Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Switzerland


__ADS_3

Satu setengah tahun yang lalu. Di sebuah bandara internasional di kota itu, sepasang mata terus mengamati pintu kedatangan luar negri. Beberapa kali dia menengok kanan kiri karena takut kecolongan. 3 tahun yang lalu dia kehilangan kesempatan untuk mendekati gadis ini. Namun sekarang, dia tidak akan pernah melakukan kebodohan itu lagi. Dia akan terus berjuang meskipun dia harus melewati jalan terjal berbatu.


"Navisa!"


Pria itu berteriak sembari mengacungkan banner sedang dengan tulisan wellcome my crush. Agak menggelikan, namun Rendy sangat menyukai itu. Dia sangat menyukai Navisa sampai dia tidak memikirkan pendapat orang lain.


Gadis itu membuka kaca mata hitamnya. Dia sedikit menunduk karena malu di lihat banyak orang. Sebenarnya dia memang masih suka berhubungan dengan Rendy melalui telepon. Namun hubungan mereka masih sebatas saling dekat saja karena Navisa masih berusaha untuk mengenal pria itu. Dia tidak mau terburu-buru. Karena Rendy adalah orang pertama yang dekat dengannya. Navisa ingin mengenal Rendy pelan-pelan agar mereka tidak menyesal nantinya.


"Kenapa harus memperlihatkan banner itu. Aku malu Kak."


Randy tidak perduli. Bukannya menjawab, dia malah melompat memeluk Navisa. Jujur, dia sudah hampir gila karena merindukan gadis ini. Rendy sudah beberapa kali meminta untuk menemui Navisa di Paris. Namun Navisa selalu menolaknya dengan berbagai alasan.


"Aku merindukanmu Na. Sangat. 3 tahun ini terasa 30 tahun untuk ku. Aku sangat merindukanmu Na."


Navisa tersenyum. Membalas pelukan dari Rendy. Andai dia bisa jujur kalau dia juga sangat merindukan pria ini. Namun, Navisa masih harus menjaga perasaannya. Dia tidak ingin menjadi lebih dekat karena sekarang status mereka masih belum jelas.


"Aku lelah Kak. Bolehkah kau antar aku pulang sekarang?" Tanya Navisa di samping telinga Rendy yang masih memeluk nya.


"Baiklah Tuan Putri. Aku akan mengantar mu."


Navisa terkekeh melihat Rendi berpose tegak sembari memberikan hormat padanya. Pria itu menyambar koper Navisa, satu tangannya lagi menggenggam tangan Navisa seolah dia takut jika Navisa akan pergi darinya.


"Kau benar-benar baik Kak!"


Kembali ke masa sekarang, di mana 3 pasang sejoli sedang berkumpul di satu meja. Ya, mereka sedang menikmati makan siang. Akhir pekan, tripel date sepertinya tidak buruk. Bahkan latar belakang ke tiga pria yang sudah jelas-jelas berbeda itu di satukan oleh para gadis yang mereka miliki.


"Ekh Dita, Lo ngebayangin gak sih si Bunny lagi apa sekarang? Udah seminggu mereka pergi. Gak ada yang menghubungi kita kan?"


Semua orang terlihat mengangguk. Memang. Setelah Brian dan Byan pergi berbulan madu. Ponsel mereka tidak pernah aktif. Jikapun mereka ada keperluan mendesak, mereka di arahkan untuk menelpon resepsionis resort tempat mereka menginap.


"Gue jamin. Habis pulang bulan madu, si Bunny pasti langsung bunting. Ya kali dia gak bunting-bunting di gempur terus sama Om Brian."


Anandita menggebu menceritakan apa yang mereka pikirkan. Bahkan dia tidak memikirkan Haris yang notabennya adalah kakak dari orang yang sedang mereka bicarakan.


"Ekh keong. Tapi kalau di keluarin di luar bagaimana? Mungkin itu juga yang bikin Byan gak bunting-bunting."


"Uhukkkk!"

__ADS_1


Dito tiba-tiba tersedak minuman saat dia mendengat kalimat di keluarkan di luar. Tania ini benar-benar tidak terkontrol kalau sudah di satukan dengan Anandita.


"Buahahaha!"


Anandita tertawa terbahak-bahak. "Dia memegangi perutnya yang agak sakit karena dia terlalu kencang tertawa. "Kau, kau pasti pembunuh para kecebong kan? Kalian tidak mengembangkan kecebong itu? Ya ampun, kasihan sekali para calon dokter, tentara dan mungkin saja calon presiden."


Dito menunduk dalam. Sungguh dia sangat malu sekarang. Dia memang sudah satu tahun menikah dengan Tania, namun dia masih belum berencana untuk memiliki momongan karena Tania masih sangat muda baginya.


