Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Tukang Gosip


__ADS_3

Brakkkkk!


Navisa dan Tania terperanjat saat Anandita tiba-tiba menggebrak meja di depan mereka. Saat ini, mereka dan pasangan mereka masing-masing sedang ada di apartemen Tania, kang gosip dan kang kompor Anandita masih belum puas membicarakan anak kelinci mereka dan juga pawangnya. Jadi Anandita bersikeras untuk melanjutkan obrolan mereka di apartemen Tania karena mereka tidak mungkin nongkrong di luar saat tengah malam dengan kondisi Tani yang sedang hamil muda.


"Bayi gue kaget Anjir!" ucap Tania menatap horor Anandita.


"Ya elah, masih 4 bulan, masih kek cicak, aman lah." Anandita berbicara dengan entengnya.


"Ada info apa?" tanya Navisa yang sudah tahu akan gelagat Anandita jika sudah seperti ini.


"Lo tahu gak Na, kata Aldi, Om Brian punya bekas gigitan anak kelinci kita sebagai bukti malam pertama mereka."


Uhukkkk


Anandita menyodorkan gelas berisi air pada suaminya tanpa melihatnya sama sekali.


"Terus?"


"Lo gak tahu Nia, tapi Na, Lo masih inget gak pas kita camp car di Bogor?"


"Iya aku inget, terus apa? Jangan di gantung-gantung dong, bikin penasaran aja."


"Lo tahu jeritan wanita malam itu, yang malam pas hujan, malam terakhir kita nginep?"


"Akhhhhhh!"


Navisa menggeplak lengan Rendy. Pria itu meringis, namun Navisa tidak mengetahuinya sama sekali.


"Aku inget. Jadi, maksud kamu, mereka melakukan malam pertama di camp car saat itu? Gigitan itu terjadi di sana kan?"


Anandita mengangguk dengan bangga. Seolah dia sudah berhasil memecahkan kasus yang sangat besar.


"Apa jeritan nya sekeras itu sampai kalian bisa denger?" tanya Tania penasaran. Dia menetap Anandita dan Navisa dengan wajah bodoh, tangannya tidak berhenti memasukkan buah rambutan ke mulutnya, buah itu tentu saja sudah di kupas dan di buang bijinya oleh Dito.


Anggukan dari Navisa dan Anandita membuat Tania ikut mengangguk.


"Belutnya gede banget pasti!"


Uhukkkk

__ADS_1


Kali ini Tania yang menepuk punggung suaminya. Yang tersedak karena ucapnya. Sebuah rambutan menggelinding keluar dari mulut Dito membuat semua orang menatapnya aneh lalu tertawa terbahak-bahak.


Gelak tawa memenuhi ruang apartemen yang tidak terlalu besar itu, mereka semua menikmati obrolan santai yang sebenarnya tidak berbobot, namun karena ini tentang Raja dan Ratu mereka, mereka menjadi sangat bersemangat.


"Kalau kau tersedak buah rambutan itu, rasanya akan sangat lucu."


"Kenapa?" tanya Navisa pada Rendy.


"Ya kali, kalau di bikin sinetron ikan terbang, judulnya pasti kayak gini. MATI KARENA TERSEDAK BUAH RAMBUTAN KETIKA SEDANG MENGGOSIPKAN MALAM PERTAMA MAJIKAN KU!"


Buahahaha ....


Anandita dan semua orang tertawa semakin kencang, bahkan orang yang jadi bahan candaan pun tidak bisa menahan tawa. Andai bayi di dalam perut Tania sudah agak besar, mungkin dia juga sedang tertawa di dalam rahim ibunya.


...----------------...


Semua teman-teman Byan sedang bahagia, namun tidak dengan bumil satu ini, dia malah terlihat sangat sedih, bahkan sesekali dia mengusap linangan air di sudut matanya.


"Sudah, aku gak papa Baby, gigitan ini tidak seberapa, aku ini kuat, lagipula gigitan nya tidak dalam, akan sembuh dalam beberapa hari."


Byan kembali terisak, tangan mungilnya masih cekatan mengobati pundak Brian yang terluka. Dia yang membuat luka itu, namun dia juga yang mengobati, bahkan orang yang menangis bukan yang mengigit melainkan orang yang di gigit.


