Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Hujan Rintik-rintik


__ADS_3

Oke aku gak yakin mau bikin part ini. Tapi, kalau gak di bikin kasian si Brian. Nanti si Beto ngamuk. 🤣🤣🤣


Yang gak suka ++ menyingkir aja..Gak usah baca part ini.


.


.


.


Ekh kok jadi deg-degan sih. 🤭🤭


Cuzzz langsung aja.


Brian keluar dari kamar mandi kecil yang ada di camp. Dia masih menggunakan handuk dan sedang menggosok rambutnya yang basah. Entah apa yang sedang orang-orang lakukan di saat hujan deras seperti ini, namun sepertinya mereka memilih untuk tidur.


Brian satu langkah lebih mendekat ke arah ranjang. Perlahan dia mengedarkan pandangannya mencari sosok istri cantiknya yang sendari tadi sudah membuat jantungnya berdegup sangat kencang.


Glekkkk!


Brian terpaku. Dengan susah payah dia menelan saliva melihat pemandangan luar biasa di depannya. Gadis yang dia cari ternyata sedang ingin mengambil sesuatu di atas rak yang ada di dekat pantry mini di dalam camp itu. Dan yang membuat Brian tidak bisa bergerak adalah, tampilan Byan. Gadis itu mengenakan kemeja hitam yang kebesaran yang tentu saja itu milik Brian. Paha putih mulus itu membuat Brian ternganga hingga sulit untuk menutup mulutnya. Dia menggosok lehernya beberapa kali. Jantungnya berdebar tak karuan.


Byan sudah berusaha untuk berjinjit, namun dia masih tidak bisa menggapai apa yang dia butuhkan. Karena kasihan melihat Byan kesulitan seperti itu, Brian mendekati istrinya.


Duk!


Byan sedikit tersentak ketika tubuhnya agak terdorong oleh tubuh orang lain. Dia langsung berbalik. Matanya membola melihat pahatan tubuh di depan wajahnya. Dada yang dulu sempat dia pikir paha ayam kembali terpang-pang di depan matanya.


Gugup? Tentu saja. Desiran aneh mulai dia rasakan. Jantungnya berdegup sangat kencang. Napasnya tertahan. Byan mendongak. Tepat ketika dia melakukan itu, Brian menunduk. Tatapan mereka bertemu. Situasi macam apa ini, kenapa Byan merasa jika dirinya akan di mangsa hewan buas.


"Kau ingin mengambil ini?"


Brian memberikan sebuah gelas kepada istrinya. Byan mengangguk pelan. Gadis itu mengambil gelas dari tangan Brian lalu menuangkan susu hangat yang baru saja dia hangatkan. Gadis itu meneguk susunya gugup. Dia tahu, suaminya masih memperhatikannya.


"Om kenapa melihat- ku,"


Belum sempat Byan menyelesaikan pertanyaannya. Brian sudah memangut bibir itu dan menj ilati sisa-sisa susu di bibir istrinya. Mata Byan terbelalak.

__ADS_1


Set!


Brian menangkap gelas yang hampir saja jatuh dari tangan Byan. "Hati-hati!" bisik Brian di telinga istrinya. Byan meneguk ludahnya gugup. Tidak berbisik saja suara Brian ini sudah sangat menggoda. Apalagi jika di bisiki seperti itu. Bulu Roma Byan merinding.


Hap!


Brian mengangkat tubuh Byan dan mendudukkan gadis itu di atas meja pantry. Mata elangnya menatap mata Byan penuh minat. Byan semakin gugup. Dia mencengkram bahu suaminya erat ketika Brian mulai menciumi bibirnya kembali. Bahkan kali ini bukan hanya bibir, tapi rahang, leher, tulang selangka, tidak ada yang terlewat satu incipun. Brian tidak bisa melewatkan kesempatan ini begitu saja.


Dia harus memiliki gadis ini seutuhnya. Hampir 5 bulan dia berusaha untuk tidak menyentuh istrinya, jadi jangan salahkan Brian jika dia menghabiskan hidangannya dalam satu kali hap malam ini.


Rintik air hujan malam itu semakin membuat kabut gairah pada diri keduanya menebal. Apalagi untuk Byan, ini adalah pengalaman pertama untuknya di obrak-abrik, namun dia tidak melawan. Ada perasaan takut, namun penasaran. Juga sentuhan lembut yang Brian berikan benar-benar membuatnya mendamba.


"Eumh!"


"Om Brian. Jangan bermain di a


sana!"