"Jangan dengarkan obrolan mereka," ucap Rendy menutup telinga Navisa dengan kedua tangannya.


"Aku sudah dewasa Kak. Aku mengerti apa yang mereka maksud. Anggep aja ini edukasi."


Rendy melongo mendengar jawaban Navisa. Dia pikir Navisa masih orang yang dulu. Ternyata dia memang sudah lebih dewasa. 3 tahun di Paris tidak mungkin jika tidak mempengaruhinya sama sekali.


"Hahaha. Kau juga sudah dewasa Na. Udah bisa lah bikin adonan bayi!"


Haris menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kata-kata Anandita yang absrud itu. Segera dia menyuapkan potongan cake ukuran besar agar kekasihnya itu berhenti mengoceh.


"Jangan lupa bumbunya yang banyak Na, biar cakep anak Lo. Kalau mau jamu kuat bisa minta sama aku. Banyak stok kok di rumah."


Dito menepuk keningnya pusing. Kenapa pembicaraan mereka malah terus merambat seperti ini.


Semua orang mengangguk mendengar usulan dari Dito. Dia memang benar. Mereka selalu beralih fokus jika raja dan ratu mereka sudah kembali. Seperti seorang maid di sebuah kerajaan, mereka selalu mengutamakan Brian dan Byan.


...----------------...


"Kau suka pemandangan nya Baby? Bukankah ini sangat indah?"


Byan menganggukkan kepala dengan senyum merekah. Byan tidak menyangka jika dia akan di bawa ke tempat menenangkan seperti ini. Alih-alih pusat kota, Byan malah di bawa ke sebuah desa yang pemandangan nya unreal sekali. Ini seperti sebuah lukisan hingga mampu membuat Byan berdebar hanya dengan menghirup udaranya. Switzerland adalah tempat terbaik untuk healing. Termasuk untuk bulan madu. Ini luar biasa indah.


"Om. Bisa gak sih kita lebih lama di sini? Byan mau seminggu lagi sini. Bolehkah?"


Pemandangan Eropa apa memang selalu terlihat indah, bukan hanya di pusat kota, namun di pegunungan seperti ini pun benar-benar sangat luar biasa.


Brian tersenyum. Memutar tubuhnya agar dia bisa melihat sang istri. Saat ini, mereka sedang ada di depan jendela kamar. Menikmati keindahan air terjun juga menikmati masa-masa berdua mereka.


"Kau ingin sebulan lagi pun di sini aku siap Baby. Semakin lama semakin bagus. Aku sangat suka menikmati semua ini dengan mu."

__ADS_1


Byan tersenyum. Mengalungkan tangannya di leher Brian, lalu berjinjit dan mengecup bibir Brian sekilas. Baru akan kembali memisahkan bibir, Brian sudah lebih dulu menarik pinggangnya hingga bibir mereka kembali bertemu.


Lembut, kecupan itu awalnya sangat lembut. Hingga semakin lama ritmenya semakin cepat dan panas. Sangat panas dan memabukkan. Byan selalu seperti ini. Suaminya selalu mendominasi setiap permainan mereka hingga Byan di buat mabuk kepayang dan selalu menginginkan lebih dan lebih. Setiap sentuhan tangan suaminya menjadi candu untuk Byan. Entah kenapa dia menjadi selalu merindukan belaian tangan itu. Menerima sentuhan sensual adalah sebuah keharusan untuk Byan.


Byan memekik tertahan saat Brian menyentuh bokongnya dan mendudukkannya di atas meja. Pemandangan di belakang punggungnya seolah menjadi saksi keromatisan juga cinta yang mereka miliki.


"Aku mencintaimu Om Brian!" Byan bergumam saat Brian mengecupi curuk lehernya. Brian menggeram mendengar ungkapan cinta dari sang istri.


"Say my name Baby!"


Sura serak nan berat itu menggema di telinga Byan seiring dengan menjalarnya tangan pria itu di atas pahanya yang hanya tertutup kaos kebesaran milik suaminya.


"Aku menginginkan mu suamiku. Om Brian, My I ...


"Sure Baby. Aku akan memberikan apa yang kau minta."


.


.


.


.


To Be Continued.


Nah kan di gantung lagi. 😂😂😂🙏


🔥🔥🔥


Jangan lupa like dan Komentarnya Bestie. Thank you. 🤗🤗🤗🤗



Switzerland.


__ADS_1


Ini beda lagi ya. Beda tempat maksudnya. Ini tempat pertama yang mereka kunjungi. Yang di atas itu yang ke 2.


__ADS_2