Brian mengangguk, memejamkan mata ketika hembusan napas hangat menerpa pundaknya. Byan meniup luka yang telah dia beri obat cukup lama, sebenarnya dia merasa sangat bersalah, namun jika di ulang pun, dia akan tetap mengigit bahu suaminya karena dia tidak tahan melihat bahu kekar seperti itu di anggurkan.


"Sudah, aku baik-baik saja. Sekarang kita tidur ya, sudah larut malam, ini sudah waktunya baby twin's bermain."


Byan menurut tat kala Brian membantunya berbaring. Pria itupun ikut berbaring di depan Byan, menatap wajah istrinya lekat sembari mengusap wajah itu lembut.


"Om!"


"Heumm?"


"Udah gol belum ya?"


Brian terpaku. Mencerna pertanyaan istrinya agar tidak salah sasaran. Pertanyaan ambigu yang artinya bercabang ini membuat Brian harus berpikir lebih jeli.


"Kak Adelle Om!"


"Akh, aku pikir apa."

__ADS_1


"Iya, ini sudah jam 1 malam, mereka lagi apa ya? Mungkin Kak Adelle lagi nerkam Kak Bima ya, kasihan banget Kak Bima, kenapa kita gak minta jamu kuat dari Ambu dan Abahnya Tania, kalau Kak Bima di kasih itu, dia pasti tidak akan kalah dari Kak Adelle."


Brian menggelengkan kepalanya. Mencubit hidung istrinya gemas lalu mengecup bibir sang istri sekilas. "Jangan memikirkan apapun, aku jamin,malam ini yang menang adalah Bima, apa kau tidak tahu bagaimana kemampuan ku di atas ranjang?"


Wajah Byan memerah. Dia menangkup kedua pipinya yang terasa sangat panas. Membayangkan Brian di atas ranjang membuat otak kotornya kembali. Brian ini memang handal, bahkan dalam kondisi Byan yang sedang hamil besar pun, dia bisa memuaskan Byan tanpa menyakiti bayi-bayi yang ada di dalam perutnya.


"Apa kau mengerti sekarang?" tanya Brian sedikit menaikan alisnya. Byan mengangguk membuat Brian semakin gemas.


"Sekarang tidur, jangan memikirkan mereka yang sedang sibuk menunggang kuda." Brian merengkuh Byan membenamkan wajah gadis itu di dalam dekapannya.


...----------------...


"Tunggu, sebentar lagi, sebentar lagi aku sampai."


Adelle meremas rambut suaminya kuat, tubuhnya melengkung tat kala puncak kenikmatan itu datang, dia sadar, suaminya juga sudah menumpahkan lahar putih di dalam rahimnya. Tubuh Bima ambruk di atas tubuh sang istri. Sungguh pengalaman yang luar biasa, kenikmatan ini membuat mereka ingin merasakannya lagi dan lagi. Ini sudah ronde ke 2 dan Bima sudah tahu kemampuan wanita yang ada di bawahnya ini seperti apa.


"Kau sangat hebat sayang!" bisik Bima membuat bibir Adelle tertarik ke atas.


Adelle memeluk punggung suaminya, mengecup wajah pria itu beberapa kali sembari memejamkan mata ketika kantuk di matanya sudah tidak bisa dia tahan.


"Apa kau akan tidur sayang?" tanya Bima yang mendapat anggukan dari Adelle.


"Kenapa? Mau ronde ke 3?" tanya Adel sedikit terkekeh.


"Bolehkah?" jawab Bima dengan mata berbinar. Adelle langsung terbelalak, apakah dia tidak salah dengar, suaminya masih belum puas, astaga, harus sampai kapan dia meladeni rasa penasaran Bima, apa karena dia baru pertama kali melakukan hubungan ****, jadi dia masih kecanduan.


"Kali ini kau yang jadi Joki!" ucap Bima membuat semangat Adelle kembali lagi.


"Really?"


"Hmm. Kau mau melakukannya di mana? Di sini? Atau di kamar mandi?"


"Tentu saja di kamar mandi. Jangan menyesal jika burung milik mu patah."


Bima mengangguk mantap. Dia sudah sangat yakin jika dirinya bisa mengimbangi kemampuan Adelle. Bima tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti ini.


To Be Continued.


Hai. Thanks untuk kalian yang masih setia membaca novel ini. Love u Guys. 🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2