marah?" tanya Brian setelah dia melepaskan tautan. Byan hanya menunduk menahan malu, jujur saja dia sudah sangat ingin tersenyum.
"Kalau masih marah aku cium lagi!" Brian mendekatkan kembali bibirnya ke bibir sang istri. Namun gadis itu dengan sigap membekap mulut Brian. Dia menatap Brian dengan wajah yang sudah memerah.
Brian terkekeh. Akhirnya Byan mau merespon dirinya. Hari ini dia tahu bagaimana cara menjinakkan singa betinanya ketika dia sedang merajuk.
"Om, Om sayang kan sama Byan, Om gak akan berpaling dari Byan seperti Ayah kan? Kenapa Ayah lebih memperhatikan Om daripada Byan?" Byan berucap lirih, dia menyandarkan kepalanya di dada Brian, memainkan jari telunjuknya menekan-nekan sesuatu yang lembut namun keras.
Brian menahan tangan Byan. Gadis ini masih tidak tahu jika apa yang dia lakukan bisa membuat singa dalam dirinya terbangun.
"By, dengarkan aku. Ayah tidak berpaling. Dia masih tetap menjadikanmu yang pertama. Ayah tadi hanya menyambut ku agar aku tidak kikuk di sini. Percayalah! Siapapun orang baru yang datang, Ayah dan Ibu masih akan menomor satukan kamu!"
Brian mencubit hidung Byan gemas. Sikap manja Byan membuat Brian selalu ingin menjadi orang pertama yang akan memanjakannya. Memperhatikan Byan, juga membuat mood nya baik menjadi prioritas utamanya saat ini.
"Om, kenapa ada baju Om di lemari Byan?"
"Eumm, kamu gak mungkin ngira kita gak ngelakuin persiapan kan? Sebelum ke sini, aku sudah mengirimkan baju juga semua keperluan kita. Dito juga ada di Bandung. Aku ada beberapa pekerjaan di sini, jadi mungkin kita akan menginap untuk waktu yang agak lama."
__ADS_1
Byan mengangguk. Tangannya dia kalungkan di leher Brian. Mengecup pipi Brian sekilas, lalu kembali membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Byan mau ke bawah, tapi mau di gendong!" Byan merengek dan langsung di anggukki oleh Brian.
****
Sesampainya di bawah, Byan mantap Anandita dengan tatapan horor. Dia mengetuk-ngetukkan sendok ke piring puding cukup keras, Brian tahu istrinya ini sedang kesal. Tidak ingin membuat keributan, Brian mengambil sendok di tangan Byan dan juga piring puding gadis itu.
Kirani dan Adrian memperhatikan gelagat Brian, senyum tipis tersungging di bibir mereka. Melihat betapa perhatiannya Brian kepada Byan, kekhawatiran mereka selama ini menghilang begitu saja.
"Ayah lihat, sepertinya menantu kita sangat mencintai Byan. Ibu tidak harus mengkhawatirkan apapun lagi 'kan?" Kirani berbisik di sebelah Adrian.
"Iya Bu, sepertinya anak kita mendapatkan suami yang baik. Semoga mereka selalu bahagia."
"Aamiin," ucap Kirani tersenyum ke arah Adrian.
Anandita mengangguk dengan mantap. "Ibu sama Ayah udah setuju kalau aku akan menjadi anak mereka. Kenapa? Takut tersaingi? Kamu kan udah ada keluarga baru. Biarin Aku di sini sama mereka ya!"
Byan mendengus. Namun detik berikutnya dia tersenyum. "Boleh, kalau kamu di sini, berarti ibu sama ayah gak akan kesepian lagi. Kamu bawa baju banyak gak? Kalau enggak, kamu pake baju aku aja. Nanti aku ambilin ya!"
Semua orang menatap heran Byan, gadis itu kenapa bisa tiba-tiba berubah pikiran. Tadi dia marah, sekarang malah terlihat senang. Sebenarnya apa yang ada di dalam otaknya.
"Kak Haris, kapan kakak mau nikahin Dita, jangan sampe Kakak ternak kecebong duluan sebelum kalian menikah."
Ukhuuuk! Brian langsung terbatuk karena tersedak air liurnya. Byan ini selalu tidak pernah lihat tempat. Mulutnya ini benar-benar bisa membuat orang sport jantung. Haris terlihat cuek dan memilih untuk tidak perduli.
"Makan pudingnya lagi ya!" Brian menyuapi Byan kembali. Dia merasa kurang nyaman menerima tatapan menerawang dari keluarga Byan.
__ADS_1
"Emang kamu udah punya peternakan kecebong By, sering mengembang biakan kecebong-kecebong itu?" tanya Kirani penasaran.
Byan mengangguk membuat Brian semakin salah tingkah. Dia ingin minum, namun air di dalam gelasnya kosong.
"Biar ayah tuangkan!" ucap Adrian menuangkan air ke gelas Brian. "Tidak apa-apa. Byan memang seperti ini. Dia tidak pernah berbohong."
Brian tersenyum. Dia melirik Byan lalu mengusap paha istrinya yang ada di bawah meja. Byan menoleh dia membalas senyuman Brian dengan wajah imutnya. "Itu benar Om, Byan emang gak pernah bohong."
****
Sore hari, mereka semua pergi ke sebuah taman di dekat rumah Adrian. Di sana ada lapangan basket juga beberapa permainan untuk anak-anak.
Byan, Dita, Haris, Bagas dan Adrian sedang sibuk bermain basket, sedangkan Brian dan Kirani memperhatikan mereka dari kursi taman yang ada di tempat itu.
"Byan adalah anak perempuan kami satu-satunya. Dia sangat berharga, kami sangat menyayanginya."
Brian menoleh ketika mendengar Kirani berbicara dengan suara yang lirih. Jangankan untuk mereka. Untuk Brian saja, gadis itu sudah seperti nyawa. Byan menjadi orang yang paling berharga untuk Brian dan keluarganya.
"Nak!" Kirani menoleh, dia menatap Brian sembari meraih kedua tangan menantunya lembut.
"Ibu tahu, kalian sudah saling mencintai, sekarang Ibu sudah lebih tenang membiarkan dia tinggal bersamamu."
Brian mengangguk, Kirani kembali tersenyum, namun senyumannya berbeda dari senyuman Kirani sebelumnya. Ada penyesalan juga ada luka di sana.
"Ibu ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya ini sudah tidak penting, tetapi karena sekarang kau sudah menjadi suaminya, Ibu rasa kau harus mengetahui ini." Kirani menarik napasnya sebelum dia kembali berbicara.
"Ini mengenai kedua orang tua kandung Byan!"
__ADS_1
To Be Continued.