Mendengar rintihan Byan yang memanggil namanya dengan suara frustasi namun menikmati membuat Brian bergerak semakin lincah. Semua kancing kemeja yang Byan kenakan sudah terbuka. Gadis itu memang tidak mengenakan bra. Jadi sangat mudah baginya untuk berlanjut ke aksi selanjutnya.


Suara de sahan Byan begitu menggoda. Mata sayunya, dia yang mengigit bibir berusaha menahan sesuatu benar-benar terlihat sangat seksih.


Astaga, gadis ini benar-benar sangat polos. Namun entah kenapa Brian sangat menyukainya. Dia semakin bersemangat untuk membuat Byan merasakan kenikmatan yang pastinya belum pernah dia rasakan.


Brian memeluk tubuh istri kecilnya erat. "Keluarkan Sayang! Jangan di tahan, aku akan membantumu!"


Bisikan Brian membuat napas Byan semakin naik turun tidak karuan. Brian benar-benar mampu membuat Byan hilang akal sampai dia merasa ingin berlari namun tidak bisa.


"Om Brian! Byan~~


Byan mendongak sembari mencengkram bahu Brian ketika sesuatu yang sangat aneh terjadi pada dirinya. Kakinya bergetar dan lemas seketika.


Brian tersenyum. Dia memeluk tubuh itu, lalu memangkunya dan menidurkan Byan di atas ranjang. Byan menatap Brian dengan wajah yang memerah. Apa yang tadi sudah dia lakukan, kenapa dia berprilaku seperti itu di depan suaminya.


Byan ingin menyela, namun suaminya sudah kembali menghujaminya dengan kecupan dan juga ciuman-ciuman sensual. Kali ini sentuhan nya sudah naik satu level dari sentuhan yang sebelumnya. Laki-laki ini semakin bersemangat dan semakin gencar menjelajahi peta dunianya.


Brian memperhatikan setiap gerakan dan juga respon yang di tunjukan Byan. Dan ketika dia melihat Byan sudah semakin terbiasa dan nyaman. Brian membuka handuk yang sejak tadi melilit pinggangnya.

__ADS_1


"Sayang, ini akan sedikit sakit, kau bisa gigit bahuku jika tidak bisa menahannya. Percaya padaku. Aku akan membuatmu merasa lebih nyaman setelah ini."


Byan mengangguk. Dia sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Otaknya mengatakan tidak, namun tubuhnya seperti sebuah magnet yang menarik Brian untuk terus menyentuhnya lagi dan lagi.


Sasaran pertama meleset, kedua, Byan mulai merintih, dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. "Om, sakit!" lirih gadis itu di depan bibir Brian.


"Gigit bahuku hmm!"


Byan mengangguk. Brian sedikit mengangkat punggung Byan agar dia tidak kesulitan. Dan dengan gerakan halus namun cepat, Brian berhasil memasuki istrinya yang benar-benar masih gadis itu.


Byan benar-benar menjerit saat itu. Air matanya kembali menetes. Byan mengusap air mata Byan lalu mengecup mata istrinya bergantian. Sesungguhnya bahunya juga teramat sangat nyeri. Namun dia yakin jika Byan lebih kesakitan darinya.


Brian terdiam untuk sesaat. Setelah yakin Byan sudah lebih nyaman. Kegiatan itu kembali berlanjut. Keringat besar membanjiri tubuh mereka. Brian juga merasa sangat gugup, lebih gugup daripada ketika dia sedang mengejar proyek triliunan.


Hampir 30 menit mereka bermain. Pada akhirnya permainan itu pun selesai dengan sekor 2:1 Brian menjatuhkan tubuhnya di samping Byan. Dia merengkuh tubuh istrinya lalu mengecupi wajah istrinya beberapa kali.


"Terima kasih Sayang! Maafkan aku!"


"Heum!" Byan hanya bergumam dengan mata yang terpejam.


Hujan masih terus berlanjut. Berutung lah mobil itu adalah mobil yang sangat besar. Jadi tidak ada istilah mobil bergoyang.


To Be Continued.


"Na, Lo denger sesuatu gak? Kok Gue kayak denger suara orang jerit? Apa jangan-jangan itu dedemit di sini ya?"


Anandita menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuh. "Na, aku mau tidur. Takut Anjir!"


.


.


.


.


Akhirnya Gol juga. 🥴 Kok lemes ya. 🤣🤣

__ADS_1


Udah akh. See you all. Besok kita lanjut lagi. Jangan lupa kembang sama kemenyan nya.


__ADS_2